
"Salah lagi," ucap para anggota Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya masing-masing.
"Woi! Ayuk, masuk atau gue tinggal nih!" Teriak Erlena yang sudah memasuki mobil.
"Iya nona, sebentar tungguin kami huaaaa," teriak balik anggota Erlena.
Para anggota memasuki mobil masing-masing, mereka menuju kearah gubuk nenek si Rangga. Sesampainya di gubuk nenek si Rangga.
"Assalamualaikum, nenek ini Lena telah datang membawa kebahagiaan untuk nenek," ucap Erlena memberi salam sambil tersenyum cerah sebelum memasuki gubuk si nenek Rangga.
"Wa'alaikum salam cucuku sayang...." balas nenek.
"Nenek, Lena mau kasih kejutan nih untuk nenek. Lena yakin pasti nenek bakalan senang dan bahagia," ucap Erlena antusias.
"Apa tuh cu, yang bisa membuat nenek senang dan bahagia?" tanya nenek penasaran.
"Tetapi nenek harus balik badan dahulu. Jangan lihat kearah Erlena sebelum Lena kasih apa-apa buat nenek balik okay? Ayuk cepatan nek," titah Erlena sambil tersenyum manis.
"Baiklah cu, nenek hanya bisa pasrah," patuh nenek sambil membalikkan badannya kebelakang.
"Lena hitung ya, sampai hitungan ketiga nenek langsung balik badan oke?" ucap Erlena memberi arahan.
"Satu.... Dua.....Ti.....Ga......." Ucap Erlena.
Nenek langsung membalikkan badannya dan membuka matanya.
Kaget, bahagia, senang, terharu, semua yang di rasakan nenek benar-benar tercampur aduk. Sampai-sampai rasanya dirinya ingin berteriak.
Itulah yang di rasakan oleh nenek si Rangga, dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Ra...ngga..." Ucap nenek lirih sambil menatap sayu kearah Rangga yang ada di tangan Erlena.
"Cucu ku....." teriak nenek sambil berjalan cepat menuju kearah cucunya.
"Terima kasih cu, dimana kamu menemukan Rangga dan bagaimana bisa kau dengan cepat menemukan keberadaan si Rangga?" tanya nenek penasaran.
"Sama-sama nek, saya menemukan Rangga di dekat hutan nek," jawab Erlena singkat.
__ADS_1
"Owh, Astagfirullah bagaimana bisa kamu si Rangga ada di sana!" Teriak nenek yang membuat semua orang yang ada di dalam gubuk merasa kaget.
"Ada apa nek?" tanya Erlena sambil mengelus-elus dadanya.
"Nenek lupa membuatkan minuman untuk kalian, bentar ya..." jawab nenek sambil menyerahkan Rangga kepada Erlena.
"Nggak usah nek..." Ucap Erlena sambil menahan tangan nya nenek yang hendak pergi.
"Maaf ya cu, jadi mau di buatin apa? Nenek jadi nggak enak kalau nggak kasih apa-apa untuk tamu?" tanya nenek sambil duduk di sebelah Erlena.
"Ada yang ingin kami bicarakan nek," Kevin menyambar.
"Gue yang di tanya, malah dia yang jawab huh, dasar anak pungut," dengus Erlena sambil menatap sebal kearah Kevin.
"Gue bukan anak pungut, elu kali yang anak pungut yang dari tong sampah," ucap Kevin sambil mendelikkan matanya.
"Sorry gue anaknya mami dan papi gue wlek, dasar anak setan," sindir Erlena sambil memeletkan lidahnya.
"Bomat!" Umpat Kevin.
"Berani lu? Sama gue atau gue potong gaji lu mau hah?" tantang Erlena sambil mengacak pinggangnya.
"Jadi gini nek, nenek mau tinggal di tempat markas kami? Rangga juga ikut tinggal di tempat kami kok?" tanya Erlena sambil menatap wajah tampan di Rangga.
"Emang boleh cu, apa kah tidak merepotkan kalian? Nenek jadi nggak enak sama kalian?" tanya nenek khawatir.
"Bolehlah nek, kalau nggak boleh. Lena nggak bakal ajak nenek ke markas Lena ha-ha-ha..." jawab Erlena yang di akhiri tawanya.
"He-he-he," cengir nenek.
"Ohh iya, nenek jangan manggil Lena cucu .Panggil saja Lena biar enak di dengar. Karena kalau di panggil cucu atau cu, kayak apa yak? Ah intinya kayak gitulah nek," ucap Erlena.
"Oke Lena," jawab nenek sambil tersenyum lebar.
"Yuk nek, kita berangkat sekarang," ajak Erlena sambil menggendong Rangga yang masih tidur.
"Loh sekarang Len?" tanya nenek bingung.
__ADS_1
"Nggak nek tahun depan atau empat tahun lagi," jawab Erlena greget.
"Oh, tahun depan. Terus mengapa Lena ngajaknya sekarang? Kan masih lama atuh," balas nenek sambil mangut-mangut.
"Sekarang nenek....." Ucap Erlena penuh penekanan.
"He-he-he oke Len," ucap nenek sambil menggaruk tengkuk lehernya padahal dia tidak merasakan gatal.
Para anggota Erlena tertawa karena melihat wajah Erlena yang hidungnya mengempis dengan pipi yang sedikit merah karena menahan amarah.
"Bentar nenek ambil baju-baju nenek dahulu," pamit nenek sambil berdiri menuju kearah kamarnya.
"Vin, kasih tahu sama nenek cepatan," titah Erlena malas.
"Nenek tidak perlu membawa barang apa pun yang ada di sini Nenek cuman bawa diri saja, nanti untuk pakaian kita bisa membelinya," ucap Kevin sambil tersenyum manis kearah nenek.
"Nggak merepotkan sama sekalikan?" tanya nenek ketakutan karena melihat wajah datarnya si Erlena.
"Nggak, Ayuk ah buruan kasihan nih anak gue," ajak Erlena sambil mengayun-ayunkan si Rangga.
"Ehek.." Geli si Rangga saat bibir Erlena mengendus-endus ke lehernya.
"Ha-ha-ha.." tawa si Erlena.
Erlena langsung meninggalkan mereka yang masih menatap dirinya bingung.
"Itu nona Erlena kan?" tanya salah satu anggota lirih.
Tetapi suara anggotanya masih terdengar oleh semua orang.
"Iya, itu nona kalian. Sudahlah Ayuk kita pergi dari sini," ajak Kevin sambil menggandeng tangannya nenek.
Erlena sudah memasuki mobilnya, yang masih mendekap tubuhnya si Rangga.
"Len, lu yakin bawa neneknya si Rangga ke markas atau lu sudah memikirkan sebelumnya?" tanya Kevin ragu-ragu.
"Yakinlah, dia sudah gue anggap nenek gue sendiri," jawab Erlena singkat.
__ADS_1
"Oke," balas Kevin sambil menjalankan mobil nya menuju kearah markas.