
"Ternyata elu!" Sarkas Erlena sambil menunjuk seseorang dengan jari telunjuk-Nya.
"Iya ini gue! Mengapa, terkejut lu?" tanya seseorang yang masih belum di ketahui nama-Nya.
"Lu nakutin gue tahu nggak, gue takut bukan main cuy!" Bentak Erlena dengan air mata mengalir.
"Sorry, gue cuman mau kasih kejutan sama lu doang Len. Karena kita sudah lama tidak bertemu," ucap Vino lirih dan hampir saja vino air mata-Nya turun tetapi dengan cepat Vino langsung mengusap-Nya.
"Iya gue tahu, tetapi mengapa lu kayak gitu? Lu bikin gue takut dan jantungan tahu nggak hiks..." Balas Erlena yang di akhiri dengan tawa-Nya.
Bruk.
Erlena pun jatuh pingsan.
Papi Erlena dan Vino sama-sama terkejut saat melihat Erlena jatuh pingsan dengan air mata yang masih mengalir di pipi-Nya.
"Lena!" teriak papi Erlena terkejut.
"Lena!" teriak Vino langsung menggendong ala bridal style.
"Om! Tolong bukain pintu-Nya dong cepat!" titah Vino dengan nada cepat.
"I...Ya..." patuh papi Erlena langsung membuka pintu-Nya.
Vino yang menggendong Erlena ala bridal style dengan berlari dengan sangat cepat, tanpa memperdulikan orang-orang yang melihat-Nya sedang menangis.
"Tahan Len, maafin gue. Gue tahu gue salah menkuti-nakuti elu. Seharus-Nya gue nggak melakukan yang seharus-Nya tidak gue lakukan," ucap Vino menyesal di dalam hati-Nya, Vino Merutuki apa yang dia lakukan tidak sesuai ekspektasi.
Sesampai di tempat yang banyak-Nya sofa.
Vino membaringkan tubuh Erlena di sofa, lalu segera menelpon dokter pribadi-Nya.
Di dalam telepon Vino dengan dokter pribadi-Nya.
"Halo!" panggil vino dengan napas yang masih terengah-engah.
"Halo, ada apa Vin, kok kayak-Nya lu lagi panik?" tanya dokter pribadi yang masih belum di ketahui nama-Nya.
"Lu datang ke sini deh cepat, alamat-Nya di vila xxxx,"jawab Vino cepat dengan tangan yang menggenggam erat tangan-Nya Erlena.
"Loh mengapa? Gue ini lagi sibuk tahu nggak. Gue banyak urusan sumpah!" tolak dokter pribadi yang masih belum di ketahui nama-Nya.
__ADS_1
"Tetapi gue juga nggak ******. Gue cuman mau lu datang ke sini dengan secepat mungkin. Karena ini juga lu nolongin nyawa orang Ken," ucap Vino dengan napas yang memburu.
"Gue juga di sini menjadi dokter juga nolongin nyawa. Masak lu nggak tahu pekerjaan gue lebih banyak. Lu bisa kan panggil salah satu dokter yang paling terbaik di sini. Kenapa jadi gue terus sih hah," balas Kenzo dengan kasar.
"Cepat! Kenzo Bramastyo datang ke sini titik nggak pakai koma," ucap Vino dengan mata yang memerah.
"Iya seterah lu. Kali ini gue nurut sama elu," patuh dokter pribadi yang sudah di ketahui nama-Nya yaitu Kenzo Bramastyo.
Vino pun langsung mematikan telepon-Nya secara sepihak.
OFF.
KENZO POV.
Terdapat seseorang yang tengah duduk di sebuah sofa yang panjang dengan pakaian jas dokter-Nya di dalam rumah sakit. Sosok tersebut adalah Kenzo Bramastyo.
Dia lah yang di telepon oleh Vino untuk menolong seseorang atas suruhan Vino. Yang belum Kenzo ketahui seseorang tersebut itu siapa.
"Sialan tuh anak, kalau bukan gue anggap adik angkat kedua sudah gue lempar ke sungai Amazon. Segala kata-kata-Nya pakai nuntut lagi!" gerutu Kenzo sambil mengusap wajah-Nya dengan kasar.
"Ekh, tetapi mengapa hati gue agak sesak ya, aneh banget ya? Akh bodo lah. Paling juga hilang sendiri!" Gumam Kenzo sambil mengacak-ngacak rambut-Nya.
"Sudah lah, lebih baik gue berangkat sekarang saja," ucap Kenzo sambil menghela napas panjang-Nya
Mami Erlena turun dari tangga, sesampai di bawah
"Hoammm, ada apa sih ini ribut-ribut hah?" tanya mami Erlena yang masih mengantuk dan belum sadar jika anak kesayangan-Nya pingsan.
Semua teman-teman Erlena pun turun dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Ada apa sih ini, kok ribut?" tanya Zanna sambil mengucek-ngucek mata-Nya.
"Iya, maka masih ngantuk lagi nih mata!" dengus Zayn.
"Eum maaf tan, Erlena-Nya sekarang lagi pingsan," jawab vino dan papi Erlena lirih dengan kepala yang menunduk menatap ke arah lantai.
"Oh, cuman pingsan doang kok," balas mami Erlena sambil menguap.
"Apa anakku pingsan, astagfirullah kok bisa. Apa yang telah kalian lakukan kepada anakku!" teriak mami Erlena langsung tersadar dengan cepat dia berlari menuju ke arah Erlena.
Teman-teman Erlena terkejut mendengar teriakan mami-N Erlena.
__ADS_1
"What! Lena pingsan bor!" teriak mereka langsung berlari menuju ke arah Erlena.
"Kok Lena bisa pingsan sih, bagaimana cerita-Nya?" tanya mami Erlena khawatir.
"Maafkan kami mi, tadi kami yang membuat Lena kaget dan akhir-Nya jatuh pingsan," jawab papi Erlena menyesal dengan perbuatan-Nya.
"Iya tan, maafkan Vino juga. Vino salah," jawab vino menyesal.
"Apa kalian mematikan lampu di kamar-Nya Lena tadi?" tanya mami Erlena tepat sasaran.
"Iya mi, tan," jawab papi Erlena dan Vino lirih.
"Astagafirullah! Panggil cepat dokter-Nya. Apa lagi kamu, kamu sengaja bikin anakmu tuh pingsan atau lupa atau pura-pura lupa hah!" titah mami Erlena kalut dengan tatapan marah bak pisau.
"Sudah tan, bentar lagi dokter-Nya datang ke sini. Tadi Vino sudah telepon dokter-Nya, kata-Nya sebentar lagi," ucap Vino yang masih menggenggam tangan-Nya Erlena dengan erat.
Melvino yang melihat tingkah laku-Nya Vino sontak rahang leher-Nya mengeras, dia merasa tidak rela jika Erlena di sentuh oleh lelaki di samping Erlena itu apa lagi orang yang tidak dia kenal sama sekali.
"Permisi, selamat malam. Mohon maaf menganggu waktu kalian!" ucap Kenzo memberi salam.
"Malam juga dok, dokter tidak menganggu waktu kami kok!" jawab mereka semua.
"Siapa sih Vin, yang sakit sampai lu khawatir sebegitu-Nya?" tanya Kenzo yang sedang membuka alat dan obat di dalam tas-Nya.
"Erlena," jawab Vino singkat.
"Hah? Erlena?" tanya Kenzo di dalam hati-Nya.
Kenzo langsung melihat ke depan, untuk memastikan bahwa Erlena itu adik angkat-Nya atau bukan. Saat melihat seseorang yang pingsan baring di sofa itu, sontak kaget bukan main. Ternyata memang benar dia adalah adik angkatnya yaitu Erlena adik kesayangan-Nya.
"Sayang!" teriak Kenzo khawatir langsung memeriksa keadaan Erlena.
"Apa gue nggak salah dengar? Orang itu memanggil Lena sayang!? Sial, awas saja!" jerit Melvino di dalam hati dengan tangan yang mengepal.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya mami Erlena khawatir.
"Huft..." ucap Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jadi Erle..." sambung Kenzo tetapi ada orang yang memotong ucapan-Nya.
"Dokter bukan-Nya kepala sekolah kita ya?" tanya Amanda polos.
__ADS_1
Semua orang langsung menepuk dahi mereka masing-masing.
"Ya," jawab Kenzo dingin dengan mata tajam-Nya.