
Erlena pun memasuki kamar-Nya santai dengan rambut yang berantakan. Erlena tidak menyadari bahwa di bawah masih ada mereka, mereka semua belum pulang kerumah masing-masing. Karena mereka penasaran dengan Erlena.
"Len, sini kamu duduk di sebelah papi. Jangan jauh-jauh dari papi," ucap papi Erlena sambil menepuk sofa di sebelah-Nya.
"Dih, nggak mau jauh-jauh dari Lena ya? Rindu lu pi? Ha-ha-ha," jawab Erlena yang di akhiri dengan tawa-Nya.
"Siapa bilang kalau papi rindu sama kamu? Kan papi suruh jangan jauh-jauh dari papi duduk di dekat papi saja," balas papi Erlena sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.
"Hm," deham Erlena malas.
Ketika Erlena duduk di sebelah papi-Nya, alangkah terkejut-Nya bahwa ternyata masih ada teman-teman-Nya di sini.
"Loh! Kok ada kalian, emang-Nya kalian belum pulang atau nggak mau pulang sih?" tanya Erlena dengan mata membulat.
"Kita di suruh di sini terlebih dahulu, karena kata om ada yang mau di omongkan. Jadi belum pulang gitu deh," jawab Devina mewakili semua-Nya.
"Eum, seperti itu toh...." ucap Erlena sambil menganggukkan kepala-Nya.
"Apa yang mau papi omongkan? Emang ada hal yang penting gitu?" tanya Erlena dingin dengan mata yang memerah karena mengantuk.
"Mengapa mata kamu memerah Len? Kamu habis nangis atau apa?" tanya mami Erlena terkejut.
"Ngantuk berat mami," jawab Erlena singkat.
"Cepat pi! buruan," ucap Erlena sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu mempunyai sopir pribadi?" tanya papi Erlena yang ingin anak nya jujur.
"Entah lah aku lupa, inti nya aku cuman tolongin mereka saja. Dari pada dia nganggur yowes, Lena jadikan sopir pribadi. Ekhhh dianya mau," ungkap Erlena santai yang masih memejamkan matanya.
"Owh," balas papi Erlena.
"Nah kalian kan temannya anak om kan?" tanya papi Erlena.
"Iya om," jawab mereka serentak kecuali Melvino hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalian nginap di sini saja sementara. Harinya sudah gelap gulita. Bahaya jika kalian pulang kerumah, karena sudah sepi di luaran sana," ucap papi Erlena penuh perhatian.
"Baik. Om terima kasih atas tumpangannya," ucap Zaky.
"Sama-sama," jawab papi Erlena.
"Humm, iya-iya," patuh Erlena pasrah.
"Buruan, gue ngantuk," sambung Erlena sambil berjalan tertatih-tatih dan menunjukkan tempat kamar mereka.
Setelah selesai mengantarkan mereka semua, kini tersisa kamar Melvino.
"Tuh, kamar Elvin," ucap Erlena yang hendak pergi, tetapi di panggil oleh Melvino.
"Thanks," ucap Melvino singkat.
__ADS_1
"Humm," balas Erlena malas.
"Coba sini," ucap Melvino kepada Erlena.
"Siapa?" tanya Erlena singkat sekaligus bingung.
"Ya, elu lah. Masa genderowo!" Ucap Melvino ngegas.
"Santai bro. Jangan ngegas, kan Elvin lagi nggak bawa motor he-he-he," ledek Erlena yang mulai berkurang rasa ngantuknya.
"Hah! Seterah elu! Sini!" titah Melvino tegas.
Erlena pun menuruti kemauan Melvino, sambil berjalan mendekati Melvino.
"Apa?" tanya Erlena sambil mendongakkan kepalanya keatas agar bisa melihat wajah tampannya Melvino.
"Gemas!" Jawab Melvino sambil mencubit pipinya Erlena dengan keadaan yang masih sadar.
"Ih! Elvin nyubit Lena? Sakit tahu!" Sungut Erlena dengan bibir yang mengerucut.
"Ha-ha-ha, sini gue obatin," balas Melvino langsung mencium pipinya Erlena lalu menjauhkan wajahnya, karena hatinya tiba-tiba tidak karuan.
"Ihh di cium sama Elvin? Wow aku nggak nyangka. Apakah ini mimpi? Jika mimpi jangan bangunin aku ya. Aku lagi sama pangeranku," ucap Erlena sambil mengusap pipinya dan tersenyum lebar.
"Polos! Tetapi guebsuka!" Ucap Melvino di dalam hati sambil menahan tawanya agar tidak ketahuan.
__ADS_1
"Ini bukan mimpi, Len. Ini nyata," ucap Melvino sambil memegang pipinya Erlena yang terasa halus tanpa polesan make up.
"Lihat? Wajahmu terlalu polos dan kamu tidak memakai make up. Jarang sekali cewek yang nggak bermake up," ungkapan kagum Melvino