Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 25


__ADS_3

"Nak!" teriak ibu yang masih belum di ketahui namanya.


"Aduh, mengapa perih?" tanya Erlena meringis di dalam hatinya.


"Kak, nggak apa-apa?" tanya Briyan dengan mata yang hendak menangis.


"Nggak apa-apa sayang, sudah jangan nangis dong. Nanti gantengnya hilang loh mau?" goda Erlena agar Briyan tidak menangis, walaupun telapak kakinya terasa sakit dan perih.


"Maafkan tante ya nak, karena kamu nolongin tante kamu jadi terluka," ucap ibu menyesal.


"Nggak apa-apa kok Tante, kan sesama manusia harus saling tolong menolong," ucap Erlena sambil tersenyum tipis.


"Kakak kita pulang saja yuk, gerah nih!" ajak Briyan sambil menekankan kata gerah dan menatap sinis ibu di depannya yang membuat kakaknya terluka.


"Heh..... Nggak boleh natap sinis gitu dong ke ibunya!" bentak Erlena dengan tatapan tajam seperti leser.


"Hiks..hiks... kakak bentak aku hiks..." tangis Briyan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Eh, maaf... Kakak nggak sengaja sayang," ucap Erlena menyesal lalu mencoba untuk berdiri untuk mendekati Briyan.


"Hiks...hiks.." tangisan Briyan mulai mereda saat di peluk oleh Erlena.


"Nak, sini tante obatin dahulu," bujuk ibu sedih.


"Tidak usah tante, terima kasih. Saya mau pulang dahulu sama adik saya," pamit Erlena dengan kaki yang tertatih-tatih.

__ADS_1


Saat Erlena dan Briyan hendak pergi, ibu yang di tolong Erlena langsung menarik lengan Erlena.


"Ada apa, ya tan?" tanya Erlena sambil menaikan sebelah alisnya.


"Nama kamu, siapa nak?" tanya balik ibu tadi.


"Ohh.... Nama saya Erlena," Jawab Erlena santai.


"Ha? Kok namanya sama, dengan anak saya ceritakan ya?" tanya ibu penasaran.


"Ha? Masa sih tan? Paling cuman kebetulan doang," jawab Erlena.


"Tante tanya boleh ya?" tanya ibu sedikit memaksa.


"Silakan," jawab Erlena singkat.


"Erlena Ive Sara," jawab Erlena sambil menatap ke arah ibu yang ada di depannya.


"Nah kan! Kamu toh yang namanya Erlena!" seru ibu.


"Ihh ada apa sih tante, malu tuh di liatin olang," ucap Briyan sambil memutarkan kedua bola matanya malas.


"He-he-he, sorry nak," sahut ibu sambil cengengesan.


"Ada apa, dengan nama saya Bu?" tanya Erlena

__ADS_1


"Kamu kenal Adelia kan?" tanya balik ibu.


"Iya," jawab Erlena singkat.


"Nah dia yang ceritain kamu, katanya kamu cewe polos. Ternyata emang bener," ucap ibu dengan mata berbinar.


"Oh, he-he-he nggak juga kok tan, ehh tan saya pamit dahulu ya, mau antar adik saya," pamit Erlena lalu meraih tangan ibu tersebut untuk menyalim.


"Iya. nak," ucap ibu.


"Sopan sekali anak itu, sudah jarang sekali ada anak gadis seperti dia," ucap ibu tersenyum di dalam hati.


Setelah Erlena mengantarkan Briyan ke panti asuhan langsung saja Erlena pergi ke cafe xxxx.


"Loh, ini kan cafe gue?" tanya Erlena di dalam hati.


Erlena melihat ke arah ponselnya lagi agar mapsnya tidak salah, setelah dua kali dia memeriksa memang benar yang dia datangi adalah cafenya.


DI DALAM TELEPON ERLENA DAN AMANDA.


"Halo, Lu di meja ke berapa?" tanya Erlena sambil melirik ke sana ke mari.


"Di meja atas nomor 23," jawab Amanda.


"Oke, tunggu 5 menit lagi gue datang," ucap Erlena.

__ADS_1


"Loh mengapa lama Len? Kan nggak sampe satu menit sudah datang!" seru Amanda heran tidak biasanya Erlena bisa telat apalagi ada pujaan hatinya.


"Nanti, gue kasih tahu," ucap Erlena sambil mematikan teleponnya secara sepihak.


__ADS_2