
DI DALAM TELEPON ERLENA DENGAN BIMO...
"Halo Bimo," sapa Erlena lembut.
"Halo, Len ada perlu apa? Tumben banget lu telepon gue?" tanya Bimo di seberang sana sambil menaikkan sebelah alis-Nya.
"Lu kok jarang kelihatan akhir-akhir ini, di sekolah pun lu sudah nggak pernah masuk? Gue nyariin elu kemana-mana, tetapi nggak bertemu? Emang lu tuh kemana saja sih?" tanya Erlena pura-pura merajuk.
"Iya nih Len, gue ada banyak urusan yang harus gue selesaikan saat ini. Cie nyariin gue, rindu lu ya sama gue?" tanya Bimo sambil menggoda Erlena.
Erlena yang mendengar pertanyaan Bimo, merasa mual dan sambil menatap ke arah anggota-Nya dengan bergidik ngeri. Para anggota-Nya Erlena menahan tawa-Nya agar tidak ketahuan oleh si Bimo.
"Nggaklah. Eh to the point saja ya, gue mau ketemuan sama lu boleh nggak, lu mau nggak ketemuan sama gue? Kalau nggak mau bilang saja nggak apa-apa kok?" tanya Erlena was-was.
"Eum, boleh saja si. Masak nggak boleh untuk si tuan putri yang sangat cantik jelita. Cuman lu bisa nunggu gue sekitar satu jam lagi nggak karena gue lagi di luar sama orang penting?" tanya Bimo negosiasi.
"Oke deh. Tidak apa-apa kok, gue tunggu di belakang taman yang tersembunyi itu loh, lo tahu kan? Biar nggak ketahuan sama orang lain karena gue mau ngomong yang sangat penting bagi gue dan mungkin menurut lu juga bakalan penting..." sahut Erlena antusias.
"Ngapain di tempat sepi? Lu mau ngelakuin itu sama gue? Menurut lu penting? Bagi gue apa yang bersangkutan dengan elu gue anggap itu semua adalah penting, ya kan. Romantis kan gue nih orang-Nya?" tanya Bimo yang menurut Erlena terkesan ambigu.
"Ya, nggak apa-apa lah, sudahlah lu nurut saja. Iya lu emang romantis banget jadi cowok, idaman banget deh!" Ucap Erlena sambil menekankan kata-kata-Nya yang di akhiri dengan menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Iya deh, kanjeng ratu siap. Gue mah sellau nurut sama elu karena lu pujaan hati gue" patuh Bimo pasrah yang di akhiri dengan senyuman miring-Nya.
"Hm, seterah elu mau ngomong apaan. Pujaan hati? Jangan deh, lebih baik lu mundur karena gue sedang mencintai orang lain ha-ha-ha," ucap Erlena yang di akhiri dengan tawa garing-Nya.
"Cih, masih ngarepin orang yang nggak mengharapkan diri lu sendiri. Mendingan sama gue yang bakalan bahagian lu lahir dan batin," sanggah Bimo sambil tersenyum tipis.
"Biarin saja, bodo amat. Kayak orang mau nikah saja. Gila kali ucapan lu tuh, nggak ngotak," bantah Erlena dengan wajah yang jijik.
"Ha-ha-ha," terdengar gelak tawa-Nya si Bimo.
Erlena langsung mematikan teleponnya secara sepihak, sebelum mendengar protesan dari Bimo.
OFF.
"Berhasil!" Seru Erlena girang.
"Alhamdulillah..." sahut mereka semua serentak.
"Kita harus segera ke taman terlebih dahulu. Nanti dia datang satu jam lagi," ucap Erlena sambil mendekat kearah anggotanya.
"Siap laksanakan Queen," seru mereka semua serentak.
__ADS_1
"Hustt! Jangan manggil gue Queen, panggil gue nona saja. Takut nanti ketahuan," tegur Erlena sambil melirik kesana kemari.
"He-he-he, maaf nona, kami terlalu bersemangat," ucap salah satu anggota Erlena.
"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi lagi. Yuk kita pergi dari sini," sahut Erlena sambil memasuki mobilnya.
Mereka telah sampai di belakang taman, para anggota Erlena sudah bersembunyi sebelum Bimo datang. Mereka telah membuat camera tersembunyi.
Datanglah si Bimo dengan pakaian serba hitam dan masker hitam.
"Hai, sayang," sapa Bimo sambil menatap nakal kearah Erlena.
"Hm, nggak usah manggil gue sayang kali! Erlena!" Ucap Erlena sambil menekankan kata-kata-Nya.
"Eh, selama ini elu dimana saja sih?" tanya Erlena penasaran.
"Gue selama ini... sudah berhenti sekolah," jawab Bimo gugup.
"Mengapa?" tanya Erlena sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ya nggak apa-apa, cuman malas saja," jawab Bimo santai.
"Eh lu suka anak-anak nggak?" tanya Erlena.
"Lu mau nyulik anak kecil nggak?" tanya Erlena berbohong.
"Mau!" Jawab Bimo antusias.
"Okelah, lu punya tempat peculikan anak nggak?" tanya Erlena sambil tersenyum miring.
"Masuk perangkap bor!" Jerit Erlena di dalam hati.
"Ada, besok gue jemput lu di sekolah mau nggak?" ajak Bimo sambil tersenyum lebar.
"Boleh!" Jawab Erlena pura-pura antusias.
"Ya sudah, gue pergi dahulu ya.Sampai jumpa kawan!" Seru Bimo sambil memakai maskernya kembali lalu pergi dari kawasan tersebut.
"Woi!" Teriak Erlena.
"Iya non," sahut mereka semua.
"Sudah kalian rekamkan?" tanya Erlena.
__ADS_1
"Sudah nona," jawab salah satu anggota Erlena.
"Sudah ada bukti satu, kita tinggal tunggu besok," ucap Erlena memberi tahu kepada Erlena.
"Kalian harus sudah di sekolah sebelum Bimo jemput gue dan tugas kalian ikutin kami nanti sampai di sana. Jangan sampai ketahuan ingat!" Peringat Erlena.
"Baik nona," patuh mereka semua.
"Kita pulang sekarang," ajak Erlena meninggalkan kawasan tersebut.
......................
"Assalamualaikum mami papi," ucap Erlena memberi salam saat memasuki rumahnya.
"Wa'alaikum salam nak," sahut ke dua orang tua Erlena.
"Papi, besok tolong antarin Erlena ke sekolah ya? Sudah lama loh, papi nggak antarin Lena," ucap Erlena dengan pupy eyesnya.
"Tumben anak papi memohon seperti ini?" tanya papi Erlena dengan mata yang menyelidik.
"Ya nggak apa-apalah, emang papi nggak mau?Kalau nggak mau ya sudah nggak apa-apa!" Pungkas Erlena pura-pura merajuk.
"Mau, ya sudah besok papi antarin Kamu," sahut papi Erlena.
......................
KEESOKAN HARINYA.....
"Papi cepat, jangan manja dahulu sama mami terus. Nanti lena terlambat nih," teriak Erlena.
"Sudah ya mi, papi pergi dahulu. Nanti kita lanjut lagi," pamit papi Erlena sambil mencium kening mami Erlena mesra.
"Iya..." jawab mami Erlena pasrah dengan kelakuan suaminya itu.
"Alah Len, papimu juga donatur di sana, jadi nggak apa-apa dong sesekali terlambat," sungut mami Erlena sambil menatap anaknya yang masih mengikat tali sepatunya.
Selesai Erlena mengikat tali sepatunya langsung berdiri dari sofa dan menatap tajam kearah maminya.
"Biar pun papi adalah donatur di sekolah, namanya peraturan ya tetap peraturan! Rumus darimana anak donatur boleh terlambat ke sekolah? Lena bukan seperti yang mami bayangkan," sindir Erlena sambil tersenyum miring.
Mami Erlena terdiam dan merasa malu dengan ucapannya tadi. Dia terus Merutuki kesalahannya, benar kata anaknya tidak seharusnya kita bisa seenaknya. Walaupun kita adalah anak donatur sekolah.
"Lena pamit ke sekolah assalamualaikum," pamit Erlena tanpa Salim kepada mami Erlena. Karena hatinya masih dongkol dengan ucapan maminya.
__ADS_1