
Melvino terus menatap mobil nya Erlena hingga jauh dari kawasan kampus nya, dengan tatap an kosong dan hati yang terasa sesak.
"Vin, yuk pulang." Ajak Raja yang tidak tega dengan Melvino yang terus menatap kosong kearah pintu gerbang kampus.
Melvino tidak menghiraukan ajakan si Raja, dia langsung meninggalkan ke tiga sahabat nya dan menuju ke tempat di mana motor nya dia parkir. Melvino langsung melajukan motor nya menuju kerumah nya.
Melvino melakukan motor nya menuju kearah rumah nya. Rumah Melvino bukan seperti mansion - mansion yang kalian kira, akan tetapi, rumah nya bertingkat 2 saja, seperti rumah elastis.
......................
"Assalamualaikum, mami dan papi. Erlena datang dengan keadaan sehat tanpa goresan luka sedikit pun." Teriak Erlena memberi salam sebelum memasuki rumah nya.
"Wa'alaikum salam, berisik tahu nggak. Sudah mami bilangin jangan suka teriak - teriak Lena!" Ucap mami Erlena dengan nada sedikit meninggi.
"He-he-he sorry mam, sudah jadi kebiasaan sih masalah nya." Adu Erlena dengan mengerucut kan bibir nya.
"Maka nya diubah lah kebiasaan mu itu menjadi lebih baik, jangan buruk kepintaran!" Tukas mami Erlena sambil mengacak pinggang nya.
"Iya deh, iya mi. Lena usaha kan Yee." Balas Erlena sambil puppy eyes dan tersenyum manis.
"Hm, seterah kamu. Mami nggak perduli." Ucap mami Erlena.
"Ya sudah, sana kamu masuk bersih - bersih badan kamu dahulu kemudian istirahat." Sambung mami Erlena sambil tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan anak nya sendirian.
"Siap mami ku sayang." Teriak Erlena lalu berlari menuju kearah kamar nya.
"Jangan teriak Erlena Ive Sara!" Teriak mami Erlena kesal setengah mati.
......................
"Sial mengapa gue bisa berjumpa dengan dia hah? Arrgghhh...." Rutuk Erlena saat sampai dikamar nya.
__ADS_1
"Sudah lah, ngapain juga gue ingat - ingat dia lagi! Anj***!" Teriak Erlena didalam kamar nya. Untung saja didalam kamar nya kedap suara, jika tidak mungkin diri nya sudah dimarahin mami nya yang super CEREWET sekali.
"Mending sekarang gue mandi dahulu." Gumam Erlena setelah puas mengeluarkan unek - unek nya.
Erlena pun beranjak dari tempat tidur nya lalu kemudian dia menuju kearah kamar mandi dan memulai ritual mandi nya. Tidak perlu waktu lama Erlena sudah keluar dari kamar mandi nya dengan tubuh yang mulai terasa dingin. Lebih fresh dari sebelumnya.
"Kabar nya Oliv gimana ya?" Tanya Erlena kepada diri nya sendiri.
"Mending gue vc saja deh." Jawab Erlena langsung menvideo call antara diri nya dengan Olivia.
"Woi, lu nih sudah 3 hari gue tunggu - tunggu. sampai di Indonesia lu nggak kabarin gue sih!" Bentak Olivia diseberang sana yang sedang membeli sesuatu dimini market.
"Sorry lah, gue kan sibuk. Lagian ini sudah gue vc kan." Balas Erlena santai sambil membaringkan tubuh nya diatas ranjang nya.
"Iya tetapi lama kali. Gue nungguin elu tuh berasa nungguin kabar dari pacar saja." Keluh Olivia sambil memasukkan belanjaan nya dikeranjang yang dibawa nya.
"Ohh..." Balas Erlena singkat.
"Oh liebe Mutter, es gibt viele Straßen, Ma'am. Nicht nur hier." Ucap Olivia lembut.(Ya ampun, ibu.....Disana banyak jalan loh Bu. Bukan disini saja.)
"Es ist mir egal, ich möchte diesen Weg gehen." Ucap ibu tak mau kalah.(Saya tidak perduli, saya mau lewat sini.)
"Hier bitte, zufriedene Mutter! Es ist so Kap!" Sungut Erlena.(Nih silakan, puas kamu ibu! Caper banget sih!)
Ibu tadi pun langsung mendengus kasar didepan wajah nya Olivia.
"Gila kan Len?" Tanya Olivia kesal.
"Hm, biasa lah ibu - ibu." Jawab Erlena santai.
"Sudah dahulu ya Len, gue mau belanja dahulu.Nanti - nanti saja ya." Balas Olivia.
__ADS_1
"Iya." Timpal Erlena langsung memati kan vc an nya bersama Olivia.
......................
"Gimana sekolah nya kamu?" Tanya sang ayah.
"Ya baik - baik saja lah, emang sekolah nya habis di bom." Jawab Melvino sambil memutarkan ke dua bola mata nya.
"Bukan itu maksud nya ayah! Akan tetapi, gimana kamu disekolah? belajar apa?" Tanya ayah Melvino menjelaskan nya.
"Nah gitu dong tanya nya, biasa - biasa saja sih disekolah. Belajar ekonomi doang." Jawab Melvino lesu.
"Ohh biasa - biasa saja toh. Sudah berjumpa dengan Erlena?" Tanya ayah Melvino penasaran.
Bunda Melvino dan Adelia hanya menyimak pembicaraan antara anak dengan ayah nya.
"Sudah." Jawab Melvino singkat.
"Terus?" Tanya bunda Melvino.
"Ya, Lena pura - pura nggak kenal sama aku. Tetapi, itu bukan salah dia juga, salah aku sih." Jawab Melvino.
"Ya sudah, Ini saat nya kamu berjuang untuk mendapatkan si Erlena kembali ke pelukan kamu. Tetapi, kalau kamu berjuang nya dengan cara paksa, lebih baik kamu mundur hilangkan perasaan mu untuk Erlena. Dia juga berhak bahagia." Jelas ayah Melvino
"Aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan Erlena kembali ke pelukan ku." Tekad Melvino tegas.
"Seterah kamu, tetapi, kalau kamu letih ya menyerah saja. Tetapi, kalau seandainya kamu masih mengingat perjuang Erlena untuk mendapatkan mu itu patut diingat. Dia berjuang tanpa kenal lelah dan pantang menyerah." Ucap ayah Melvino didalam hati.
"Iya itu pasti yah, aku akan berjuang seperti Erlena perjuangkan aku." Ucap Melvino sambil tersenyum tipis dan mengepal kan ke dua tangan nya.
"Itu baru anak ayah!" Ucap ayah Melvino sambil memberikan jempol nya di tangan nya.
__ADS_1
"Ya iyalah anak ayah, terus anak siapa lagi huh." Dengus Melvino kesal.