
Ada dua orang perempuan di dunia ini yang sangat gue cintai dan sayangi.
Kalian tahu tidak? Siapa yang sangat gue cintai dan sayangi di dunia ini?
Pasti kalian sudah mengetahui itu semua ya.....
Yang pertama adalah bunda gue. Meine mutter die hier arbeitet sie ist eine sehr starke frau.(Bunda ku orang yang bekerja di ini dia wanita yang sangat kuat.)
Bunda gue yang sudah melahirkan gue didunia ini dan merawat gue sampai besar hingga sukses sampai sekarang. Gue sangat mencintainya sepenuh hati gue, gue akan selalu menjaga orang tua yang teramat gue sayangi.
Yang kedua adalah perempuan yang sekarang lagi menyiram tanaman miliknya sambil nyanyi-nyanyi di taman. Seperti biasa, jika perempuan itu sedang bernyanyi dan menyiram tanaman di taman pasti dia lagi merasa bahagia.
Itu memanglah fakta, setelah tadi pagi dia lari-lari ke gue sambil membawa lima buah testpack.
Semua positif.
Dia lagi nangis bahagia, kalau gue nggak.
Kenapa gue nggak merasa bahagia?Bukan, bukannya gue nggak merasa bahagia. Justru ini adalah kado terindah sepanjang hidup gue.
Gue nggak bisa berkata apa pun lagi, dengan rasa ungkapan bahagia, cuman bisa meluk dia sambil mengucapkan terima kasih di dalam hati kepada yang maha kuasa.
Gue sayang banget sama perempuan yang gue peluk sekarang ini. Gue sangat cinta kepada dia, seluruh hati gue di ambil olehnya. Intinya gue nggak bisa berjauhan dengan perempuan ini, gue akan selalu menjaga dirinya sepenuh raga gue.
Dia adalah perempuan yang gue lamar waktu 5 bulan lalu di danau, tempat yang sering kami kunjungi. Kemudian dia gue jadikan istri 2 minggu setelahnya.
Dia itu cewek tinggi, berparas cantik dan dewasa pemikirannya. Dulu dia, selalu maksa gue buat nerima bekalnya, namun gue tolak dengan kasar dan keras. Gue sangat menyesal atas perbuatan yang telah gue lakukan hingga sampai saat ini.
Dia juga cewek yang selalu terlihat tersenyum jika ada orang lain tanpa mau mereka tahu kalau dia mempunyai banyak masalah. Dia pemilik wajah yang sangat cantik dan berkata lembut kalo sama gue, yang membuat gue merasa rindu setengah mati, saat dia pergi dari kehidupan gue.
Huh, dia adalah gadis gue saat ini sampai akhir hayat gue. Tidak ada yang boleh mengambil hatinya Erlena, apalagi kasih sayang.
Tiba-tiba gue merasa ada seseorang yang mengecup puncak kepala gue. Ternyata benar, cinta gue lagi menopang dagunya di depan gue sambil memonyongkan bibirnya lalu nyengir.
"Lagi ngapain sih kamu tuh? Aku perhatikan kamu bengong mulu," tanya Erlena sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Merhatiin kamu lah ayang," jawab gue sambil tersenyum ke arah Erlena.
"Masa sih? Kok aku nggak percaya," balas Erlena dengan memicingkan kedua bola matanya.
"Iya cantikku, sayangku, cintaku," gombal gue sambil nahan senyum.
Dia tersenyum malu dengan raut wajah yang sedikit merona kemudian dia meluk gue.
"Aku senang banget, Vin. Sebentar lagi.... Aku akan dipanggil mommy untuk kedua kalinya," ucapnya di pelukan gue.
"Udah nggak usah inget dia lagi, dia udah tenang di sana," peringat gue sambil mengelus-elus rambut tebal Erlena.
"Aku cuman nggak nyangka, Rangga, bisa ninggalin aku secepat ini," sahut Erlena dengan wajah lesu, gue yakin hatinya pasti merasa seperti tercabik-cabik.
"Udah ikhlasin ya sayang, kita kan juga nggak tahu, kalo Rangga bisa secepat ini dipanggil sama yang maha kuasa," balas gue dengan lembut sambil mengecup hidung Erlena mesra.
"Iya," timpal Erlena singkat.
"Kamu juga bentar lagi dipanggil Daddy dong, Vin," seru Erlena.
"Ya iya dong, sayang," balas gue, mengecup bibir Erlena layaknya pasangan suami istri pada umumnya.
"Udah siap jadi Daddy?" tanya Erlena sambil natap gue yang terus tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Iya dong, kamu nantangin aku ya?" tanya gue sambil menaikkan sebelah alis.
Erlena hanya terkekeh geli dan dia itu selalu cantik dimata gue. Intinya gue sangat beruntung memiliki dia.
"Nanti, kalau udah jadi Daddy jangan marah-marah sama anaknya ya," ucap Erlena lembut, dia menunjukkan senyum manis pada gue.
Gue yang dengar ucapan Erlena mengerutkan dahi.
"Kenapa sayangku?" tanya gue lembut dan merasa bingung.
"Takutnya dia itu takut sama kamu, kan kamu wajahnya kayak monster," ledek Erlena sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang hendak keluar.
"Heh, gini-gini aku ganteng loh," sergah gue sambil menggelitiki pinggang Erlena.
"Kamu takut nggak sama aku?" tanya gue setelah puas menggelitiki pinggang Erlena.
"Takut lah, apalagi pas banyak cowok yang berusaha ngedekatin aku. Gila seram banget, kamu mirip monyet," jawab Erlena dengan tubuh yang merinding sambil tersenyum mengejek.
Gue melototkan kedua bola mata,, lalu tertawa renyah sambil mengacak-acak surai indahnya.
"Kalau aku monyet, berarti kamu istrinya monyet dong," balas gue, mengecup pipi istri gue yang agak mirip bakpao.
Erlena menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Lagian kalau aku marah, pasti kamu bikin masalah dan bandel," sambung gue sambil menjitak kepalanya Erlena.
"Jangan suka jitak-jitak coba, nakal betul tangannya ini loh," greget Erlena, ia meringis sebelum protes.
"He-he-he," jawab gue sambil garuk kepala yang sama sekali gak gatal.
"Emang aku buat masalah apa? Bandel apa? Aku udah jadi istri yang baik dan patuh kepada suami. Aku ini istri idaman tahu nggak, huh, masih saja dimarahin," gerutu Erlena merasa kesal terhadap gue, suaminya.
"Iya emang kamu istriku yang terbaik, tapi, kalau mandi harus diingetin, ya?" tanya gue sambil tersenyum miring.
"Ya kan, aku lupa atuh," balas Erlena dengan wajah tanpa dosa.
Gue hanya geleng-geleng kepala, melihat istri gue yang terlihat sangat polos dari dahulu sampai sekarang.
"Kan udah ada bayi kita di dalam perut kamu, jadi kamu harus banyak makan yang bergizi dan makan buah-buahan segar," peringat gue perhatian.
Erlena hanya menganggukan kepalanya yang artinya patuh terhadap peringatan gue.
"Vin," panggil Erlena dengan lembut.
"Hm, apa sayangku?" jawab gue, mencium perut Erlena.
"Jalan-jalan ke taman yuk, aku bosan nih," ucap Erlena.
..........
Ada dua insan dengan naungan payung warna hitam itu, sedang duduk disalah satu kursi taman.
Sore ini menjelang malam hujan turun dengan deras. Namun rintiknya terkadang bisa membuat seseorang menjadi mudah sakit. Sore menjelang malam ini sangatlah damai. Seorang wanita yang sedang hamil itu sedang mengukir senyuman yang manis.
"Kamu senang?" tanya gue sambil tersenyum lebar melihat wanita yang terus tersenyum disepanjang jalan.
"Senang banget aku tuh!" seru Erlena sambil menginjak-injak tanah yang terdapat genangan air.
Gue tersenyum melihat tingkah lakunya Erlena yang sangat menggemaskan. Gue akan melakukan apapun demi wanita gue merasa bahagia.
__ADS_1
Meskipun rasa khawatir yang terselip didalam dada, karena sangat takut Erlena jatuh sakit, apalagi ini masih keadaan hamil yang mengandung anak gue.
"Kamu masih takut dan khawatir sama aku?" tanya Erlena sambil melihat raut wajah risau gue yang tak sengaja gue tunjukkan dihadapannya.
Gue berdecih lalu menganggukkan kepala.
"Oh my God! Apalagi yang harus kamu takutkan dan khawatir sama aku? Emang kamu nggak lihat kalo aku udah pakai jaket, jas hujan, dan payung! Sudahlah santai aja! Tenang okay!" ucap Erlena panjang lebar.
"Hah, terserah kamu lah. Asal kamu senang aku juga senang," balas gue.
Erlena tersenyum kemenangan lalu menjatuhkan kepalanya dipundak lebar milik gue.
"Air hujan yang turun bisa hilang oleh waktu, namun cintaku kepadamu tidak akan pernah habis oleh waktu." gombal gue, mengecup bibir Erlena yang terlihat menggoda.
Erlena membalas kecupan bibir kepada gue.
"Bisa saja, kamu tuh," ucap Erlena sambil memukul bahu gue.
Gue pun di buat tertawa karenanya.
"Kamu bagaikan hujan dan aku hanyalah rintik bumi yang gersang, yang kalau turun kamu sirami aku dengan rintik kebahagiaan," gombal balik Erlena.
Gue mengangkat sudut bibir saat mendengar gombalan dari Erlena wanita yang sangat gue cintai.
"Vin?"
"What?"
"Elvin ih!"
"Apa sayang."
"Kamu dengerin aku nggak sih?!"
"Ya, dengar lah. Aku kan punya telinga.
"Dengar ya, aku ini apa?" tanya Erlena akhirnya.
Gue yang merasa bingung dengan pertanyaan dari istri gue pun hanya mengangkat sebelah alis.
"Kamu manusialah, namanya Erlena," jawab gue sesuai fakta.
Erlena berdecak kesal lalu mengangkat kepalanya dari pundak gue.
"Nggak seru ah! Nyebelin banget!"
Gue terkekeh kecil lalu menarik pelan kepala Erlena dan menjatuhkan kepalanya kepundak gue, lagi.
"Kamu itu adalah Erlena milik Melvino, wanita yang kusayang setelah bundaku. Kamu adalah wanita yang kucintai satu-satunya bukan salah satunya. Sangking cintanya aku nggak tahu mau ngomong apalagi," ucap gue lembut sambil menatap wajahnya Erlena yang sangat cantik ini.
Erlena hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata gue yang terdengar sangat mesra. Kayaknya Erlena melting nih, sama omongan gue.
"Kamu ini gimana sih?" tanya Erlena.
" I love you so much from then until now. No one can replace my love." Gue mengelus pipi Erlena. Tatapan cinta ini hanya untuk Erlena.(Aku sangat mencintaimu dari dahulu hingga sekarang. Cinta ku tak akan tergantikan oleh siapapun itu).
Jatuh cinta tidak pernah ada dalam rencana seseorang. Sampai suatu hari kita baru menyadari bahwa kita sangat mencintai orang ini.
Cinta adalah perasaan bahagia. Cinta itu kuat, terlalu kuat untuk dipermainkan. Perasaan itu aneh dan sulit untuk dijelaskan, tetapi, ketika kamu jatuh cinta, kamu akan mengetahuinya dari dalam hatimu.
__ADS_1