
"Ampun bang jago, sorry bang jago, ampun bang jago," ucap Erlena sambil memeletkan lidah-Nya.
"Yuk adik kita pergi dari sini, nanti setannya marah ha-ha-ha," ledek Erlena sambil pergi dari tempat tadi.
"Awas lu Len, kalau lu kasih tahu keberadaan gue di sini. Gue nggak akan diam, lu akan mati di tangan gue sendiri Lena sialan!" Umpat Bimo sambil mengepalkan kedua tangannya.
Saat Erlena dan Rangga di dalam gendongan Erlena sambil turun dari tangga secara perlahan-lahan karena si Rangga sedang tertidur pulas. Kemudian Erlana melihat kelima anak yang terluka yang sambil memainkan kedua tangannya.
"Adeik-adik tunggu di sini ya, kakak bakal bantuin kamu untuk keluar dari sini oke? Inti nya kalian harus pura-pura sakit atau lemah di hadapan kakak laki-laki yang menculik kalian oke!" Bisik Erlena kepada kelima anak di hadapannya.
"Oke kak, terima kasih sudah bersedia menolong kami, maafkan kami yang sudah merepotkan kakak hingga datang ke sini," ucap salah satu dari kelima anak di hadapan Erlena sambil menatap teduh kearah Erlena, yang membuat Erlena merasakan sakit jika melihat anak kecil terluka parah.
"Iya sama-sama, ingat pesan kakak ya. Kalian tunggu kakak sampai datang kesini lagi, yang sabar ya," ucap Erlena sambil tersenyum tipis melihat kelima anak tersebut.
"Baik kak, siap," lirih mereka semua dan mengucapkan syukur di dalam hati mereka masing-masing.
"Bim, gue pergi dahulu ya..." teriak Erlena untuk pamit dari kawasan tersebut.
"Iya...." teriak balik Bimo dari atas.
Erlena pun mendekap Rangga ketubuhnya agar Rangga berhenti menangis, saat Erlena menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding. Rangga berhenti menangis lalu tertawa karena wajah konyolnya Erlena. Erlena pun ikut tertawa dengan wajah konyol yang di buat oleh dirinya.
Sampai keluar dari kawasan tersembunyi tersebut, Erlena bertemu dengan para anggotanya.
"Kevin," panggil Erlena sambil mencium pipi gembulnya Rangga.
"Iya Len, ada apa?" tanya Kevin sambil memperhatikan Rangga yang sangat tampan.
"Lu sudah rekam omongan gue sama Bimo tadi kan?" tanya Erlena memastikan.
"Sudah dong Len," jawab Kevin sambil mengelus pipi gembulnya si Rangga.
__ADS_1
"Huft, untung saja di rekam. Kalau nggak di rekam gue nggak punya bukti, yang ada gue yang masuk penjara bukan Bimo ha-ha-ha," ucap Erlena sambil meghela napas leganya.
"Hooh, mana mungkin kami ceroboh. Apa lagi rencana kita sampai sejauh ini Len," balas Kevin.
"Betul tuh yang di katakan oleh wakil ketua nona. Kami kan tidak ceroboh seperti nona, ekh," ceplos salah satu anak buah Erlena sambil menutup mulutnya yang tidak sopan.
"Huh, dasar kamu. Suka betul nyindir aku. Eh yang penting kan aku banyak duitnya ha-ha-ha," sungut Erlena sambil merengut kesal yang di akhiri dengan tawanya.
Oek
Oek
Oek.
"Jangan di elus-elus Vin, tadi tuh dia habis nangis. Susah tenanginnya tahu, tangan lu juga kotor kan habis kena tanah yang nggak sengaja terkena kan," sungut Erlena sambil mengayun-ayun anaknya. Ekh maksudnya si Rangga.
"Lu telepon polisi sama share lock tempat ini ke polisinya. Suruh cepat datang kesini. Gue nggak tega mereka pasti sudah nungguin gue untuk menyelamatkan mereka," titah Erlena sambil mengayun-ayunkan si Rangga.
Dua puluh lima menit kemudian mereka semua menunggu keberadaan polisi. Mereka tetap sabar untuk menunggu polisi hingga sudah empat puluh lima menit Erlena menyuruh Kevin untuk menelpon kembali polisi.
Karena Rangga sudah tertidur akan tetapi Rangga di gigit oleh nyamuk terus. Sehingga badan Rangga menjadi memerah dan beruntusan akibat banyaknya nyamuk menggigit badannya si Rangga, Erlena tidak tega dengan keadaan Rangga seperti ini. Hatinya sangat sakit dan takut jika Rangga kesakitan.
Datanglah para polisi, mereka membawa pistol yang sudah di isi peluru nya untuk berjaga-jaga.
"Mengapa kalian lambat sekali datang kesini hah? Lihatlah si bocah ini sampai di gigit banyaknya nyamuk. Gue nggak tega pak huh," sarkas Erlena sambil menatap tajam kearah para polisi.
"Maafkan kami Queen, tadi kami sempat mengalami kesulitan untuk memasuki kawan hutan ini," balas salah satu polisi sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudahlah, cepat urus dia sebelum dia pergi dari kawasan ini," titah Erlena.
"Queen dia sudah ada dimana?" tanya salah satu polisi.
__ADS_1
"Ada di dalam, kalian bisa memasuki rumah yang menurut gue agak angker itu. Ingat jangan sampai kalian berisik karena insting gue mengatakan bahwa dia saat gue pergi dia menaruh penyadap suara dan CCTV-Nya," jawab Erlena sambil menunjukkan rumah tersembunyi.
Mereka pun melihat kearah depan untuk melihat yang di tunjuk rumahnya oleh Queen. Ketika mereka melihat rumah tersebut, buku kuduk mereka seketika merinding.
"Apa? Agak angker? Ini sangat angker Queen," jerit mereka di dalam hati sambil memejamkan matanya kuat-kuat.
"Kalian harus hati-hati ya. Di sana banyak ranting kayu, jika kalian sudah menginjakkan ranting kayu tersebut itu bisa terdengar sampai penculik itu. Jadi perlu di ingatkan sekali lagi bahwa Kalian harus hati-hati dan jangan lupa berdoa terlebih dahulu," sambung Erlena.
"Baik Queen, kami kesana terlebih dahulu untuk menangkap seorang penculik tersebut," ucap tegas salah satu polisi.
"Iya, eh saya lupa kasih tahu ke kalian," ucap Erlena sambil menepuk jidat nya.
"Apa Queen?" tanya salah satu polisi penasaran.
"Jangan lupa bawa lima orang anak yang ada di sana. Kasihan mereka sudah nungguin penyelemat kalian," jawab Erlena sambil mencium bibir Rangga.
"Ya ampun Queen, kami kira apa? Kalau itu sudah pasti kami akan menyelamatkan mereka," sahut salah satu polisi.
Para polisi pun pergi dan berjalan kearah rumah yang di tunjukkan oleh Queennya mereka. Benar yang Queen katakan bahwa di sini banyak ranting kayu yang bertebaran.
"Seram juga ya, tempat ini hih," ucap salah satu polisi yang gagah sambil bergidik ngeri.
"Iya benar tuh, untung saja Queen bantuin kita, mungkin kita nggak tahu tempat ini dan keberadaan penculik handal tersebut," oceh salah satu polisi sambil menatap tajam kearah rumah angker.
"Sudah Ayuk kita masuk, kasihan Queen pasti menunggu kita di sana," ajak salah satu polisi yang dari tadi berdiam diri.
"Iya Ayuk, ingat kita harus hati-hati. Perasaanku tidak enak saat melihat tempat ini," peringat salah satu polisi yang mengenggam pistolnya.
"Benar yang di katakan oleh mu, aku pun ikut merasakannya!" Sahut salah satu polisi yang dari tadi makan permen.
"Buang dahulu permenmu itu! jangan sampai salah fokus!" Titah salah satu polisi gagah.
__ADS_1
"Iya-iya bos!" Patuh salah satu polisi tersebut membuang permen dari mulutnya.