Berjuang Atau Menyerah

Berjuang Atau Menyerah
Episode 58


__ADS_3

"Jangan banyak-banyak foto deh jadi orang, sekali saja juga sudah cukup kok, nggak perlu berlebihan yang penting penuh mutiara!" Peringat Melvino dingin yang masih menatap tajam ke arah seorang fotografer yang sedari tadi menatap ke arah wajah-Nya si ErlenaErlena.


"Maksud-Nya Melvin? Penuh mutiara apa sih? Emang siapa yang akan menjadi mutiara-Nya," tanya Erlena bingung sambil memiringkan wajah-Nya untuk melihat wajah-Nya si Melvino.


"Ya, mutiara yang ada di laut lah. Terus siapa lagi? Hantu di pinggir jalan juga mutiara kan?" tanya balik Melvino sambil memutarkan kedua bola mata-Nya.


"Owh, seperti itu toh. Kalau hantu mah bukan mutiara, tetapi membuat hati kita jedag-jedug saat dia datang secara tiba-tiba ha-ha-ha," balas Erlena sambil mengangguk-anggukkan kepala-Nya tanda mengerti yang di akhiri dengan tawa-Nya.


"Elu Len, elu mutiara yang ada di dalam hati gue. Yang sangat cantik dan sifat yang baik, mahal atas dirimu sendiri yang jarang di temui oleh orang lain kecuali gue. Hanya gue yang bisa melihat tingkah laku lu yang paling aneh, gadis bodohku. Gue beruntung bisa mengenal elu sedalam ini," ucap Melvino di dalam hati sambil tersenyum tipis melihat ke arah Erlena yang sedang tersenyum melihat ke arah pemandangan yang sangat indah itu.


"Oke! Siap Elvin kusayang, yuk sekarang waktu-Nya kita berfoto dan bergaya bersama!" Patuh Erlena sambil tersenyum lebar.


"Ayuk kak, tolong fotoin kita ya. Yang bagus ya kak, biar aku menjadi senang!" Ucap Erlena sambil tersenyum manis ke arah seorang fotografer.


"Baik mbak, pasti saya akan memberikan hasil yang terbaik untuk mbak dan untuk mas-Nya!" Ucap seorang fotografer sambil membalas senyuman Erlena.


Melvino masih berdiam diri karena hati-Nya merasa senang masih di panggil sayang oleh Erlena dan masih panggilan khusus yaitu Elvin. Ah, Melvino tidak bisa menggambarkan perasaan diri-Nya yang seperti musik dj. Ingin rasa-Nya diri-Nya berteriak namun, dia sadar di sini lumayan banyak orang.


"Hai! Elvin ayuk kita foto dari tadi sudah aku panggil nggak nyaut-nyaut saja. Apa sih yang ada di dalam pikiranmu itu hah, jangan bikin aku kesal deh!" Seru Erlena kesal sambil memicingkan kedua bola mata-Nya.


"Iya-iya jangan marah dong Len. Gue cuman lagi banyak pikiran doang kok. Nggak ada yang lain," bujuk Melvino yang mendadak takut jika di cuekin oleh Erlena.


"Hm," deham Erlena sambil memalingkan wajah-Nya agar tidak menatap wajah-Nya si Melvino.


"Len, gue minta maaf. Jangan ngambek ya, ya plis dong" rayu Melvino sambil memonyongkan bibir-Nya.


"Mbak! Kapan nih foto sama pacar-Nya! Lama banget! Saya punya pelanggan lain-Nya mbak.... masih banyak bukan mbak saja," ucap seorang fotografer yang sudah mulai jengah dengan Erlena dan Melvino.


"Ya! Ayuk Vin! Kamu sih!" Sungut Erlena.


"Loh kok aku sih!" Sungut Melvino balik tanpa sadar dia bilang aku.


"Hah!" Ucap Erlena malas.

__ADS_1


"Gimana cara posenya?" tanya Melvino lembut.


"Kita hadap belakang saja! Melihat sunset!" Jawab Erlena sambil membalikkan tubuhnya.


"Oke!" Jawab Melvino singkat.


"Sudah kak, tolong fotoin mita ya!" Ucap Erlena lembut.


"Baik, kak!" Balas seorang fotografer sambil memegang kameranya dan segera memotret.


CEKREK.


ANGGAP SAJA SEPERTI INI FOTONYA ERLENA BERSAMA MELVINO YANG MENATAP KE ARAH LANGIT SUNSET.



"Nih, sudah mbak fotonya," ucap seorang fotografer sambil menyodorkan hasil fotonya.


Melvino dan Erlena melihatnya merasa kagum dengan seorang fotografer karena sangat bagus efeknya padahal masih di siang hari.


"Ohh boleh mbak, sebentar ya..." jawab seorang fotografer sambil mengotak-atik laptop yang di bawanya.


1 Menit kemudian hasil fotonya pun jadi.


"Nih, mbak," ucap seorang fotografer sambil menyodorkan fotonya.


"Oke. Terima kasih banyak ya kak!" Ucap Erlena berterima kasih kepada seorang fotografer.


"Sama-sama mbak," balas seorang fotografer sambil menyimpun barang-barangnya ke tas besarnya.


"Nih, kak uangnya," ucap Erlena sambil mengasih uang lima puluh ribu selembar.


"Wah, terima kasih banyak ya mbak. Tetapi saya tidak mempunyai kembaliannya mbak" ucap seorang fotografer menyesal.

__ADS_1


"Sudah-sudah nih duitnya," ucap Melvino final sambil mengasih uang lima puluh ribu selembar dan mengambil uangnya Erlena di tangan Erlena.


Melvino pun mengasih uang seratus ribu lima puluh ribu Melvino. Padahal sebenarnya hanya empat puluh ribu saja untuk foto sekali.


"Loh mas, ini malah kelebihan," ucap seorang fotografer menolak.


"Sudahlah kak, rezeki kok di tolak," ucap Erlena.


"Iya tuh," timpal Melvino dingin.


"Ya sudah, ini uangnya saya terima ya, semoga hubungan kalian langgeng," ucap seorang fotografer bersyukur dan mendoakan Erlena dan Melvino langgeng.


Melvino melengkungkan bibirnya, tetapi saat Erlena ngomong seperti sekarang senyumnya mulai memudar dan tidak suka mendengar ucapan Erlena.


"Ekh kak, dia bukan pacar aku hehe... Jangan salah paham," bantah Erlena.


"Oh bukan toh, ya sudah saya pergi dahulu ya," pamit seorang fotografer langsung pergi.


Setelah seorang fotografer pergi Erlena langsung mendekat kearah Melvino dengan tangan yang memegang dua foto mereka tadi.


"Nih untuk Elvin satu, ini untuk Lena satu," ucap Erlena sambil menyerah kan foto mereka.


"Iya thanks," ucap Melvino sambil tersenyum manis.


"Loh, buat apa Melvino terima kasihkan Melvino tadi bayar sendiri," ucap Erlena yang masih menatap foto mereka tadi tanpa melihat senyum manisnya Melvino.


"Ya.Nggak apa-apa," ucap Melvino yang masih tersenyum manis.


"Terima kasih lu selalu sabar menghadapi sifat buruk gue dahulu," ucap Melvino di dalam hati sambil menatap Erlena.


"Itu di simpan ya Elvin! Untuk kenang-kenangan kita, Kalau aku sudah tidak bersamamu lagi," ucap Erlena sambil menatap dalam kearah kedua bola matanya Melvino.


"Hm," deham Melvino berubah menjadi dingin.

__ADS_1


"Yuk, kita pulang!" Ajak Erlena sambil menggenggam tangannya Melvino.


"Hm," deham Melvino tak urung juga membalas genggaman tangannya dengan Erlena.


__ADS_2