
"Nama saya Melvino King Apta," ucap seseorang yang telah di ketahui namanya yaitu Melvino.
Apa kabarnya Erlena? Ya, seluruh tubuh Erlena menegang ketika mendengar nama Melvino, kemudian Erlena mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk.
Sedangkan ketiga laki-laki, yang di ujung mereka kesenangan bahwa sahabatnya telah kembali.
"Silakan, duduk di belakang Erlena Melvino!" perintah Bu navy.
"Baik," patuh Melvino.
Melvino sebenarnya sangat terkejut bahwa ada Erlena di sekolah di sini, dia hanya menatap datar ke arah Erlena.
Lalu Melvino berjalan ke arah tempat meja belajar, yang ada di belakang Erlena.
"Len,kok bisa ada si dia?" bisik Devina.
"Mana gue tahu," bisik balik Erlena.
"santai, baby, calm down, nggak usah lu pikirin dia orang nggak tahu diri," ucap Devina berbisik sambil menatap kasihan.
"Ahkkkhhhh," teriak Erlena sambil memukul kepalanya berulang kali dengan menggunakan tangannya.
Semua yang ada di kelas menatap ke arah Erlena, mereka bingung kepada Erlena padahal tadi dia santai-santai saja.Tetapi, entah mengapa Erlena jadi seperti ini.
"Lena mengapa kamu berteriak?" sentak Bu Navy.
"Tidak tahu," jawab Erlena sambil memutar kedua bola matanya.
Sedangkan Melvino sangat terkejut bahwa Erlena sudah berubah, dahulu Erlena orangnya lemah lembut, sekarang menjadi berubah dratis.
"Saya izin 'bolos'," izin Erlena terhadap Bu navy sambil mengambil tas sekolahnya.
"Ya, silakan seterah kamu, untung kamu pintar." ucap Bu Navy sambil mengelus-ngelus dadanya.
"Santai Bu," sungut Erlena sambil memberi senyum miring.
"Vin gue bolos dahulu," pamit Erlena terhadap Devina.
"iya hati-hati, kalau ada perlu telepon gue," jawab Devina Karena dia sudah tahu, pasti Erlena sangat terkejut dengan kedatangan Melvino yang tiba-tiba.
"Hm," deham Erlena langsung pergi dari kelas nya.
ERLENA BOLOS KE ROOFTOP.....
SESAMPAI DI ROOFTOP......
Erlena langsung duduk bersandar di dinding, dia menatap kosong ke arah langit.
"Len lu ngapain di sini?" tanya Alex.
"Nggak lihat!? gue duduk lah!" jawab Erlena sambil menghela napas kasarnya.
"Lu ada masalah Len?" tanya Devan.
"Hm, dia kembali," jawab Erlena sambil menatap kedua mata Devan dengan tatapan kosong.
"Ha? Siapa Len! Jangan bertele-tele nah!" ucap Sean ngegas.
__ADS_1
"Melvino," balas Erlena.
Ketiga teman Erlena langsung, tubuh mereka menegang lalu menatap satu persatu ketiga cowo tersebut.
"Sudah Len, nggak usah lu pikirin si dia mending lu main-main," ucap Sean sambil tersenyum tipis.
"What? Main-main maksud lu?" tanya Erlena dengan dahi yang mengkerut.
"Ya, kita main-main bal...." jawab Sean terputus karena terdengar suara bel.
Bel pun berbunyi
"KRING"
"KRING"
"KRING"
"Sial, sudah lah kita ke kantin saja dahulu, udah lapar nih gue," ajak Devan sambil menunjuk perutnya yang keroncongan.
Sontak membuat mereka tertawa mendengar suara perut devan, sedangkan Devan merajuk lalu beranjak pergi, biasalah ngambek.
"Waduh! Van tungguin woy," teriak Alex, Sean, dan Erlena sambil beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengejar Devan yang sedang ngambek.
SESAMPAI DI KANTIN.......
Alex, Sean , dan Erlena langsung dilihat semua penghuni yang ada di kantin. Mereka bingung mengapa mereka lari-lari seperti mengejar seseorang.
Sedangkan di meja lain ada Zayn, Zaky, Raja, dan Melvino.
"Mengapa tuh si Lena lari-larian sama tuh dua cowok?" tanya Zaky heran.
"Eh, sudah-sudah, mari kita makan," ajak Raja.
Mereka bertiga pun sedang makan, kecuali Melvino dia menatap bingung ke arah Erlena.
Sedangkan Devina hanya diam di duduk mejanya sendiri tanpa di temanin seorangpun, Devina tahu ke tiga cowok tersebut adalah sahabat Erlena.
"Hos-hos-hos," terdengar napas beruntun dari Alex, Sean ,dan Erlena.
"Lu jangan ngambek lah bro," ucap Sean.
"Iya, lagian kita cuman bercanda kok," sambung Alex.
Devan? Devan sedang asyik makan, dia tidak menghiraukan para sahabatnya.
"Devan sayang..... jangan ngambek ya,nanti Lena belikan sesuatu untuk Devan," rayu Erlena kepada Devan agar tidak ngambek lagi, kalau ngambek sampai seharian bisa barabe.
"Serius? Lena mau belikan sesuatu untuk Devan?" girang Devan sambil menghentikan makannya tadi, langsung duduk di sebelah Lena.
"Iya.....Jadi jangan ngambek lagi ya," bujuk Erlena sambil mengelus- elus rambut Devan.
"Oke Lena," patuh Devan sambil membaringkan kepalanya di atas paha Erlena kemudian wajah si Devan mengarahkan ke perut Erlena sambil mengendus- endus layaknya kucing karena pakaian Erlena selalu wangi yang bisa mengubah moodnya.
"Huh! Dasar manja," sindir Sean merasa iri.
"Iya, gue juga mau dong Len," Alex sambil memeluk tangan Erlena.
__ADS_1
"Eits! Alex nggak boleh sentuh-sentuh tangan Lena, Lena cuman milik Devan. Ini..... Semua aku punya!" sentak Devan sambil melepaskan tangan Alex yang ada di tangan Erlena.
"Dasar bocah, padahal sudah gede. Nggak malu Lo?" tanya Sean malas.
"Nggak, lah, ngapain malu wlekk," jawab Devan sambil memelet lidahnya mengejek.
Di meja lain, Melvino, sedikit tidak suka dengan Devan karena menyentuh tubuh Erlena, Ehh apa-apaan sih Vin, ingat! Dia gadis bodoh, bukan tipe lu pikir Melvino.
SKIP.
Setelah mereka selesai makan mereka, mereka masing-masing memainkan ponselnya.
Kemudian tiba-tiba ada suara telepon.
"Telepon siapa tuh?" tanya Sean.
"Lena kayaknya." jawab Alex.
"Lena ada telepon lu," tegur Devan.
"Ahh iya," balas Erlena.
Erlena menatap ke arah ponselnya, siapa yang menelpon dia pas lagi waktu santainya.
"Halo," sapa Erlena dingin.
Semua penghuni melihat ke arah Erlena sambil mendengarkan ucapan Lena.
"Halo," sapa balik seseorang dengan nada gembira.
"kayak pernah dengar nih suara cewe tetapi, siapa ya?" tanya Erlena di dalam hati sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa!?" sentak Erlena dingin.
"ini Zanna," jawab seseorang yang telah di ketahui bahwa namanya yaitu Zanna.
"Ohh elu," balas Erlena sambil tersenyum lebar.
"Ada apa? kangen lu sama gue," goda Erlena sambil tersenyum miring.
"Iya, gue kangen banget! Buruan oy jemput gue sama Amanda, di bandara gue udah sampai," teriak Zanna.
"Kambing!" latah Erlena, semua orang juga merasa terkejut mendengar teriakan lena.
"Iya-iya sayang, bentar ya gue jemput elu," sambung Erlena sambil mematikan teleponnya dengan cara sepihak.
"Eh! Gue pergi dahulu ya, mau jemput seseorang," pamit Erlena terhadap Alex, Sean, dan Devan.
"Iya hati-hati," peringat mereka.
Erlena langsung meninggalkan tempat duduknya, lalu berlari menuju ke arah meja makan Devina.
"Vin, buruan ikut gue," ajak Erlena.
"Ke mana?" tanya Devina sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Jemput mereka, sudah nggak usah bacot, buruan ikut gue," balas Erlena langsung menarik tangan Vina.
__ADS_1
"Yowes yuk," ucap Devina pasrah.