
"Seterah kamu, tetapi, kalau kamu letih ya menyerah saja. Tetapi, kalau seandainya kamu masih mengingat perjuang Erlena untuk mendapatkan mu itu patut diingat. Dia berjuang tanpa kenal lelah dan pantang menyerah." Ucap ayah Melvino.
"Iya itu pasti yah, aku akan berjuang seperti Erlena perjuangkan aku." Ucap Melvino sambil tersenyum tipis dan mengepal kan ke dua tangan nya.
"Itu baru anak ayah!" Ucap ayah Melvino sambil memberikan jempol nya di tangan nya.
"Ya iyalah anak ayah, terus anak siapa lagi huh." Dengus Melvino kesal.
......................
"Selamat pagi mami dan papi." Sapa Erlena saat baru turun dari tangga.
"Pagi juga sayang." Sapa papi Erlena balik.
"Pagi juga putri mami yang cantik." Sapa mami Erlena balik.
"Masih jam enam lewat tiga puluh lima menit, kamu duduk dahulu ya. Kita sarapan bersama baru kamu berangkat kekampus. Sudah jarang kita tidak makan bersama ya kan?" Ucap mami Erlena panjang lebar sambil menghidangkan makanan siap saji dimeja makan.
"Iya mi," Balas Erlena dan papi Erlena.
Mereka semua pun menyantap makanan yang sudah dihidangkan diatas meja makan dengan khidmat.
"Mi, Pi Lena berangkat terlebih dahulu ya, Assalamualaikum." Pamit Erlena kepada orang tuanya sambil menyalimi mereka berdua.
"Kamu berangkatnya pakai apa?" Tanya sang mami Erlena.
"Kayak nggak tahu anak kita saja mami ini. Ya, seperti biasa lah dia bawa mobil Lamborghini Aventador yang warna hitam." Bukan Erlena yang menjawab pertanyaan dari sang mami Erlena, akan tetapi, papi Erlena lah yang menjawabnya.
"Owh, iya deh sip. Kenapa sekarang pergi nya? Kamu kan mempunyai tersisa waktu lima belas menit?" Tanya mami Erlena heran kepada anaknya, tidak seperti biasanya anaknya akan pergi kekampus dengan cepat.
"Nggak papa mi, cuman mau pergi cepat saja. Sesekali saja kok, bukan setiap hari." Jawab Erlena santai.
"Sudah - sudah mami nggak usah banyak omong. Anak kita sudah besar, jangan terlalu banyak pertanyaan lah." Sergah papi Erlena merasa malas mendengarkan istrinya yang makin CEREWET.
"Ya nggak usah didengarkan dong!" Ucap mami Erlena dengan ngegas.
"Ehh Len, nanti bawa si Rangga kesini ya, mami kangen nih sama dia." Titah mami Erlena dengan ke dua tangannya yang memohon.
"Iya pasti mi, tetapi, habis Erlena pulang sekolah saja ya." Balas Erlena sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oke." Timpal mami Erlena kegirangan.
SKIP.
Kini Erlena sudah sampai dikampusnya. Seperti hari sebelumnya saat Erlena hendak turun banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Kalian pasti sudah tahu bukan apa yang akan Erlena lakukan untuk mengatasinya?
Erlena tidak menghiraukan apa yang terjadi didepan nya, dirinya tidak perduli apa yang terjadi setelah ini. Erlena terus berjalan menyusuri koridor kampus dengan wajah datar nya.
"Gue sampai sekarang masih bingung tahu."
"Bingung mengapa?"
"Bingung karena sampai sekarang Erlena dengan Melvino itu ada hubungan apa sih?"
"Emang gue emak nya yang tahu segalanya."
"Kan gue cuman mengungkapkan saja lol."
"Ngapain juga lu ngurusin urusan orang lain?"
"Gue bukan ngurusin urusan orang lain!"
"Aelah kepo saja lah."
"Katanya Erlena pindahan dari Jerman loh."
"Pantas kulitnya bersih dan putih*."
Masih banyak lagi bisikan para cewek cabe - cabean yang didapatkan sepanjang koridor kampus. Tetapi, tetap saja tidak dihiraukan sama sekali oleh Erlena.
SKIP.
"Morning." Sapa Erlena setelah sampai dikelas nya dan duduk diatas kursinya dengan kaki yang menyilang keatas meja belajar.
BUG.
"Apa sih njir?" Teriak Erlena merasa kesakitan karena kaki nya dipukul oleh Amanda.
"Yang sopan Len, duduknya bahaya kalau ada guru yang melihat elu!" Peringat Amanda sambil menggeleng - geleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Hm." Deham Erlena malas sambil mengelus - elus kakinya yang habis dipukul oleh Amanda.
"Ehh...." Ucap Devina.
"Apa?" Tanya Zanna dan Amanda.
"Nggak gue cuman mau tanya sama Erlena doang." Jawab Devina santai.
"Kalau tanya sama Erlena sebut dong namanya pintar." Sungut Amanda kesal dengan sikapnya Devina yang kelewat santai.
"Hm, gitu doang kesal." Balas Devina sambil tersenyum miring.
Amanda tidak menghiraukan apa yang Devina ucapkan tadi.
"Lu ada hubungan apa sama wakil ketua 'BLACK WHITE TIGER' ?" Tanya Devina penasaran.
"Teman doang elah." Bohong Erlena.
"Owh." Balas Devina sambil manggut - manggut tanpa menaruh kecurigaan.
1 bulan pun berlalu....
"Gimana ada perkembangan nggak?" Tanya Raja untuk memulai pembicaraan.
"Maksudnya? Siapa?" Tanya Zayn yang memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Raja.
"Ck," Raja menunjuk Melvino menggunakan alis sebelah nya. Sedangkan yang ditunjuk oleh Raja hanya menggeleng - geleng kan kepala nya.
"Sumpah! Gue sangat bingung melihat hubungan diantara kalian. Menurut gue emang wajar sih yang Lena perbuat ke lu." Sambar Zayn.
"Kan kalau Lena sudah memutuskan bahwa dia sudah menyerah untuk memperjuangkan elu, ya berarti lu nggak berhak untuk ngurursin hidupnya dia." Ucap Zaky panjang lebar.
"Sekalipun dia menyerah untuk memperjuangkan gue, gue akan memperjuangkan dirinya sampai dia luluh ke gue." Sarkas Melvino dengan tatap an tajam nya kearah Zaky.
"Seterah, kalau perempuan hati nya lemah sekali bro, sekali disakitin closssss! Sakit bre!" Ungkap Raja dengan raut wajah yang serius.
"Ya, gue tahu itu. Gue janji akan mengembalikan rasa kecewanya itu menjadi bahagia bila bersama gue." Tekad Melvino sambil tersenyum pedih.
Zaky, Zayn, dan Raja menatap kagum sekaligus merasa iba kepada sahabat nya yang sangat dingin dan tak tersentuh jika ada yang berdekatan dengan seorang perempuan.
__ADS_1
"Dia tetap milik gue, ada nggak ada hubungan apapun. Dia tetap milik gue, esok, dan selamanya." Gumam Melvino sambil tersenyum tipis dan melihat langit - langit yang sangat indah.