
"Ya sudah, kalian istirahat kembali kekamar masing-masing. Nanti jam setengah sembilan malam kita akan makan bersama oke?" ucap mami Erlena yang di akhiri dengan tangan oke.
"Oke tan. Siap," patuh mereka semua langsung pergi ke atas menuju ke arah kamar masing-masing, di ikuti oleh kedua orang tua Erlena dan Vino.
ERLENA POV.
"Huft.Untung saja gue nggak mati cuy," ucap Erlena lirih dengan mata yang menatap kosong ke arah langit sambil tersenyum manis.
"Indah sekali langit yang ada di hadapanku, aku ingin hidup dengan tenang sepertimu bintang. Apa kah aku bisa tenang sepertimu? tanpa harus melakukan apa pun," ucap Erlena yang masih menatap ke arah langit malam sambil tersenyum miring dengan tatapan sendu.
"Oh, iya gue lupa minum obat. Kok gue bisa lupa sih ******," ucap Erlena yang baru mengingat jika dia belum meminum obat-Nya.
Erlena menaruh obat kapsul-Nya di atas lidah-Nya dan mengambil air putih hangat untuk membantu menelan obat kapsul yang di minum oleh Erlena. Setelah Erlena meminum obat, Erlena langsung duduk di balkon dengan tangan yang memegang buku diary dan pulpen-Nya.
Erlena menatap fokus ke arah bulan dan Erlena merasakan ketenangan yang baru dia dapatkan. Di tengah-tengah ketenangan Erlena memikirkan harus pakai cara apa lagi untuk mendapatkan cinta pertama-Nya yaitu Melvino King Apta. Diri-Jya sangat bingung sekali.
Erlena ingin sekali menjadi pacar Melvino dan di cintai oleh Melvino, ya walaupun itu tidak mungkin terjadi. Erlena sadar kalau mengejar-ngejar Melvino terus-menerus.
Pasti Melvino merasa sangat risih dan selalu membentak diri-Nya yang akan membuat diri-Nya merasakan sakit di hati-Nya, saat Erlena selalu membuntuti Melvino.
Erlena merasa nyaman jika Erlena mengejar Melvino yang sepantas-Nya saja, karena akan ada masa nya dia akan menyerah untuk mengejar Melvino dan dia sadar akan hal itu.
Diri-Nya masih mencintai Melvino, jikalau diri-nya tidak mencintai Melvino. Pasti dia tidak akan mengejar-ngejar cinta-Nya kepada Melvino.
Erlena pun mengusap wajah-Nya dengan pelan dan Erlena langsung menulis di buku diary-Nya setelah mendapatkan ide dari otak cemerlang-Nya.
"Ketahuilah bahwa perasaan memang tak sederhana, seperti satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika di samakan dengan bintang malam yang gemerlap di langit pun tetap tak terkira, sebab rasa bukan rumus matematika. Perasaan tetaplah perasaan yang tak bisa digambarkan dengan apa pun."
...----------------...
"Aku menemukan Dia dalam bintang yang bersinar di tengah kegelapan yang bahkan sangat gelap sekali.
...----------------...
__ADS_1
"Cinta adalah sebutir bintang dari keindahan sajak. Cinta adalah inti dari kehidupan kita. Dan siapa yang mendapatkan cinta yang penuh, dia memiliki kebahagiaan yang abadi. Namun, apa kah aku akan mendapatkan cinta yang penuh dan abadi?"
Erlena menatap kearah buku diary-Nya dengan senyum lebar, merasa puas setelah mengungkapkan isi hati-Nya, langsung saja Erlena menutup diary-Nya dan berjalan menuju ke arah tempat tidur.
Setelah sampai di tempat tidurnya, Erlena merebahkan diri dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Karena Erlena lelah, dengan cepat dia menutup matanya dan tertidur.
1,5 jam Erlena tertidur yang menurutnya kurang puas untuk tidur. Kini di malam hari sudah pukul 20.25.
Tok
Tok
Tok
"Sayang bangun! Ayuk kita makan malam bersama cepetan!" teriak mami Erlena sambil menggedor-gedor pintu dari luar.
"Heh, Lena bangun woi. Sudah malam ini. Waktu-Nua kita makan bersama. Emabg-Nya kamu nggak kelaparan hah, betah amat di dalam kamar mulu. Keluar kek dari kamar atau jalan-jalan ke luar rumah coba sana ih," dumel mami Erlena sambil menggedor-gedor pintu kamar anak-Nya.
"Ada apa sih mami ini. Ganggu orang tidur saja, maka seluruh badan gue rasa-Nya kayak di remuk njir. Baru saja tidur berjam-jam di bangunin lagi. Gue juga belum terlalu lapar juga tahu nggak sih," gumam Erlena sambil mengucek-ngucek mata-Nya.
Krik
Kruk
Kruk
Erlena yang mendengar suara dari dalam perut-Nya menahan malu sambil memejamkan mata-Nya dengan kuat.
"Oh, sial. Lu mengapa nggak bisa di ajak kompromi sih perut? Gue jadi kesal sumpah," gerutu Erlena kesal dengan perut-Nya.
"Iya mami, tunggu sebentar Lena baru saja tidur sudah di bangunin huh. Sebal!" teriak balik Erlena langsung membuka pintunya dan turun kebawah tanpa memperdulikan mami-Nya yang masih terbengong ketika melihat tingkah laku Erlena.
Semua yang ada di meja makan ada papi Erlena, Vino, Melvino, Raja, Zayn, Zaky, Amanda, Zanna, Devina.
__ADS_1
Mereka semua melongo dengan tingkah laku yang di buat Erlena yang sangat memalukan bagi para gadis apa lagi di sini banyak para lelaki.
"Hai, masak anak gadis perawan kayak gini sih tingkah laku-Nya. Apa nggak malu!" Pungkas mami Erlena yang tadi tertinggal karena terbengong melihat anak gadis-Nya seperti itu.
"Berantakan sama kusut banget tuh wajah-Nya anakku. Kok bisa sih dia nggak sadar sama pakaian-Nya yang kucel itu. Hah, seterah dia lah," gumam mami Erlena sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya.
"Itu benaran Lena kan woi?" tanya Zayn terbengong.
"Gue nggak percaya ini Lena atau bukan sih gila," ucap Zaky lirih.
"Gila, persis kayak orgil di jalanan!" gumam Raja menahan tawa-Nya.
"Apa dia nggak sadar dengan tingkah laku-Nya yang sangat berantakan itu, tetapi dia tetap cantik?" ucap Melvino di dalam hati dan tanpa sadar memuji kecantikan si Erlena.
"Astagfirullah Len!" ucap Zanna sambil menepuk dahi-Nya.
"Haduh! Apa nggak malu lu Len? Apa lagi di lihat oleh cowok yang lu suka. Kalau gue sih malu banget?" tanya Amanda di dalam hati sambil melirik Melvino yang menatap datar kepada Erlena yang sedang menggaruk rambut panjang-Nya.
"Sohib siapa ini?" tanya Devina lirih.
"Apa sih mi, kalian juga natap gue biasa saja kali!" sungut Erlena sambil mengucek-ngucek matanya.
"Kamu nggak sadar Len?" tanya mami Erlena merasa gemas dengan tingkah laku Erlena yang polos.
"Apa?" tanya balik Erlena sambil menaikkan sebelah alis-Nya.
"Coba kamu cek penampilanmu di kaca besar yang ada banyak orang di sana," titah mami Erlena sambil menahan tawa-Nya.
"Hm," deham Erlena singkat.
"Buruan Len cek penampilan lu, gue sudah lapar nih ha-ha-ha!" ejek Zanna yang di akhiri tawanya.
"Ya," jawab Erlena singkat dengan langkah yang perlahan-lahan karena kepalanya masih merasa pusing.
__ADS_1