
“Tapi itu tidak baik Tuan Muda. Mereka sedang berpesta, jika kita masuk ke sana dan membawa Nona Nurbaya, dia akan malu nanti. Mungkin saja, Nona akan marah pada Tuan Muda jika menganggu pestanya.” jelas pengawal.
“Tetapi laki-laki itu kurang ajar, berani sekali dia menyentuh Kak Aya!”
“Lagian aku bukan ingin menganggu Kakak, aku hanya kawatir saja....” Suara Satria sedikit melemah dari tadi.
“Mungkin saja tadi ada sesuatu yang menempel di rambut Nona. Mari kita lihat saja dulu Tuan Muda.” bujuk pengawal.
“Cih!” Satria berdecih, Ia menyedekapkan kedua tangannya di dada. Matanya menatap kemanapun Nurbaya pergi dari dalam mobil.
Sampai Nurbaya masuk kembali ke dalam rumah bersama pemuda itu. Yang lain pun juga ikutan masuk ke dalam rumah. “Paman, kemana mereka?” Bertanya sembari menempelkan tangan dan wajahnya ke kaca mobil, menatap tajam ke rumah kos-kosan itu.
“Mungkin mereka sedang makan bersama Tuan Muda.” jawab pengawal.
“Ah!!! Kenapa sih Kakak harus makan bersama mereka?! Memangnya apa yang tidak bisa di beli oleh Kakek? Kakek pasti membeli apapun yang aku minta. Kalau kue ulangtahun aku juga bisa membelinya, apalagi?!” Satria mengoceh.
“Yang tidak bisa dibeli itu, waktu bersama teman-teman Nona Nurbaya, Tuan Muda.” gumam Pengawal dalam hati, sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Kalau cuma mau adakan party, di rumah juga bisa! Acara pesta seperti apa yang Kak Aya inginkan? Aku bisa meminta kepada Kakek untuk mewujudkannya! Huh!” Masih mengomel.
Pak Hamdan dan dua pengawal itu hanya bisa saling pandang, mereka hanya di perintahkan mengantar, menjaga keselamatan dan menuruti semua perintah sang cucu majikan.
Cukup lama mereka menunggu di luar. Nurbaya tak kunjung keluar dari rumah itu, beberapa orang yang lain sudah tampak keluar, rumah itu pun sudah terlihat sedikit lengang.
Satria yang sedari tadi mengomel pun tertidur, karena menunggu terlalu lama.
“Pak Hamdan bagaimana ini?” tanya salah satu pengawal itu pada sopir pribadi Satria.
“Saya juga tidak tau Pak, terserah bagaimana baiknya saja.” jawabnya.
“Kalau kita pulang tanpa membawa Nona Nurbaya, Tuan Muda pasti akan marah. Menjemput Nona Nurbaya juga tak mungkin, apa alasan yang masuk akal untuk di ucapkan saat kita menjemputnya?”
“Kalau begitu, kita tunggu saja sampai Tuan Muda terbangun sendiri.” usul Pak Hamdan.
“Hm, kalau itu ide bagus juga. Kalau Tuan Muda kita bangunkan sekarang, pasti tempramen nya buruk dan dia akan mengomel-ngomel lagi, apalagi kalau kita bawa pulang tanpa membawa Nona Nurbaya.” sahut pengawal.
Mereka pun memilih memarkirkan mobilnya di tepi jalan, tidak jauh dari kos-kosan Melani itu. Terus mengintip dan mengamati diam-diam.
__ADS_1
Tak lama, seroang wanita semok masuk ke dalam rumah kos-kosan itu dengan berkacak pinggang. Setelah wanita itu masuk, terdengar jeritan dan teriakan keras dari wanita tersebut, terdengar keributan sahut bersahutan dari dalam rumah itu. Lalu, wanita itu menarik seorang pria dan seorang gadis berambut panjang keluar rumah.
Wanita itu mendorong kuat gadis itu, sampai ia terhenyak dan terduduk di rumput halaman. Semua orang melihat pasangan yang digrebek oleh wanita tersebut.
Pria berparas menawan dan bertubuh bagus itu adalah pria yang mengobrol dengan Nurbaya tadi.
“Dasar wanita murahan, tak punya malu!”
“Hati-hati, jaga pacar kalian, nanti di tikung sama dia, suami orang aja di pacarin, dasar kegatelan!”
“Bla... Bla... Bla...” Para gosiper menghujat Gadis itu.
Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, Ia sangat malu sekali. Ia pun menangis.
“Ada apa Paman?” tanya Satria yang terbangun, ia melihat ke dua pengawal itu sudah keluar, sedangkan Pak Hamdan masih di dalam mobil.
Satria keluar, Ia melihat Nurbaya menutup wajahnya dan menangis.
Satria berlari kencang. “Tuan Muda, tunggu!” ucap Pengawal mencoba mencegah Satria. Namun, anak laki-laki itu mengelak dan tak peduli, berlari kencang dan segera memeluk Nurbaya.
“Kakak kenapa? Apa laki-laki kurang ajar ini menjahati Kakak?” tanya Satria, kemudian ia memelotot melihat pria yang di tarik paksa oleh wanita montok berbaju merah itu.
Satria mengepalkan tinjunya. “Akan aku hancurkan mereka!” ucap Satria kejam.
Ke dua pengawalnya bergidik ngeri, benar saja kata orang, buah tidak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Keluarga Damrah sejak dulu terkenal dingin dan kejam. Lihat saja sekarang tatapan anak kelas 6 SD ini!
Anak kelas 6 SD ini hanya bersifat imut dan menggemaskan pada satu orang, penurut juga pada satu orang. Orang yang sedang terhenyak menangis dengan menutupi wajahnya dengan tangan, siapa lagi kalau bukan Nurbaya.
“Hei br*ngsek! Kau jaga suamimu! Suamimu yang kegatelan, bukan temanku!” sorak Melani yang baru saja terburu-buru keluar dari rumahnya.
Ia langsung menampar wanita semok berbaju merah itu. Lalu menjambak rambut wanita tersebut.
“Dasar wanita jal*ang!” umpat wanita berbaju merah itu, mereka pun saling jambak.
Pria beristri itu diam-diam ingin kabur dari tempat itu, namun ke dua pengawal Satria memegang tangannya. “Beraninya kau menyentuh Kakak ku!”
Satria memukul perut pria yang di pegangi oleh pengawalnya itu beberapa kali. “Jangan sekali pun kau menyentuh Kakak ku, bahkan untuk melihat nya lagi!”
__ADS_1
“Dan satu lagi, tolong kau ajari wanita itu! Jangan sampai ia mengulangi menyentuh Kakak ku lagi, atau tangannya pasti aku patahkan!” ancam Satria dengan sorot mata tajam.
Satria berjalan kembali memeluk Nurbaya dan membawa Nurbaya ke dalam mobil. Pak Hamdan yang melihat itu bergegas menyusul dan membukakan pintu.
“Ayo Kak, kita pergi. Aku menjemput Kakak.” ajak Satria.
“Apa kaki Kakak sangat sakit? Apakah bisa berjalan?” Satria memapah Nurbaya, meletakkan tangan Nurbaya di bahunya. Lutut Nurbaya sedikit gores karena dorongan keras dari wanita tadi.
“Pak ada P3K kan?” tanya Satria setelah Nurbaya masuk ke dalam mobil.
Nurbaya menutup wajahnya kembali, ia masih menangis.
“Kakak tahan ya, sedikit perih.” Satria mengolesi obat di lutut Nurbaya. “Kakak jangan bersedih lagi, aku akan menghajar laki-laki dan wanita itu. Kakak jangan menangis lagi ya.” Satria memeluk Nurbaya.
“Selidiki mereka berdua, berikan mereka pelajaran. Aku tidak mau tau, mereka telah membuat Kakak menangis.” Satria mengirim pesan kepada pengawalnya.
Pengawal yang telah membuat pria itu pingsan, meletakkan pria itu di tepi jalan sepi. Sedangkan wanita itu sudah babak belur di pukuli Melani.
Nurbaya sudah tertidur di atas paha Satria. Sedangkan dua pengawal itu kembali ke tempat mobil terparkir tadi, menemui Satria. “Apa kalian sudah mengahajarnya?” tanya Satria.
“Sudah, Tuan Muda.” jawab dua pengawal itu.
“Kalian pulanglah! Aku akan langsung pulang, jangan kawatir.”
“Tapi Tuan Muda...”
Dua pengawal itu langsung berhenti bicara, melihat tatapan tajam Satria.
“Baiklah, Tuan Muda.”
Pak Hamdan melajukan mobilnya meninggalkan dua pengawal itu.
“Bang, kau lihat sorot mata tajam itu?! Masih kelas 6 SD saja, tapi jiwa memerintah dan jiwa memimpinnya sangat kuat.” ucap salah satu pengawal yang lebih muda.
“Tentu saja, karena dia Tuan Muda keluarga Damrah.” sahut pengawal satu lagi.
Mereka menatap mobil yang di lajukan Hamdan sampai habis tak terlihat lagi.
__ADS_1
***