
Nurbaya pun masuk ke dalam mobil dengan kesal, setelah Nurbaya masuk, Satria juga masuk, lalu mengunci mobil. Mengatur AC mobil, menghidupkan musik dengan alunan lagu romantis yang cukup pelan namun mereka berdua bisa mendengarnya.
Kemudian ia raih pinggang Nurbaya mendekat dengan tubuhnya. Tangannya satu lagi mengangkat dagu Nurbaya.
“Kau mau apa?!” seru Nurbaya takut, Satria terlihat tak seperti biasa, sorot matanya seperti pria lapar akan belaian.
“Ingin melanjutkan kegiatan malam yang tertunda.” sahutnya, masih meraba bibir Nurbaya. Lalu, cup! Sebuah kecupan mendarat sempurna di bibir Nurbaya.
Gadis itu kelimpungan, ia berpikir keras, khawatir jika pemuda ini akan sungguh-sungguh memakannya di siang bolong, bahkan di dalam mobil. Ia tak bisa membayangkan.
Ia melepaskan ciuman itu, mendorong tubuh Satria. “Hentikan!” serunya, namun Satria masih saja menyosor walau Nurbaya mengelak dan mendorong wajah tampannya.
“Jika kau masih bersikap begini, aku akan berteriak!” ancam Nurbaya.
Satria diam sebentar, lalu tersenyum kecil, “Kau ingin berteriak?”
“Ya.”
“Meneriaki suamimu?” tanyanya mengejek.
“Tentu, aku akan berteriak minta tolong, lalu berkata, kalau ada yang melecehkan ku!”
“Oh, coba saja.” Satria makin melebarkan senyumannya sampai memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Lalu, mendekatkan wajah mereka.
“Apa kau sudah melihat di pojok sana, Sayang?” bisiknya, menatap ke arah yang ia sorot dengan matanya.
Nurbaya juga menatap ke arah sana. “Lalu, di sana dan di sana.” tunjuk Satria lagi.
Nurbaya terdiam, ia melihat beberapa pria dengan baju seragam. “Tidakkah kau tau, hanya ada beberapa mobil di sini, kau tau mobil siapa saja yang terparkir di sini?” tanya menatap lekat netra pekat Nurbaya.
Nurbaya terdiam mencerna semua. “Kau sudah mengerti, kan? Bahkan sampai suaramu habis, tak akan ada yang datang menolongmu, lalu manusia seperti apa yang akan bertindak bodoh menggangguku memadu kasih dengan istriku ini?” Mengelus pipi Nurbaya.
Nurbaya langsung merinding. Tamatlah riwayatnya.
'*Oh tidak! Aku belum siap! Bagaimana mungkin aku bercinta dengan dia yang aku anggap adik? Di dalam mobil lagi?'
'Aku sungguh tak pernah berhayal sekali pun, jika akan melakukan pengalaman pertama ku di dalam mobil*.'
Satria mengecup pipi, lalu turun memberikan stempel kepemilikan di leher Nurbaya. “Cantik.” ucapnya bangga akan hasil karyanya sendiri.
__ADS_1
Nurbaya masih berpikir keras, semakin Satria menciumnya, semakin tegang dan panik dirinya. Hingga tangan Satria menelusuk ke dalam bajunya, mengelus perutnya, hendak naik ke atas.
“Tunggu!” Nurbaya menghentikan tangan itu, Ia pegang tangan itu erat.
“Tunggu, jangan terburu-buru.” Nurbaya terus berpikir.
Hingga ia memiliki ide, 'Semoga saja bocah ini masih bisa di bujuk.'
Satria menatap Nurbaya. “Tunggu, jangan buru-buru, bukankah kau mengatakan ingin menjadi pacarku waktu itu?” ucap Nurbaya harap-harap cemas
Melihat Satria diam, Nurbaya melanjutkan ucapannya kembali. “Bagaimana kalau kita pacaran dulu, jangan terburu-buru begini, kamu juga masih muda, memangnya kamu ingin cepat menjadi ayah di usia masih SMA, begini?” Nurbaya melepaskan tangan Satria pelan dari perutnya.
Pelan-pelan Nurbaya meletakkan tangan itu di tubuh Satria sendiri. Lalu, memainkan jarinya di dada Satria yang masih diam.
“Kamu mau 'kan jadi pacarku dulu, bukankah pacaran saat menikah lebih indah?” goda Nurbaya.
Satria memegang dagu Nurbaya dengan jempol dan telunjuknya. “Berapa lama? Sehari, dua hari atau seminggu?”
'What? Mana ada orang berpacaran satu hari? Dasar bocah mesum!'
“Sayang, seminggu itu terlalu cepat. Orang-orang biasanya akan pacaran paling sebentar itu satu sampai dua bulan, bahkan lebih.” Nurbaya terus menggoda, mengelus wajah tampan Satria.
Ehem! Nurbaya berdehem, mengontrol keterkejutannya, rasanya ia ingin mencakar wajah tampan itu, namun ia urungkan, bukannya bisa mencakar malah dia yang akan dicabik-cabik nantinya.
“Bisa kok, biasanya juga bisa.”
“Beda, sekarang kita bulan madu, sudah menikah, aku tak bisa menahan lagi. Aku tersiksa jika menahannya.” Satria berkata terus terang, membuat Nurbaya malu sendiri mendengarkannya.
“Huh, katanya kamu sayang padaku. Waktu itu, kamu ajak aku pacaran, sekarang aku ajak, kamu gak mau. Kamu gak sayang sama aku!” pura-pura merajuk, cemberut, memonyongkan bibirnya ke depan.
“Hm, baiklah.” Satria mengalah.
“Kita pacaran satu bulan. Tapi aku tak janji selama satu bulan itu, aku bisa menahannya.” Satria langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, mengusap wajahnya.
'Yes!' Nurbaya tersenyum menang dalam hati.
“Kalau begitu, kita kencan pertama yuk, kita belanja dan nonton di bioskop, ya!” rengek Nurbaya manja.
Satria yang tadi kecewa, berubah jadi menghangat kembali, tersenyum, mengelus kepala Nurbaya. “Baiklah.” sahutnya.
__ADS_1
Satria memakaikan jacket bertopi dan masker pada Nurbaya, seperti biasa. Nurbaya merengut, ia sangat kesal dengan penampilan ini, ia gerah. “Aku gerah!” tolaknya.
“Mau pakai ini atau aku berubah pikiran membawamu masuk ke kamar hotel?” ancam Satria. Membuat Nurbaya mau tak mau akhirnya memakainya dengan terpaksa juga.
Satria dan Nurbaya duduk menunggu. Baron dan Jaka yang membeli tiket serta cemilan.
Satria masuk ke dalam bioskop dengan bergandengan tangan. Jujur, ia sebenarnya merasa risih. Awalnya ia ingin sekali menyewa satu room bioskop agar hanya dia dan Nurbaya di dalam.
“Hei, mana ada orang yang berkencan seperti itu! Lagian, jangan buang-buang uang, kau hanya boleh menghabiskan uang untuk keperluan yang penting, seperti membeli pakaian dan perhiasanku, yang lainnya tak boleh, termasuk menyewa satu room bioskop.” ucap Nurbaya manja.
Satria dan Nurbaya duduk berdekatan, di samping kiri dan kanan mereka, ada bangku kosong untuk pemisah mereka dengan Jaka dan Baron.
Nurbaya sangat antusias menonton film yang mereka beli, sedangkan Satria hanya menonton wajah Nurbaya di cahaya keremangan yang terkadang terlihat serius dan tertawa.
Setelah menonton, Nurbaya mengajak masuk ke dalam tempat permainan. “Ayo masuk.”
“Kita main ini, ya?” ajak Nurbaya.
'Hm?' Jujur, Satria tak pernah suka permainan. Ia lebih memilih pura-pura suka, lalu ikut melompat-lompat seperti Nurbaya.
Setelah lelah bermain, “Ayo kita beli minum di sini.” Nurbaya menarik lengan Satria manja.
“Kamu mau pesan apa? Lemon tea? Or ice coffee Milo?”
“Ice coffee milo.” sahut Satria.
Mereka pun memesan minuman, begitu pula dengan Baron dan Jaka di meja yang terpisah dari mereka.
“Setelah ini, kita ke salon, ya? Aku sudah lama gak facial.”
'Eh? Ke salon?' Satria tampak berpikir. Ia adalah pemuda yang paling tidak suka ke salon.
“Untuk apa ke salon, kamu sudah sangat cantik begini.” tolak Satria. Ia sungguh tak ingin ke salon.
“Huh! Dasar gak romantis, pelit!” Nurbaya cemberut, menyedot minumannya sampai tandas.
“Loh, kok pelit sih?”
“Kalau bukan pelit apa namanya? Masa aku ajak ke salon banyak alasan, pasti gak mau keluarin duit nih!”
__ADS_1
Mata Satria mendelik, membulat sempurna mendengar perkataan terakhir Nurbaya.