Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Kabar baik dan buruk


__ADS_3

‘Andai waktu bisa berputar kembali, hanya satu yang ingin ku ulang.’ Pandangan mata Melani menerawang.


‘Berulang kali aku menyakitimu dengan sengaja, sakit yang tak pernah ku pahami sebelumnya. Kini ku akui sakitnya sungguh sangat sakit, menyakiti orang yang kita sayangi. Kenapa aku baru menyadarinya di penghujung akhir kebersamaan kita.’ Matanya basah, tergenang air mata.


‘Setidaknya aku bisa tidur lelap sekarang, tak lagi lelah dengan jarak kita yang tak pernah bisa ku gapai, tentang rasa bersalah dan cintaku padamu.’


Melani memegang tangan Satria, “Aku mempercayakan Nurbaya, Adikku yang lemah padamu serta buah hatiku bersama Erian. Aku lelah, aku ingin tidur yang panjang. Lihat, Jaka dan Baron sudah tertidur lelap.” Melani menatap Jaka dan Baron yang tak bernafas lagi.


Tubuh Satria gemetar, tangannya membalas genggaman Melani erat. “Mungkin setelah ini, aku bisa bertemu Erian.” Tersenyum, darah terus mengalir deras.


“Peluk aku.” ucapnya sangat pelan, wajahnya sudah pucat pasi.


Satria memeluk, ia gigit bibir bawahnya menahan tangis. “Sebenarnya aku tak ingin kau peluk, tetapi karena Nurbaya jauh, tempat ini juga bahaya untuknya, setidaknya ada aroma tubuhnya lekat di tubuhmu. Katakan padanya, aku sangat menyayanginya, jika kau tak mengatakan padanya, aku akan meng....” ucapnya pelan nyaris berbisik dengan sangat susah ia berkata, lalu terhenti, tanpa ia selesaikan ucapannya.


Tubuh Melani melemah dalam pelukan Satria. Terkulai. Menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Satria.


Ia gemetar hebat, beberapa saat lalu Erian melepaskan nafas terakhirnya dalam pelukannya juga. Sekarang Jaka, Baron dan Melani. Kepergian mereka penuh dengan luka dan pengorbanan.


Ruth dan bawahannya mendekat perlahan ke arah Satria yang memeluk Melani.


Brugh! Satria jatuh. Pingsan.


***


Satria tersadar. Impus telah terpasang di tubuhnya. Pandangannya menerawang, ia berada di ruangan rawat rumah sakit.


Kini, ia yang menjadi sosok lemah, Nurbaya yang menunggunya disamping ranjang. Ia tak bisa lagi tenang dan pura-pura kuat. Kematian Melani dan 2 pengawal kepercayaan nya itu membuat perasaanya bertambah terguncang hebat.


Sejak dulu, Jaka dan Baron menjadi pengawal pribadinya. Dari kecil hingga menikah dengan Nurbaya, mereka mengorbankan dirinya demi sebuah cinta dan kesetiaan pada majikannya. Kemanakah ia akan mencari sosok pengawal yang seperti itu lagi? Yang bisa sabar saat ia marahi, selalu patuh akan ucapan dan perintah Satria walau saat itu ia masih berumur 5 tahun.

__ADS_1


Erian dan Melani adalah sosok manusia buruk baginya dulu, sepasang manusia pengkhianat pada teman dan pacarnya, wanita yang sangat ia cintai, Nurbaya. Tapi sekarang, sosok mereka bahkan tak bisa ia gambarkan. Cinta mereka yang luar biasa penuh pengorbanan.


“Sayang,” panggil Satria lambat.


“Sayang.” panggilnya lagi.


Nurbaya mengerjap, ia terbangun, cepat berdiri, mendekat ke arah Satria. “Sayang, kamu sudah sadar?” Ia langsung memeluk Satria.


“Mana Ethan?” tanya Satria pertamakali.


“Ethan sedang digendong Nenek di luar. Aku akan segera memanggil Nenek dan Kakek.”


“Tidak, tetaplah dalam pelukanku dulu.” Satria memeluk Nurbaya.


“Sayang, apakah kau masih mengizinkan aku bermanja dan menjadi anak kecil kembali seperti dulu padamu?” lirihnya.


“Tentu, saat kita berdua, kau boleh menjadi manja dan menggemaskan seperti dulu. Kau tahu, bahkan aku sangat senang kau seperti itu. Aku bisa memukul pantatmu, mencubiti pipimu. Menyenangkan.” Nurbaya mengelus punggung dan kepala Satria dalam pelukannya.


“Aku sangat menyayangimu,” Nurbaya merenggangkan pelukannya. “Dan kini aku sangat mencintaimu.” Melepaskan pelukan Satria, memegang wajah pemuda tampan itu.


Satria kembali memeluk Nurbaya dan menangis. “Dia mengatakan juga sangat menyayangimu, dia memelukku karena ia tak bisa memelukmu. Hatiku sakit mendengarnya, sebenarnya ini semua kenapa terjadi?” Satria menangis, bahkan bahunya bergetar hebat dalam pelukan Nurbaya.


“Sakit, sakit rasanya. Perih dan sesak di sini.” pilunya.


***


Saat terjadi penyerangan Satria dan lainnya.


Arnel menerima panggilan telepon dari Humaira, putri satu-satunya. Wanita itu telah lama tak bersua dengannya.

__ADS_1


Ia bersama suaminya memilih menetap di Belanda, bersenang-senang agar tidak setres karena tak punya anak, begitulah alasannya. Di sebrang sana terdengar tawa dan tangisan.


‘Papa, aku hamil.’ ucapnya sembari menangis.


Arnel terkejut mendengarnya. Berita bahagia yang luar biasa.


‘Aku tak menyangka, Pa. Dokter bilang kehamilanku sudah 3 bulan 2 minggu. Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak mual seperti wanita hamil lainnya. Aku hanya sangat suka makan akhir-akhir ini.’ Ronald memeluk Humaira, meletakkan dagunya di bahu Humaira yang asik menelfon dengan Arnel.


‘Badanku bertambah, aku mencoba diet. Saat diet, aku jatuh pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Disitulah aku baru tau kalau hamil. Aku sangat bahagia, Pa.’


“Papa juga sangat bahagia mendengarnya. Jaga kesehatanmu di sana, Sayang.”


‘Iya, Pa.’


Setelah mengakhiri panggilan, Aira langsung bertanya antusias, mereka sangat bahagia mendengarnya, terkembang senyum bahagia menghiasi wajah sepasang manusia renta itu.


Tak lama, panggilan dari Yuhen dan Sekretaris Dewa serta Asisten pribadi Arnel. Kabar buruk!


Handphone yang ia pegang sampai terjatuh, bergegas ia memasukkan Ethan, Nurbaya dan Aira ke ruangan rahasia melalui pintu di dalam kamarnya. Penjagaan ketat di rumah itu semakin ketat. Semua pengawal bahkan pelayan lainnya bersiap.


Cukup lama mereka bersiap, tak ada apapun yang datang, hingga Sekretaris Dewa kembali menelfon. Mengabari Satria sedang dirumah sakit, Melani dan dua pengawalnya telah tiada.


Arnel, Nurbaya, Ethan dan Aira bergegas menuju rumah sakit dengan pengawalan ketat.


***


Selamat hari raya Idul Adha 💓 Mohon maaf lahir dan batin 🙏 Jaga kesehatan selalu ya, Satria Lovers💓🌹


Jangan lupa dukungan, like, vote, favorite, komentar positif dan hadiah untuk mendukung karya ini.💓

__ADS_1


***


__ADS_2