
“Hai, kenapa kamu duduk di sini?” tanya seorang gadis berbaju putih abu-abu, badannya tinggi dan montok, rambut panjang lurus, hitam dan tebal.
Nurbaya mengangkat kepalanya, melihat gadis yang menyapanya.
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Nurbaya. “Aku Melani, kamu Nurbaya kan?”
“Mari, jangan duduk di sini sendirian.” ajaknya.
Nurbaya pun meraih uluran tangan Melani. Mereka berjalan melewati gerombolan gadis-gadis yang menjahili Nurbaya. Melewati para laki-laki yang menatapnya menghina, seperti tak berharga sama sekali.
“Jangan pedulikan mereka, jangan di dengarkan. Anak pembantu juga manusia, juga punya hati dan perasaan.” Melani berhenti tepat di kursi taman sekolah. Ia mengeluarkan botol minuman dan Snack yang berada dalam tas nya.
“Ini makanan yang paling aku suka, ini buatan pelayan di rumahku. Cobalah.” Ia menyodorkannya pada Nurbaya.
“Jika di dunia ini tidak ada pembantu, apa mereka masih bisa tertawa seperti itu. Di atas dunia ini, kita saling membutuhkan satu sama lain, maka dari itu kita harus saling menghargai. Tak ada istilah karena seseorang pembantu atau anak pembantu, kita menghina dan tak ingin berteman dengannya.” tutur Melani sembari mengunyah makanannya.
“Makanlah!” sambungnya lagi.
Nurbaya pun mengambil makanan itu dan mencicipi. “Terimakasih.” ucapnya.
“Sekarang kita berteman ya, kamu jangan khawatir, aku akan melindungi kamu, mulai sekarang kita berteman, ok.” Melani mengulurkan jari kelingkingnya.
Nurbaya menautkan jari itu.
Itulah awal perkenalannya dengan Melani, tepatnya saat Ia kelas 1 SMA di ELV SCHOOL. Arnel memasukkan semua anak pembantunya ke dalam sekolah yang terpandang itu. Bahkan Sekretaris Dewa juga tamatan sekolah ini.
Semenjak pertemuan itu, Melani selalu membela Nurbaya, menghampiri ke kelasnya, menemui di perpustakaan, menunggunya saat terlambat pulang sekolah. Bahkan, pernah menampar beberapa gadis yang menganggu Nurbaya.
“Kamu kenapa tidak melawan? Mulai sekarang kamu harus melawan orang yang menganggumu. Ingat, Majikanmu mengizinkanmu sekolah di sini karena dia menyayangimu, agar masa depanmu cerah, bukan untuk di bully seperti ini!”
“Majikanmu pasti akan membelamu, jika kau bertarung dengan mereka, percayalah!”
“Itu namanya tak tahu diri, aku tak ingin membuat malu keluarga dan Majikan Ibu dan Ayah ku, sudah di sekolahkan di sini, tapi malah ikut berkelahi.”
“Dengar ya, musuh tidak di cari, tapi kalau datang jangan di elak kan.” ucap Melani dengan mengepalkan tinjunya.
Hari itu bahkan di dalam toilet wanita, Melani mengajarkan Nurbaya cara membully dan menampar seseorang.
“Sekarang tampar dia!” pinta Melani.
“Aku tak bisa!” seru Nurbaya khawatir.
__ADS_1
Melani yang memegang wanita itu menghempaskan wanita itu sampai terjatuh. Dia menarik tangan Nurbaya, lalu mengayunkan tangan itu ke wajah gadis yang terhenyak oleh hempasannya.
Gadis itu sering menjelekkan Nurbaya. Ya, kebanyakan para gadis berani bersama, dan sekarang saat sendiri, ia tak berkutik.
“Aku ingatkan sekali lagi, jangan bicara yang tidak-tidak lagi tentang My Soulmate, You Know?”
Melani kemudian menarik tangan Nurbaya keluar dari toilet itu. Lalu tersenyum. “Kenapa kamu bengong saja, hah?” Melani menghentikan langkahnya, menghadap Nurbaya, menangkap wajah itu.
“Apa kamu cemas? Percayalah padaku, dia tidak akan berani mengadu, ini semua kan kesalahannya sendiri yang selalu mengganggumu.”
“You are my friend forever.” Mentoel hidung Nurbaya.
“I will always be by your side. Don't worry, ok.”
Nurbaya langsung memeluk Melani erat.
“Makasih telah mau menjadi temanku, Melani.”
“Hm...” Melani mengelus punggung sahabatnya itu.
Hari berlalu, musim berganti, dari minggu ke minggu, tahun ke tahun, hingga mereka masuk di universitas yang sama.
Mereka masih sama, dekat, saling menjaga dan membantu satu sama lain, terutama Melani, dia selalu menjadi pelindung yang kuat, dia adalah keturunan kaya anak konglomerat, semua fasilitas mencukupinya, cantik, pintar dan tangguh.
“Ah, maaf, maaf.” ucap Nurbaya merundukan kepalanya.
“Heh, angkat kepalamu, aku sudah ingatkan padamu bukan, jangan pernah menundukkan kepalamu pada siapapun, kau bukan pembantu mereka, jangan bersifat seperti pelayan begitu. Ramah boleh, tapi jangan menunjukkan sifat yang bisa membuat orang berpikir untuk membully kamu lagi! Ini tempat yang baru.” bisik Melani.
Nurbaya dan Melani pun sama-sama mengangkat kepalanya.
“Iya, tidak apa-apa, aku juga minta maaf ya, aku juga salah, karena terburu-buru, jadi tidak bisa menghindar.” ucap pemuda itu dengan senyuman yang indah menawan.
Nurbaya dan Melani mematung terpesona oleh sosok tampan di hadapan mereka.
“Maaf ya.” ucap pemuda itu lagi. “Ok.” jawab Melani yang cepat menyadari dirinya dari godaan makhluk Tuhan yang tampan itu.
“Woi, sampai ngences. Tutup mulutmu. Hehehehe.” Melani terkekeh mengejek Nurbaya. Setelah kepergian pemuda itu.
“Apa-an sih, enggak kok!” elak Nurbaya.
“Udah ketahuan, masih saja bohong, dasar kamu ya.” Melani menggelitik Nurbaya. Ketawa ketiwi sambil mencari kelas mereka.
__ADS_1
Sesampainya di kelas. Mereka kembali bertemu dengan pemuda yang di tabrak itu.
“Hai bertemu lagi ya, perkenalkan aku Erian.” Mengulurkan tangan.
“Melani.” Melani menjabat tangan itu.
“Nurbaya. Salam kenal.” ucap Nurbaya membalas uluran tangan di hadapannya.
“Kalian duduk di mana?” tanya Erian lagi.
“Belum dapat sih, yang penting kami duduknya dekatan.” jawab Melani.
“Kalau begitu di depanku saja, ini masih kosong, kalian duduk di sini saja.”
“Baiklah.” Melani langsung mengajak Nurbaya, meletakkan tas mereka di meja.
Waktu pun terus berputar, mereka bertiga menjadi saling akrab satu sama lain.
“Nurbaya, aku ingin kau berkata jujur. Apa kau menyukai Erian?” tanya Melani serius.
“Kenapa kamu bertanya begitu?” tanya Nurbaya lagi.
“Kalau aku bertanya jangan balas bertanya lagi, jawab aja, isshh!” Melani merebahkan kepalanya di meja.
“Dia kan teman kita, tentu aku menyukainya. Kalau tidak suka, kita tidak akan berteman kan?”
“Bukan itu maksudku, yang seperti ini.” Melani mengambil tangan Nurbaya. “Ada berdebar di sini, saat kau berada di dekatnya.” Meletakkan tangan Nurbaya di dada Nurbaya sendiri.
“Aku tak paham.”
“Bukan suka sebagai teman, tapi suka sebagai orang yang ingin kamu miliki, seperti jatuh cinta?” jelas Melani.
“Hahahaha. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Mana mungkin aku menyukainya, dia itu teman kita. Tidaklah baik, teman di jadikan pacar, pertemanan kita akan hancur.” balas Nurbaya tersenyum.
“Sungguh?” tanya Melani, lalu dijawab dengan anggukan oleh Nurbaya.
Melani langsung memeluk Nurbaya.
Namun kenyataannya, setelah Melani bertanya berkali-kali dengan jawaban yang sama, kalau Nurbaya tidak akan berpacaran dengan Erian, kenyataannya suatu hari mereka jadian. Membuat Melani sakit hati.
Melani memilih untuk menghindar dan pergi, dengan beribu macam alasan. Mulai dari sibuk, acara keluarga dan lainnya. Hingga suatu hari, beginilah kejadiannya, dia bermain dengan Erian.
__ADS_1
***