
Dianjurkan membaca bab ini dalam keadaan sudah berbuka puasa💪🙏🌹
_______________
Malam hari.
Rembulan sedang di kelilingi bintang yang berkedip indah. Di dalam kamar, Arnel dan Aira terdiam dan masih duduk mematung. “Sayang, apakah mungkin kita mewujudkan keinginan Satria?” tanya Aira.
“Aku juga bingung, Sayang.” sahut Arnel.
“Ini semua karena kau memanjakannya.” Aira menyalahkan Arnel.
“Kau juga memanjakannya.” Menjawab pelan, tak ingin sang istri mengamuknya.
“Tapi kau berlebihan!” Masih saling menyalahi.
Tadi pagi.
“Janji akan mewujudkan keinginan ku?” ucap Satria.
“Tentu, jika kami sanggup mewujudkan nya.” sahut Arnel.
“Aku ingin menikah.” ucap Satria pasti.
Doaaar! Serasa di sambar halilintar, Bzzzz!!! Arnel dan Aira terkejut bukan main, permintaan seperti apa yang diminta cucu kesayangannya ini?
“Me, menikah?” tanya Aira terbata-bata.
__ADS_1
“Iya.” jawab Satria bersungguh-sungguh.
“Yang benar saja, menikah itu bukan hal main-main. Tak bisa di uji coba, seperti kau latihan mengendalikan proyek. Menikah itu sakral.” protes Arnel.
“Siapa yang main-main.” sahut Satria ketus.
“Aku bersungguh-sungguh ingin menikah.” sambungnya lagi.
“Dengan siapa kau ingin menikah?” tanya Arnel lagi.
“Dengan Kakak.”
Aira benar-benar terkejut, matanya membeliak, membulat sempurna. “Ma, maksudnya bagaimana?” tanya Aira lagi.
“Aku ingin menikah dengan Kakak. Jika Kakek dan Nenek merestui, aku akan menikahi Kakak. Mau tidak mau, dia harus mau.”
“Tidak bisa begitu, Sayang. Nenek tahu kau menyayangi kakakmu itu, namun kalian tak bisa menikah, dia akan menikah dengan pacarnya, Erian. Kau ingat pemuda itu kan? Dia pacar Nurbaya.” jelas Aira.
“Sayang, Nenek paham, kau tak ingin kehilangan kakakmu, tetapi menikah itu bukan hal yang bisa dipermainkan apalagi di paksa. Apa kamu tak sedih, jika Nurbaya bersedih karena di pisahkan dengan pacarnya?”
“Apakah Nurbaya bersedia menikah denganmu secara terpaksa?”
Satria terdiam cukup lama.
“Aku hanya meminta kalian setuju, aku akan menikahi Kakak, bagaimana pun caranya. Titik!” Pemuda itu pergi dengan wajah masam, meninggalkan Kakek dan Nenek itu.
Haaaahhhhh! Arnel dan Aira menghela nafas kasar, jika mengingat betapa keras kepalanya Satria akan sesuatu yang di inginkannya.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu, Sayang?”
“Menurutku, mau tidak mau, kita hanya bisa merestui bukan? Kau tau betapa keras kepalanya Satria, kan?”
“Hm,” Arnel menghela nafas kembali.
“Sayang, aku....” ucapan Arnel terpotong.
“Sssstt! Aku tau yang kamu pikirkan, aku tahu. Aku juga begitu, mana mungkin melepaskan cucu semata wayang kita.”
“Kita akan meminta satu syarat padanya, kalau begitu. Bagaimana?” usul Aira.
“Syarat?” tanya Arnel bingung. Aira mengangguk, lalu berbisik di telinga Arnel.
Seketika wajah Kakek itu berbinar. “Kamu memang istriku yang paling cantik dan pintar.” puji Arnel.
Senyuman terkembang di wajah Kakek dan Nenek itu.
“Besok kita akan berbicara padanya, ok!” Arnel mengangguk setuju.
Tak lama, setelah berbincang, Arnel mulai menyosor istrinya. Menciumi wajah sampai leher istrinya. “Sayang.” panggilnya.
Ia tatap wajah dan manik mata Aira dalam, mencaritahu jawaban di sana, apakah istrinya itu mengizinkan adegan selanjutnya atau tidak. Tak ada penolakan di sana.
Sesaat Arnel terkejut, Istrinya itu menangkap wajahnya, mengecup bibirnya penuh kasih sayang bercampur hasrat membara.
Terjadi dan terjadilah, sesuatu yang menyenangkan, mendebarkan , membahagiakan. Kakek tua itu walaupun sudah tua tenaganya masih kuat seperti anak muda yang sedang candu.
__ADS_1
Menyusuri setiap lekuk kulit tubuh istrinya yang sudah mulai keriput itu, memberikan ciuman penuh kasih sayang sekaligus menuntut. Kakek dan Nenek itu bermandikan cinta di tengah malam yang sunyi.
***