
“Tempat yang kamu sukai?” Menatap Satria penuh keingintahuan.
“Iya.” Mengangguk dan tersenyum.
“Ayo, kemari.” Satria menggenggam tangan Nurbaya, berjalan berdua, cukup jauh jaraknya dan sedikit sepi.
Ada jalan setapak diantara pohon pinus dan kelapa, lalu ada tulisan taman Cikyam dengan tanda panah lurus ke depan. Mereka terus berjalan, Satria masih menggenggam tangan Nurbaya, sekali-kali menciumi jemari itu.
Baron dan Jaka tentu saja masih setia berjalan di belakang mereka, menyaksikan majikan mereka yang tampak rukun bahagia.
Tak lama, mereka pun sampai di taman bunga yang berwarna kuning itu. “Apa ini tempat yang kamu sukai?” tanya Nurbaya terpana menatap hamparan bunga berwarna kuning yang luas.
Satria tersenyum manish. “Yang paling aku sukai....” Dia menggantung ucapannya, lalu melepaskan genggaman tangannya, membentuk kotak persegi empat, seolah sedang mengambil wajah Nurbaya.
“Yang sangat aku sukai adalah ini.” sambungnya lagi.
“Huh, gombal.” ucap Nurbaya dengan wajah bersemu merah, Ia merapikan rumput yang sudah mati dan duduk di tengah-tengah hamparan bunga itu.
“Apa kamu suka melihatnya?”
“Ya, aku suka di sini bersamamu.” Menjawab spontan.
Satria tersenyum, memilih duduk juga di samping Nurbaya, mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pipi Nurbaya. “Aku juga.” balasnya lembut.
“Apa kau tahu Sayang, kenapa aku membawamu berlibur ke Sumatra, bukan keluar negri?” Menatap wajah Nurbaya dari samping yang menatap lurus hamparan bunga.
“Tidak, kenapa?” Nurbaya memutar pandangannya, menatap wajah tampan Satria yang menatapnya.
“Sejak kecil, Mama dan Papa selalu mengatakan Indonesia padaku, lalu sering bercerita tentang Kakak, Ibu, dan lainnya. Aku sering di suguhkan makanan Indonesia yang enak sesuai seleraku.”
“Mama bilang, Korea adalah negara ginseng, indah, banyak bunga sakura dan pohon lainnya. Tetapi, Mama dan Papa suka Indonesia, Negara yang memiliki semuanya, ada gunung, hutan, laut, danau, lembah, sungai, taman, cuaca tropisnya tidak membuat terlalu panas dan dingin.”
“Berbeda dengan Korea, adakalanya terlalu dingin dan panas, kami harus bersiap-siap akan hal itu. Aku suka dengan negara Korea, namun aku tertarik juga dengan Indonesia.”
“Hari itu, Mama dan Papa berjanji akan mempertemukan kita.” Satria mengambil tangan Nurbaya, lalu menggenggamnya erat.
__ADS_1
“Kita sering melakukan video call bersama, aku sangat penasaran denganmu saat itu. Kamu terlihat begitu bahagia, aku suka.”
“Pujian Mama dan Papa padamu sebenarnya membuatku cemburu, Hm....” Menghela nafas.
“Perjalanan pulang dari Korea ke Indonesia membuatku berdebar kala itu, aku akan bertemu denganmu dan melihat Negara Indonesia yang dibanggakan kedua orangtuaku. Perjalanan yang....” Satria meremas tangan Nurbaya tanpa sengaja, pandangannya tertunduk ke bawah, sendu.
Nurbaya memeluknya. “Lalu, kita akhirnya bertemu, 'kan?”
“Ya, pertama kali kita bertemu saat Mama dan Papa sudah tiada dan terbujur dirumah. Kemudian, setelah selang beberapa hari, aku melihatmu berpakaian sekolah. Sangat cantik, seperti bidadari. Mama sering bilang, kalau kamu mirip peri, aku percaya itu.”
Nurbaya tersenyum kecil. Dulu, Ibunya juga sering bilang, kalau Agung ayahnya Satria adalah pangeran tampan, itu hanya bujukan untuk anak kecil saja. Ya, walau kenyataannya Agung memanglah sangat tampan, sampai menurunkan ketampanannya pada Satria.
“Aku menyukaimu sejak itu.” Mencium jemari Nurbaya.
“Setiap tahun Nenek sering berkunjung kerumah seseorang yang tak ku kenal, di sana juga ada taman bunga dan rumah kaca. Kakek juga sering pergi ke taman bunga di samping danau, taman bunga mawar merah yang ditengahnya ada mawar putih.”
“Aku awalnya tak suka bunga, karena terbiasa, aku menjadi suka. Biasanya, aku hanya melihat kebun bunga mawar, melati dan beberapa tanaman bunga hias. Sedangkan taman bunga Cikyam ini sangat unik.”
“Bunganya tidaklah harum, namun indah di pandang, menyejukkan.”
Mereka saling membelai wajah satu sama lain, lalu tanpa diminta tubuh mereka refleks mendekat, bibir merekapun bertemu. Hembusan angin menemani ciuman romantis mereka ditengah hamparan bunga.
Baron dan Jaka, mengalihkan pandangannya sejak tadi, memunggungi mereka.
Ciuman mereka pun terlepas. Saling melempar senyum malu-malu. “Hm, kamu tidak ingin ke Korea lagi?” tanya Nurbaya.
“Pasti ingin, tapi aku lebih ingin di sini, bersamamu, bersama Nenek dan Kakek. Di sana, semua keluarga sibuk, aku tidak betah. Lagi pula, aku belum menjelajahi Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Aku bertekad ingin keliling Indonesia dulu, baru ke Luar Negri. Untuk apa kita ke negri orang terlebih dahulu, jika Negri kita sendiri belum pernah kita kunjungi dan ketahui keindahannya.” Satria tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang rapi berjajar.
“Hehehehe. Iya.”
“Apa kau ingin ku ajak keluar negri?”
“Iya, tapi nanti, setelah kita keliling Indonesia.” jawab Nurbaya tersenyum manis. Satria mengacak-acak rambutnya, lalu berdiri.
Ia menjulurkan tangannya ke arah Nurbaya, tangannya pun disambut. Mereka berdua kembali berjalan di hamparan bunga-bunga, beberapa bunga di petik oleh Satria dan memberikannya pada Nurbaya.
“Sayang, kenapa bunga ini begitu luas? Apakah sengaja di tanam atau tumbuh liar?” Nurbaya mencopot kelopak bunga satu persatu, menatap Satria, menunggu jawaban.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu pasti. Artikel yang aku baca, awalnya bunga ini tumbuh liar, karena daun dan akarnya bisa di gunakan untuk obat, tumbuhan ini jadi dibutuhkan dan diperjual belikan akarnya.”
“Tumbuhan yang awalnya tumbuh liar dan tidak terawat ini di perhatikan masyarakat sekitar, lalu diusulkan untuk mengembangbiakannya di sini. Bunganya yang berwarna kuning terlihat cantik, menjadi daya tarik sendiri bagi orang-orang yang berkunjung di sini.”
Nurbaya mengangguk. “Begitu banyak keindahan Indonesia yang tidak kita ketahui, ya.” Bergumam.
“Ya, karena itu, aku ingin berkeliling Indonesia dulu bersamamu, mencicipi kuliner Indonesia, mengunjungi tempat-tempat indah lainnya.”
Nurbaya mendekat, mengalungkan tangannya di leher Satria. “Entah kenapa, aku semakin jatuh hati padamu, apa kau memberiku sesuatu, sehingga aku terpikat begini, hm?”
“Entahlah, namun yang pasti, aku hanya memberikan seluruh cinta dan kasih sayangku padamu seorang.” Mendekatkan wajahnya. Lalu, menciumi bibir cantik istrinya itu.
Adegan romantis mereka kembali membuat merah wajah Jaka dan Baron, mereka segera mengalihkan pandangan. Benar-benar pekerjaan yang berat mengawal sepasang manusia yang mabuk cinta. Sabar, hanya kata sabar yang bisa mewakili perasaan mereka berdua saat ini.
Ciuman mereka cukup lama kali ini, mereka mengulangi ciuman itu beberapa kali sampai kehabisan nafas dan sama-sama tersenyum malu-malu tapi mau.
Satria menggigit bibir bawahnya, mengacak-acak rambut Nurbaya. “Mentang-mentang sekarang lebih tinggi dariku, rambutku di acak-acak.” Menggembungkan pipinya.
“Hehehehe. Dulu, siapa yang sering mengacak rambutku?”
“Mencubit pipiku?”
“Menepuk pantat ku dan... Memegangi ekhem ku?” Satria sedikit malu mengatakannya. Nurbaya pun juga sangat malu mengingatnya.
“Lalu, siapa yang sering menciumiku?” Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Menahan tawa, melihat wajah Nurbaya memerah karena malu.
***
*Promo💓
Hai Reader, maaf ya, lama tak update dan masih 1 Bab perhari. Aku baru sembuh, kemarin aku hamil, bedrest, aku sudah 4x keguguran beruntun, karena kondisiku lemah, aku dirawat di RS dan kehamilanku pun tak bisa diselamatkan.
Di RS, aku dikatakan positif Corona, karena itu aku sedih, galau, tak enak semua rasanya. Alhamdulillah, sekarang aku sudah baik. Semoga Reader semua sehat selalu, jaga kesehatannya, ya. Terhindar dari segala penyakit dan dimudahkan rezekinya. Aamiin💓🌷🌹
Buat yang suka membaca, Mari kunjungi cerita sederhana saya lainnya, judulnya SUAMI DADAKAN (Janji Masa Kecil) bisa dilihat dari infoku.
Semoga Reader suka💓 Terimakasih banyak.
__ADS_1