
“Aku akan memanggil Nenek dan Kakek.” Melepaskan pelukan dan menghapus air mata Satria.
Pemuda tampan itu kini terlihat seperti Satria kecil yang dulu. Nurbaya berjalan, membuka pintu, Aira yang menggendong Ethan bergegas mendekatinya.
“Kenapa?” Raut wajahnya cemas.
“Satria sudah sadar, Nek, Kek.” Menatap gantian sepasang manusia itu.
Aira dan Arnel tersenyum, bergegas mereka masuk ke dalam. Memeluk dan mencium Satria.
***
Beberapa hari kemudian,
Yuhen kembali datang kerumah Aira, melihat keadaan Satria. Ia membawa anak kecil yang diselamatkan Nurbaya kala itu. Rambut panjangnya telah di potong.
“Bukannya waktu itu yang aku tolong perempuan, ya? Rambut ikal nan panjang?” Nurbaya bertanya pada Yuhen dan Ruth.
“Dia laki-laki, rambut panjangnya telah kami potong. Dia yatim piatu, apakah kalian mau merawatnya? Ia sangat ingin dekat denganmu.” tanya Yuhen pada Nurbaya dan Satria.
Anak kecil itu menatap Nurbaya penuh harap. “Ya ampun, kau menggemaskan sekali.” Nurbaya langsung mencubiti pipi anak kecil berumur 5 tahun itu.
“Bukankah karena dia semua masalah ini terjadi?” ucap Satria, ia merasa semua ini terjadi karena Nurbaya menyelamatkan anak kecil ini.
“Bukan, Dia korban. Saat menyelamatkannya kemarin, semuanya sudah selesai. Masalah ini terjadi karena kau membuka kanai-kanai.” sahut Yuhen.
Satria menatap mata Neneknya dalam. Apakah ini semua salahnya? Bertanya melalui sorot mata itu.
“Aku punya saran untuk kalian. Sebaiknya mereka tinggal di Korea dulu, di tempat keluarga mamanya.”
“Bawalah anak ini, aku telah menukar semua data baru untuknya. Oh ya, aku lupa, aku masih mengosongkan namanya, dia harus memiliki nama baru. Kalian bisa memberi dia nama.” tutur Yuhen.
“Kenapa harus kami merawatnya?” sergah Satria.
“Dia suka dengan istrimu, meminta untuk tinggal bersama kalian. Apa kau tak kasihan dengan anak yatim piatu ini?” tanya Yuhen.
Mau tak mau akhirnya Satria hanya menurut dengan semua usulan Yuhen, lelaki yang dianggap Kakak oleh Neneknya.
**
Nama anak kecil itu telah di ganti oleh Nurbaya. Nama yang dulunya Alexei Dimitri kini menjadi Kendrick Audrey, di panggil dengan Ken, bukan lagi Alex. Anak kecil itu tampak bahagia dengan nama pemberian Nurbaya.
Surat-surat tentang Ken sudah selesai di buat dan diganti semua infonya oleh Yuhen. Ia juga menulis surat adopsi, pasport dan semua perlengkapan penting.
__ADS_1
“Baik-baiklah di sana, kau telah menjadi Ken putra mereka, bukan lagi Alex putra Dimitri yang diburon bersama 2 saudaramu lainnnya.” bisik Yuhen pelan pada anak kecil itu.
“Terimakasih, Kek.” jawabnya tersenyum.
Aira dan Arnel melepas kepergian mereka, Ethan bayi mungil yang membuat Aira berurai air mata. Ia telah jatuh cinta pada bayi itu sejak berjumpa pertamakalinya. Kini, harus melepaskan bayi lucu itu bersama cucu dan cucu menantunya.
**
Kabar kehamilan Humaira hamil membuat semua keluarga bahagia, apalagi Rido Arlan Wijaya. Dia adalah ayah mertua Humaira sekaligus sahabat baik Arnel.
Beberapa bulan ini kehidupan damai Arnel dan semuanya berjalan seperti biasa. Hingga hampir tiba waktu persalinan Humaira. Arnel dan Aira bersiap berangkat ke Belanda untuk menemani putri mereka bersalin.
Walupun di sana sudah ada Rido dan Istrinya,
Perjalanan Arnel dan Aira ke Belanda adalah suatu masalah yang sesungguhnya yang tak mereka sadari. Seorang mata-mata menguntit mereka, mengikuti sampai ke Belanda.
Sesampainya di Belanda, mata-mata itu memperhatikan daerah. Ia menetap tak jauh dari rumah Humaira. Selalu mengintai mereka.
Humaira akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Semua keluarga menangis haru. Bagaimana tidak? Umur Humaira melahirkan sekarang sudah 39 tahun.
Tiga bulan kemudian, Arnel, Aira, Rido dan Istrinya telah pulang kembali ke Indonesia. Mereka menyarankan Humaira dan Ronald tetap di Belanda sampai bayinya besar.
Tiga bulan itu juga telah memberi mata-mata dan orang-orangnya mengumpulkan kekuatan.
**
Dor!
Sapa sopan pelayan itu di sambut dengan tembakan di keningnya. Ronald dan Humaira terdiam mendengar suara tembakan itu, Ronald hendak melihatnya, namun pelayan laki-laki dan perempuan berlari ke arahnya.
“Red jezelf! (Selamatkan dirimu)”
“Gevaar! het zijn moordenaars! (Bahaya! Mereka kelompok pembunuh!)”
Ronald menggendong putranya, pelayan laki-laki membantu Humaira. Mereka masuk ke dalam tempat persembunyian.
Di luar, pengawal yang di sewa oleh Rido dan Arnel sudah meregang nyawa semua, dibantai oleh mereka. Pelayan yang tak berdosa lainnya juga mereka bunuh.
Yang selamat hanya pelayan perempuan yang kini juga ikut masuk ke dalam tempat persembunyian bersama dengan Ronald dan Humaira. Sedangkan pelayan laki-laki pemberi kabar tadi masih di luar. Ia telah menelpon polisi dan teman-temannya. Berharap siapapun yang lebih dulu datang menolong mereka.
Pelayan itu meletakkan beberapa jebakan, seperti mainan anak Humaira, lalu ia juga bersembunyi dengan pisau di tangannya.
Tak lama, beberapa mobil teman-temannya berhenti. Namun naas, kehadiran mereka seolah hanya untuk menunda waktu untuk kematiannya, semua temannya di tembak mati di tempat.
__ADS_1
Tak ada cara lain, pikirannya hanya satu. Mencari cara untuk keluar dari rumah ini.
“Zoek tot ze elkaar ontmoeten, laat ze sterven! (Temukan mereka, pastikan mati!)” perintah seseorang terdengar jelas.
Deru tapak semakin dekat, pelayan itu berdebar hebat. Tak ada lagi selain kematian yang menyambutnya. Sekarang pistol telah mengarah di keningnya.
Dor!
Sebelum nafasnya benar-benar habis, ia masih sempat membalas dan menusuk perut orang yang menembaknya. Menahan beberapa tembakan lagi saat ia hendak menusuk yang lain, sampai ia tersungkur bersimbah darah.
Mereka menyebar, tak bersua. Cukup lama mereka menggeledah rumah. Hingga seseorang menemukan tempat persembunyian mereka. Karena satu orang, pelayan wanita itu bisa melumpuhkannya. Mengambil pistol penembak itu.
Beberapa orang kembali masuk. Ronald mematahkan lehernya, begitupula dengan pelayan itu juga membekap mulut dan hidungnya sampai mati. Pelayan itu dan Ronald sengaja bermain pelan agar tak membuat suara ribut yang membahayakan mereka.
Ronald mengambil semua senjata, menyerahkan satu pada Humaira yang menggendong putranya. Bayinya yang baru berumur 3 bulan itu sedang tertidur pulas. Ia sembunyikan bayi itu ke dalam kotak.
Semakin lama, suara ribut pun tak bisa di elakkan, apalagi bertambah banyaknya yang masuk ke dalam ruangan persembunyian mereka.
Suara tembakan memekakkan telinga, Ronald, pelayan itu dan Humaira menembaki siapapun yang masuk, mereka beradu tembak. Tembakan itu melukai Ronald di lengan dan kakinya, namun fatal untuk Humaira dan pelayannya.
Kehadiran polisi bisa membantu Ronald, sehingga semua pembunuh itu mati di tembak oleh polisi. Ronald memeluk Humaira yang bersimbah darah, kemudian membuka sebuah peti kecil yang di tutupi. Tadi, di sana mereka menyembunyikan bayinya.
Bayi itu masih tertidur pulas, walaupun suara tembakan memekakkan gendang telinga.
**
Ronald pulang ke Indonesia bersama mayat Humaira. Kedatangannya membuat kesedihan yang besar. Kabar itu terdengar oleh Satria, ia juga memutuskan pulang ke Indonesia, walau dilarang. Dengan menggunakan Jet pribadi, ia tetap pulang.
Setelah Humaira selesai dimakamkan, semua masalah tak berakhir sampai di sana. Orang-orang mulai kabur dan berlari mendengar suara tembakan di area kuburan itu.
Dor! Dor! Suara tembakan semakin bersahutan.
Suara tembakan terhenti sesaat, Nurbaya menjadi tawanan seseorang. Kelompok mereka terpojok, Ken yang di pegangi tangannya oleh Nurbaya juga di todong pistol.
Tiba-tiba Ken menyandung kaki bandit itu. Lalu menusuk tempat sensitif nya dengan pisau kecil yang entah sejak kapan anak kecil itu punya.
Kembali ricuh. Arnel dan Satria berlari ke arah Nurbaya, Yuhen dan Ronald berlari ke arah Aira.
Dor! Arnel dan Satria tertembak.
Dor! Yuhen dan Ronald tertembak.
Kini, Nurbaya mematung, tangannya gemetar melihat tumpukan manusia bersimbah darah dan terluka. Ken memegang erat tangan Nurbaya yang gemetar. Tangan itu berkeringat.
__ADS_1
***