Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Bukalah Hatimu Untukku


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu.


Resep yang diberikan oleh Dokter Haikal sangat manjur, kini tinggal memberikan obat agar tidak meninggalkan bekas di wajah tampan Satria.


Niat hati ingin mengajak Nurbaya jalan-jalan sore ini. Namun gadis itu tak ada di kamarnya, bahkan ia berkeliling mencari di sekitar rumah dan terakir ia bertanya pada Bi Mona, rupanya gadis itu pergi sejak pagi.


Ketika mimpi begitu indah datang di angan, tapi tidak terwujud, saat kau berlari menuju anganmu, tapi tak pernah sampai.


Saat berharap keramahan cinta datang memeluk, tetapi tak pernah dapat. Apapun yang terjadi, Satria akan selalu ada untuk Nurbaya. Tak akan membiarkan gadis itu bersedih.


Ia mengenggam hatinya begitu erat, cukup satu waktu untuk satu cinta. Yaitu Nurbaya.


Ia kembali melacak Nurbaya dan pengawal yang mengikuti Nurbaya diam-diam telah mengirim lokasi gadis itu.


Sesampainya di lokasi, gadis itu terkulai, bersandar di tembok pagar rumah orang lain, rambut kunsai, mata bengkak. Satria mendekat, lalu memeluk gadis itu.


“Kakak.” panggil Satria lembut, Ia membelai rambut Nurbaya yang berantakan, lalu merapikannya.


Menghapus air mata yang mengalir di pipi, menyandang tas sligbag milik Nurbaya, lalu menggendong gadis itu ke arah mobil. Gadis itu semakin menangis, memeluk Satria erat.


Bahkan gadis itu juga menghapus ingusnya di baju kemeja Satria. “Kakak apa yang kau lakukan, kau jorok sekali!” protes Satria jijik. Langsung meletakkan cepat tubuh Nurbaya ke dalam mobil.


“Iiisssh!” Satria mengeluh, langsung membuka kemejanya, menggantinya dengan jacket.


Memberikan tisu pada Nurbaya, lalu menatap Pak Hamdan dengan kode alis naik ke atas.


Pak Hamdan pun mengerti, ia langsung keluar, masuk ke dalam mobil pengawal yang mengiringi mereka di belakang tadi.


“Kakak kenapa?” Satria menelaah setiap inci tubuh Nurbaya dengan seksama.


Pakaian yang berantakan, rambut yang kunsai, mata bengkak, bibir bawah berdarah.


“Apa yang terjadi dengan Kakak?” tanyanya pelan dan lembut, Ia menggenggam tangan Nurbaya.


Khawatir, ia sangat khawatir. Bahkan pikirannya sampai melayang ke hal yang tidak-tidak. Matanya menelusuri leher bahkan dada yang tertutupi baju itu. Tak ada yang aneh, tak ada tanda kissmark di leher, buah baju masih baik-baik saja.


Matanya kembali menelusuri kaki, memperhatikan paha yang tertutup celana itu, sepertinya tak ada bercak darah. Semoga saja pikiran konyolnya tidak pernah terjadi. Jika terjadi, dia akan membunuh manusia itu dengan tangannya sendiri.


“Erian...” ucap Nurbaya lirih.


“Kenapa dia?” tanya Satria penasaran.


“Dia, huhuhuhu.” Nurbaya kembali menangis terisak-isak.

__ADS_1


“Dia kenapa?” Pikiran Satria mulai bercampur aduk.


“Dia tidak melakukan apa-apa pada Kakak, kan?”


“Dia menyakitiku.” lirih Nurbaya.


“Menyakiti Kakak? Kurang ajar, akan aku bunuh dia!” Satria langsung emosi dan salah paham.


“Dia berselingkuh, huhuhu.”


Eh?!


Satria yang tadi emosi langsung melunak, “Maksud Kakak, bagaimana?” bertanya serius, ada kebahagiaan di dalam hatinya.


“Aku melihatnya dengan wanita lain.” jelas Nurbaya masih menangis.


“Bagus dong Kak, berarti belangnya sudah ketahuan, sebelum Kakak menikah dengannya.” jawab Satria tersenyum.


“Apa yang kau tahu bocah, kau hanya anak kecil yang tak akan pernah mengerti, kau tak akan paham.”


“Kau tak akan paham rasanya mencintai, kau tak akan paham rasanya mencintai dengan tulus. Tapi orang itu tak menyukaimu, bahkan mengatakan kalau dia menyukai orang lain, apakah kau tahu?” seru Nurbaya.


Satria menatap manik mata Nurbaya yang basah karena air mata itu.


“Kau tak akan paham rasa sakitnya, kau tak akan mengerti seberapa banyak aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya, tapi dia menilai aku tak berusaha, aku hanya wanita sakit, yang tak pantas menjadi pasangannya. Huhuhuhu.” Menangis.


Satria memeluk erat Nurbaya. “Aku tahu Kak, aku sangat paham, aku sangat mengerti.”


“Aku pernah merasakan itu semua.” ucap Satria.


Beberapa menit suasana sunyi, hanya terdengar suara isakan tangis Nurbaya.


“Terimakasih kau telah menghibur, Adik kecilku.” Nurbaya tersenyum.


Wajahnya sangat lucu sekarang, matanya sangat sipit dan bengkak, ujung hidungnya merah, “Apa yang kau rasakan?” tanyanya menatap Satria.


“Aku merasa lega telah menemui Kakak, menangislah sepuasnya di hadapanku.” sahut Satria.


“Hanya itu?” tanya Nurbaya, lalu memukul lengan Satria.


Satria mengernyitkan keningnya, “Bukankah tadi kau katakan kau pernah merasakan semuanya? Kau sudah punya pacar ya, diam-diam tak memberitahukan Kakak? Lalu kau diselingkuhi?” selidik Nurbaya.


Satria tersenyum hambar. Sia-sia juga kalau dia menjelaskan pada Nurbaya, bahkan entah berapa kali ia telah mengutarakan perasaannya yang bersambut selorohan dari Nurbaya.

__ADS_1


Di hati gadis itu hanya ada Erian, semua yang dilakukan Satria yang begitu tulus padanya tak pernah di anggap, atau ia memang tipe gadis yang tidak peka. Entahlah...


Satria menghela nafasnya kasar.


Ia memegang kedua pipi Nurbaya, menatapnya dalam. “Apa yang tidak kau miliki yang membuat Erian itu tidak puas?” tanyanya.


“Aku tidak bisa membahagiakan nya, aku tidak seperti selingkuhannya yang membuatnya bahagia...” lirih Nurbaya, pandangan matanya menunduk.


“Lihat aku, Kak.” perintah Satria.


“Apa yang tak kau miliki itu, akan aku berikan padamu, apa yang tak sempurna di dirimu, akan aku sempurnakan. Bukalah hatimu untukku.” Berkata sungguh-sungguh.


Nurbaya menatap manik mata Satria lekat, hatinya sempat meragu, ini sungguhan ataukah hanya rasa sayang seorang adik? Ia pun terkekeh.


“Apa kau tau, apa yang tak bisa aku berikan padanya?” tanya Nurbaya.


“Aku tidak tau. Tapi aku akan berusaha.”


“Aku wanita buruk yang pernah ia temui, aku wanita sakit!” pekik Nurbaya, lalu air matanya mengalir.


“Dia mengatakan berulang kali kalau aku adalah wanita kelainan sex, aku wanita Erothophobia.”


Satria mengangkat dagu Nurbaya. “Dia mengatakan itu?” Menatap dalam manik mata Nurbaya.


Cup! Bibir Satria menempel lembut di bibir Nurbaya. Hangat lembut dan penuh kasih sayang.


“Aku akan menyempurnakan kekurangan Kakak itu.” ucapnya, lalu mencium bibir Nurbaya lagi.


Ada sensasi luar biasa yang dirasakan Nurbaya, perasaan aneh yang menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala, tanpa sadar ia pun memejamkan matanya, menikmati sentuhan penuh kasih sayang dari Satria.


Membalas ciuman itu dengan reflek, belajar otodidak. Satria tersenyum kecil mendapati Nurbaya membalas ciumannya. Lalu ia melepaskan pagutan lembut di bibir Nurbaya.


Ya, walaupun tadi ciuman itu terasa asin karena air mata dan bibir bawah Nurbaya terluka, namun tetap terasa begitu menyenangkan dan mendebarkan.


Tersenyum indah, membelai pucuk kepala Nurbaya. “Apa Kakak sudah baikan? Apa kita bisa pulang sekarang? Atau Kakak mau jalan-jalan dulu?” tanyanya.


Nurbaya hanya mengangguk, wajahnya memerah, malu.


“Apa yang aku lakukan barusan?” Berperang dengan pikirannya.


Satria menelfon Pak Hamdan, lalu mereka pun pulang di antarkan oleh Pak Hamdan. Sesampainya di rumah, Nurbaya langsung berlari sekencang-kencangnya ke dalam kamarnya, menutup pintu kamarnya erat, bersandar di pintu itu.


“Ada apa denganku?” Ia memegang pipinya yang merah padam.

__ADS_1


“Ah, Satria, bocah nakal itu selalu mengerjaiku.” Menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2