
Waktu terus berlalu, hampir setiap bulan Nurbaya melakukan tes kehamilan, awalnya Satria masih tersenyum seperti biasa, namun lama kelamaan senyum itu terlihat getir.
Satria semakin sibuk, apalagi sekarang ujian akhir sekolah, dia akan tamat SMA.
“Hai, Sat.” sapa Anggun.
“Hari ini terakhir kita berjumpa, mungkin kita akan berjumpa lagi di penerimaan ijazah. Ya, itu kalau serempak, kebanyak teman-teman akan mengambilnya pada waktu luang. Bagaimana kalau kita adakan party.” usul Anggun.
Satria tak peduli, hanya Akbar dan Jimi yang mendengarkan Anggun serta beberapa teman-teman yang duduk tak jauh dari mereka.
“Bagaimana menurutmu, Sat?” Masih bertanya pada Satria walaupun diabaikan.
“Kau bodoh! Kenapa harus bertanya padaku. Tanya itu pada ketua kelas.” Satria langsung berdiri, memasangkan handset di telinganya, berjalan pergi meninggalkan semua orang.
Jimi dan Akbar tersenyum canggung. “Benar, coba usul sama ketua kelas atau OSIS aja,” Akbar melambaikan tangannya, kemudian menyusul Satria pergi bersama Jimi.
“Hei, sombong!” Menepuk pundak Satria yang duduk sendirian di bangku taman.
“Hm.” Membuka satu handset yang bertengger di telinganya, satu lagi masih terpasang seperti semula.
“Menurutku usul Anggun itu bagus loh, kita party, buat kenang-kenangan, kita gak akan bisa berjumpa lagi, pasti semuanya akan sibuk kuliah dan bekerja.”
“Aku tak tertarik.” Menyenderkan punggungnya ke sandaran bangku itu.
“Aaaaahhh!” Akbar dan Jimi menghela nafas. “Ya, kami tau, kau sudah menikah, Bro. Tapi, bersenang-senang sekali-kali apa salahnya.”
“Aku tak ter-ta-rik!” Menekan kata.
“Kalau kalian suka, pergilah!” Memasangkan handset nya kembali, lalu mendorong Akbar dan Jimi. Memilih tiduran di bangku itu.
Kedua sahabatnya itu hanya bisa menatap kesal, namun masih sayang dan peduli. “Menyebalkan, padahal aku ingin bersenang-senang.” Satria tersenyum kecil mendengar gumaman sahabatnya itu.
**
Beberapa hari berlalu, Jimi dan Akbar datang menjemput Satria ke rumah. Mereka berdua memaksa Satria untuk ikut party yang diadakan OSIS. Bukan hanya mereka, sebenarnya masih banyak yang ikut, tapi hanya bisa menunggu diluar gerbang rumah Damrah yang bak istana itu. Hanya Jimi dan Akbar yang di izinkan untuk masuk.
Akhirnya dengan terpaksa Satria ikut. Mereka membuat acara party di aula sekolah. Ada yang berdansa, makan-makan, mengadakan tarian, drama, dan tentu saja banyak yang pedekate dan malam perpisahan.
__ADS_1
Satria sangat berkilau dan bercahaya di mata kaum hawa, sifatnya yang cuek dan dingin pada semua manusia, membuat orang enggan mendekatinya. Kecuali Anggun yang gigih seperti lintah penghisap darah.
“Hai, Sat. Nih, cobain cemilan dan minumannya.” Anggun membawa minuman dan cemilan saat Satria sendirian. Sedangkan dua sahabatnya Jimi dan Akbar asik berjoget bersama yang lain.
“Ayo, minum.” Anggun sedikit memaksa. Apalagi, beberapa orang datang setelah itu, yang awalnya hanya mengajak Anggun untuk berdansa, akhirnya menawarkan minum kepada Satria sebagai penghormatan.
Mau tak mau, akhirnya Satria meminum minuman pemberian Anggun.
Anggun menolak semua ajakan dansa, matanya menuju ke arah Satria. Melihat Satria diam saja, membuat semua pria lain yang mendekati Anggun undur diri. Mereka sadar diri.
Kepala Satria tiba-tiba terasa pusing, “Kenapa Sat?” Anggun cepat mendekat, memeluk dan menopang tubuh Satria.
Satria menatap lekat Anggun, lama, lama sekali. Anggun tersenyum, mengelus dada Satria dengan tersenyum menggoda. “Sini aku bantu, Sat.”
Anggun membawa Satria keluar dari ruangan Aula, ingin membawanya keluar. “Aku ingin ke toilet sebentar.” ucap Satria.
Ia segera masuk ke toilet, mengunci kamar toilet, menelfon Pak Hamdan. “Pak segera jemput saya dalam toilet pria, lantai tiga di samping aula, kamar nomor 4. Cepat!” Satria segera mematikan panggilan handphone nya.
Tak lama,
Toktoktok! Ketukan pintu terdengar, kemudian langkahan kaki menyusul diringi bunyi pintu terbuka.
“Sat, kamu di dalam sini?” Anggun mengetuk kamar toilet nomor 4.
“Apa kamu pingsan di dalam?” tanyanya terus mengetuk pintu.
Satria menghidupkan air shower toilet itu, mencuci wajahnya beberapa kali. Lalu, membuka pintu.
“Aku cemas, kamu lama sekali keluar dan diam saja di dalam.” Anggun memegang lengan Satria.
“Maaf, aku tidak tahu, kalau minuman itu mengandung alkohol tinggi, aku tidak tau kalau kamu tidak pernah meminum alkohol. Kalau begitu, ayo kita pulang, aku antar kamu.” Anggun masih saja bicara, Satria hanya menatapnya lekat tanpa berkedip.
Melihat Satria terus memandangnya seperti itu. Anggun jadi salah tingkah, wajahnya bersemu merah. “Kamu sangat tampan sekali,” Ia mengelus wajah tampan Satria. Pemuda itu hanya diam saja dengan wajah datar dan masih menatap Anggun.
Entah kepercayaan diri darimana yang dimiliki Anggun, Ia meletakkan tangan Satria di dadanya. “Kau menginginkannya? Pegang saja, aku rela dan ikhlas kok, aku sudah lama menyukaimu, sangat menyukaimu, apapun untukmu, semuanya untukmu.” Jari telunjuknya mulai mengelus leher Satria yang berdiri diam menatapnya.
Anggun membuka kancing baju Satria yang paling atas, Satria menahan tangan gadis itu. Anggun mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Satria yang menggoda.
__ADS_1
“Tuan Muda.” Suara Pak Hamdan terengah-engah terdengar dengan suara pintu terbuka dengan terpaksa.
Anggun terkesiap.
'Ah! Sial! Kenapa sopir tua bangka ini datang pada waktu yang tidak tepat.' Anggun berdongkol dalam hati.
“Tuan Muda.” Panggil Pak Hamdan, Ia mendekat. Menyentuh pergelangan tangan Satria, Anggun pun melepaskan tubuh Satria setelah Pak Hamdan mendekat.
Pak sopir itu memeriksa kening Satria, memperhatikan kancing atas Tuan Muda nya terbuka. Menatap tajam manik mata pemuda tampan itu.
“Ayo, saya akan mengantarkan Tuan Muda pulang.” ucap Pak Hamdan.
“Tunggu di sana.” Sahut Satria, menunjuk daun pintu keluar toilet. Pak Hamdan pun berjalan dan menunggu di depan pintu.
Satria berjalan mendekat ke arah Anggun yang sedang bercermin, seolah tak terjadi apa-apa. “Apa kau sudah senang?” tanya Satria dengan posisi mereka yang sangat dekat.
“Maksudnya?” Anggun membalasnya dengan bertanya kembali, menatap lekat wajah Satria.
“Yang kau lakukan ini.”
Anggun langsung bersemu merah, entah apa yang dia pikirkan. “Jika kau menyukai lebih, mari kita pergi dari sini berdua, kita bisa melakukannya, aku rela dan ikhlas asal melakukannya bersamamu.” ucap Anggun tersenyum.
Satria menyunggingkan senyuman mengejek. “Dasar wanita murahan!” Telak, pedas. Perkataan yang menyakitkan. Satria langsung pergi meninggalkan Anggun yang kebingungan bercampur marah.
Bagaimana Satria tidak menyadari trik murahan Anggun, Ia telah beberapa kali kena jebakan seperti ini, bahkan hampir saja saat itu dia terjebak oleh Melani dengan obat paling berbahaya. Jadi, jebakan Anggun yang sekarang hanya seperti gigitan serangga, tidak berpengaruh terlalu parah baginya.
Ia menatap lekat Anggun karena berpikir keras, kenapa bisa wanita cantik, pintar dan terhormat melakukan perbuatan yang memalukan seperti ini. Bahkan dengan berani meletakkan tangannya di dada, membuka kancing bajunya dan berniat hendak menciumnya.
Sesuatu yang menjijikan bagi Satria. Baginya, tak ada wanita baik dan sempurna selain Nurbaya. Hanya istrinya itulah pemilik hati satu-satunya.
Satria masuk ke dalam mobil, meminum banyak beberapa botol air mineral dingin untuk mengontrol efek obat yang diberikan Anggun tadi.
Sesampainya di rumah, Nurbaya telah menyambutnya dengan pakaian tidur yang sexsy sambil membaca majalah Jewerly. Satria melepas semua pakaiannya, menyisakan celana boxer, kemudian mencuci wajah dan membersihkan yang lainnya.
Mendekat ke arah Nurbaya, mengecup kening istrinya, lalu menggendong paksa tubuh itu, sehingga majalah yang ia pegang pun terjatuh. Satu persatu semua pakaian Nurbaya di lucuti Satria, diciuminya dari atas sampai bawah tubuh Nurbaya.
Meninggalkan tanda-tanda merah di sekujur tubuh, membuat rangsangan yang mendebarkan, hingga terjadilah pertemuan yang menyenangkan. Suatu kegiatan yang sama-sama disukai oleh Satria dan Nurbaya
__ADS_1
💓
***