Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Noda


__ADS_3

Satria akhir-akhir ini sangat sibuk, mulai dari urusan kantor hingga tugas sekolah. Ia pulang bahkan larut malam, pagi-pagi sudah pergi.


Malam ini, Nurbaya termenung di balkon kamar, menunggu Satria yang belum pulang. Tadi siang, ia baru saja di ceramahi oleh kedua orangtuanya. Mulai dari caranya bersikap sampai bicaranya.


“Aya, kau harus ingat. Tuan Muda, bukan seorang adik yang bisa kau kasari begitu, apalagi kau tipu-tipu dan olok-olok. Dia itu suamimu sekarang. Kau harus menghormatinya, berapapun umurnya.”


“Cara bicaramu, sikapmu ini! Perlakukan dia dengan baik dan benar, sambut dia saat pulang, layani dia, temani dia saat dia di rumah.” ujar Bi Mona.


“Ayah sudah menyerahkan tanggungjawab kepadanya terhadapmu di hadapan Allah. Belajarlah jadi istri yang baik.” Ayah Nurbaya mengusap kepala putrinya.


“Tadi Ayah dan Ibu lihat kalian berdebat, kau membuat Tuan Muda sangat marah. Ingat, ridha suami adalah ridha Allah.”


Bla...Bla.... Panjang kali lebar ceramah mereka.


Ia menghela nafas kasar. Menatap langit gelap yang di temani bintang-bintang.


'Aku harus bagaimana ya? Minta maaf gitu sama bocah nakal itu? Kan, dia yang salah!'


Satria masih dengan kenakalannya meminta hak, selalu mengatakan itu, membuat Nurbaya mengurungnya tidur di luar. Namun pemuda itu banyak akal, ia meminta kunci serap pada Kepala Pelayan. Diam-diam masuk ke dalam kamar, memeluk dan menganggu Nurbaya.


Hingga Nurbaya memakinya. “Aku gak suka sama sikapmu ini, dengar gak sih! Kenapa kamu minta hak-hak mulu! Pernikahan ini terjadi karena ulahmu yang merengek pada Tuan Besar, bukan keinginanku.”


“Kalau kamu tidak suka, gampang, cerai saja denganku, menikah dengan wanita lain, minta hak pada wanita itu!”


Satria langsung terdiam, dia yang tadi masih mengumbar senyum langsung merubah mimiknya. Mematung beberapa menit hingga ia berjalan pergi meninggalkan Nurbaya. Sejak malam itu, Satria pulang larut malam. Ia tak lagi menganggu Nurbaya.


Nurbaya menghela nafasnya lagi dengan kasar kala mengingat itu. Ia tak sengaja melontarkan kata seperti itu, ia benar-benar kesal dengan Satria yang selalu reseh mengganggunya.


Sekarang baru ia sadari, beberapa hari tak di ganggu dan bertemu pemuda itu, segumpal daging yang bersarang di dadanya yang di sebut dengan hati berdenyut hebat, terasa sakit menyesakkan dada.


Lebih sesak dari melihat Erian berselingkuh. Ya, ia selama ini selalu bersama dengan pemuda itu. Satria kecil yang menggemaskan, Satria kecil yang lucu dan penurut, Satria kecil yang haus akan pujiannya dan Satria remaja yang selalu ada setiap waktu untuknya.


Kini, pemuda itu mengabaikannya. Airmatanya jatuh. “Baiklah, aku akan meminta maaf padanya.” ucapnya menyemangati dirinya.


Tak lama, Satria pulang. Sekretaris Dewa membawa tas, laptop ke dalam ruangan kerjanya, sedangkan Kepala Pelayan telah membukakan sepatu Satria, lalu meletakkan di tempatnya, la juga memberikan jas yang baru di lepas kepada Kepala Pelayan.


“Kalau nanti surat-surat itu belum selesai, Kakak tidur di sini saja, tak baik pulang larut malam dalam keadaan letih.” Sekretaris Dewa menjawabnya dengan mengangguk.

__ADS_1


“Pak Wo, tolong minta pelayan membersihkan kamar tamu untuk Kak Dewa, ya.” pintanya pada Kepala Pelayan.


“Baik, Tuan Muda.”


Setelah itu ia langsung pergi ke kamar. Saat ia membuka pintu kamar, Nurbaya telah duduk menunggunya, gadis itu berdiri menyambutnya. “Baru pulang.” sapa Nurbaya tersenyum.


Satria mengernyitkan keningnya melihat Nurbaya menyambutnya dengan senyuman, biasanya marah-marah gak jelas. Selalu dia yang akan menggoda Nurbaya.


“Sini, biar ku bantu buka bajunya.” Nurbaya memegang kancing baju paling atas, lalu dia terdiam. Perasaanya langsung kalut.


Ia telan salivanya, nafasnya sudah mulai tak beraturan, tangannya pun sedikit gemetar saat membuka kancing baju kemeja Satria.


“Kalau kamu tak ingin, jangan di paksa, aku bisa sendiri.” Satria memegang tangan Nurbaya yang gemetar.


Matanya terus menatap kearah dada sebelah kanan Satria. Setelah melepaskan semua kancing, ia memasukkan baju itu ke dalam ember pakaian kotor, mengambilkan handuk.


“Apa aku siapkan air mandi juga?” tanya Nurbaya.


“Tak usah.” Mata Satria menyelidik, melihat sikap aneh Nurbaya.


'Apakah dia sedang ingin mengerjai ku?'


'Ataukah handuk ini?' bermonolog dengan pikirannya.


Satria menggeletikkan handuk itu kuat, tak ada debu seperti bedak gatal yang waktu itu.


'Hm, baiklah, aku menyerah, semoga saja dia usilnya gak kebangetan deh!'


Satria melanjutkan membersihkan dirinya, masih sedikit waspada saat memakai pakaian yang disiapkan gadis itu, namun tak ada hal apa-apa.


'Hm? Aneh!' Satria bergumam dalam hati.


'Baiklah, mungkin saja dia sedang good mood.' pikir Satria.


Jujur, sebenarnya Satria sangat kesal mendengarkan kata cerai yang dilontarkan Nurbaya waktu itu. Makanya ia memilih pergi sebelum kewarasannya hilang dan mencabik-cabik wanita itu.


Ia tak sengaja mengabaikan Nurbaya, memang akhir-akhir ini ia sangat sibuk, sehingga membuat Nurbaya salah sangka. Bukan Satria namanya, jika ia tak membalas perbuatan istrinya itu. Tapi nanti, saat ia sedang tak sibuk dan dalam keadaan good mood.

__ADS_1


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Nurbaya memulai pembicaraan setelah lama diam menunggu Satria mandi dan memakai baju.


“Lancar seperti biasa.” jawab Satria datar.


“Sekolahmu?”


“Masih seperti biasa. Tak ada masalah.” sahutnya lagi.


“Hm...” Nurbaya mendekat. Satria melirik dengan ekor matanya.


“Apa kamu masih marah?” tanya Nurbaya pelan, Satria diam tak menjawab. Ia masih memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Nurbaya.


“Maaf.” lirihnya


“Maaf, kemarin aku berkata kasar dan meminta cerai, padahal kita baru menikah. Maafkan aku.” sambungnya dengan lirih.


Satria tersenyum dalam hati.


“Untuk apa meminta maaf kepada orang yang tidak kamu suka, jika meminta maaf berarti kamu telah menerimanya, jika kamu menerima, bukankah kau harus rela memberikan haknya. Tak perlu minta maaf kalau terpaksa.”


“Aku akan selalu meminta hak ku. Jadi tak perlu meminta maaf.” ucapnya dingin, langsung tidur memunggungi Nurbaya.


“Maaf, maafkan aku.”


Satria menutup mulutnya, agar tawanya tak lepas. Nurbaya ikut berbaring, memeluk Satria dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung Satria yang diam.


Kurang lebih satu jam, Satria memutar badannya hendak meledek Nurbaya.


Saat ia berbalik, gadis itu malah sudah tertidur. 'Aiih, sebenarnya dia menyesal gak sih? Memangnya kalau wanita lagi sedih begini, ya? Bisa langsung ngorok kayak gini?' Satria berdecak sebel di tinggal tidur.


Niat hati hendak mengerjai Nurbaya, malah di tinggal tidur. 'Gak peka banget buat bujuk aku.'


Ia membelai lembut wajah Nurbaya, lalu teringat dengan bajunya. Nurbaya terlihat bergetar saat membuka kancing bajunya tadi. Ia berdiri, lalu pergi ke tempat ember kotor, mengembangkan baju kemeja yang kotor itu.


“Eh? Apa ini?” Matanya terbelalak melihat noda di baju itu.


‘Wah!' Ia menyunggingkan seringai liciknya, setelah melihat noda itu.

__ADS_1


***


__ADS_2