Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Surat


__ADS_3

Erian terduduk lemah, rasa bahagia yang ia rasakan tadi hilang sudah. Perlahan, tangannya menggapai sepucuk surat yang tergeletak di nakas.


Ia buka surat itu.


Erian,


Ku ucapkan terimakasih banyak padamu. Entah kau bodoh atau kau sedang mencoba menipuku. Apakah kau sedang pura-pura untuk merebut simpati dan kepercayaanku? Ataukah kau sedang berniat balas dendam padaku.


Erian,


Aku memang sengaja menggodamu dulu, jika kau ingin balas dendam akan hal itu, aku kira kau sudah menang, aku tak lagi bisa dekat dengan Nurbaya bukan hanya kau saja.


Dan kini, aku akui, aku sudah nyaman bersamamu.


Jangan khawatirkan, aku dan bayi dalam perutku, akan aku jaga dengan baik.


Erian,


Jaga dirimu baik-baik, menikahlah dengan wanita yang bisa menjagamu. Aku tak bisa mencintaimu, sebagai laki-laki atau perempuan. Maaf.


Selamat tinggal, terimakasih untuk semuanya.


^^^Melani.^^^


Tangan Erian gemetar memegang surat itu. Pangkal matanya terasa perih menjalar ke hidung, sesak, tak bisa lagi ia tahan, bulir air matanya pun mengalir lolos di pipi.


“Apa yang kau pikirkan, Mel? Bagaimana mungkin aku ada rasa dendam padamu, yang ku miliki hanya rasa cinta.”


Ia tertunduk lesu. “Aku tak bisa, aku sangat mencintaimu.” lirihnya.


**


Melani membawa semua barang berharganya, uang, perhiasan, kamera, laptop, dan beberapa pakaian. Alasannya, perhiasan bisa di jual jika keuangannya menipis, bahkan apartemennya telah ia jual di media sosialnya.


Ia menyewa tempat sederhana, Ia masih mencari tahu dimana tepatnya Satria dan Nurbaya. “Nak, kau jangan nakal, ya. Harus sehat dan kuat. Kita akan mencaritahu dimana keberadaan bibimu.” ucapnya mengelus perut datarnya.


Melani memeriksa akun sosial media Nurbaya dan Satria beberapa kali. Tak ada foto unggahan di sosmed mereka. Sehingga tak ada petunjuk pasti keberadaan mereka.


Melani berjalan keluar dengan perlahan, melihat pemandangan negri luar, suasana baru. Beberapa anak remaja bermain bola, ada yang bersepeda dan berjalan kaki.


Ia berhenti di sebuah kafe, masuk ke dalam, memesan makanan dan minuman. 'Nak, ini bukan makanan daerah kita. Tetapi, kamu tidak boleh mengeluh, kita harus hemat, kamu harus kuat.' Berkata dalam hati.


**


Hari-hari terus berlalu, Melani belum menemukan di mana posisi Nurbaya dan Satrya. Begitu pula Erian masih sibuk melacak dimana keberadaan Melani. Sedangkan Nurbaya dan Satria bersenang-senang, memadu kasih.

__ADS_1


Ya, walau kenyataannya Nurbaya sering menangis diam-diam. Ia sangat takut dan sedih. Sedih, telah berusaha tapi belum juga hamil. Takut jika suaminya yang tampan kaya raya itu akan tergoda pada wanita lain dan meninggalkannya yang tak bisa memberikan keturunan.


Tak ada yang salah di tubuhnya ataupun Satria, jika berjuang, ia telah berobat kesana kemari, namun Tuhan belum memberikan kehamilan untuknya. Sedih, marah, pada siapa? Pada takdir? Tidak, Nurbaya masih bersabar, berharap suatu hari nanti, Tuhan akan memberikan kepercayaan padanya dan Satria.


Berharap pernikahan mereka akan selalu langgeng selamanya sampai mereka tua, hanya ajal yang memisahkan mereka.


Beberapakali ia dilanda cemburu, di Inggris wanita sangat agresif, menurut Nurbaya. Sembarangan orang cipika-cipiki jika bertemu dengan suaminya. Dengan gampang wanita meminta berdansa pada suaminya dihadapannya.


Mungkin karena perbedaan culture, banyak hal yang membuat Nurbaya cemburu dan kesal sendiri. Inilah yang namanya, ‘Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.’ Nurbaya belajar membiasakan diri, menyesuaikan dengan situasi daerah yang ia tempati.


**


Kehamilan Melani sudah masuk 7 bulan, Erian sudah mengetahui dimana Melani, ia sempat berdebat dengan Ayahnya. Ayahnya tak ingin lagi jika anaknya dipermainkan wanita, seperti halnya anak yang dikandung mantan istrinya itu.


“Kau yakin itu anakmu?” Suara Ayah Erian akhirnya melemah.


“Yah, aku tahu, selama ini aku sering melakukan perbuatan salah yang mengecewakan ayah. Bahkan tindakanku sekarang. Tapi, aku sangat mencintai dan menyayangi dia, Yah.”


“Itu anakku, seperti yang ayah lihat ini.” Menunjuk tumpukan kertas, artikel, potongan koran.


“Dia mengalami suatu gangguan, trauma dimasa lalu. Sebenarnya dia adalah gadis yang baik, hanya belum bisa percaya pada laki-laki. Aku mohon, tolong izinkan dan restu perjalananku untuk menjemput wanita itu dan calon cucumu.” Erian bersimpuh di kaki Ayahnya.


Ibunya tak kuasa berderai air mata langsung memeluk Erian. “Baiklah. Bawalah dia.” Ayahnya menepuk pundaknya.


**


Perjalan yang mulus. Erian sampai dengan selamat, kini ia telah berada di depan kontrakan Melani. Ia mengetuk pintu.


Melani dengan santai membuka pintu, ia mengira makanan yang ia pesan datang. “Ok. Wait five minutes.” sahutnya dari dalam.


Tak lama, ia membuka pintu hendak menjulurkan tangan menerima pesanan. Ia tercengang, bukan seorang pengantar makanan, namun Erian tersenyum padanya dengan satu buah koper.


“E... Erian?!”


“Hai, Sayang.” Langsung menerobos masuk, membuka sepatunya dengan menginjak belakang sepatunya, lalu dengan santai duduk di sofa.


“Kenapa kamu bisa di sini?”


“Tentu saja karena kamu. Aku sudah mengatakan padamu, aku tak bisa jauh darimu. Jika kau tak mencintai diriku, tak apa. Biar aku saja yang mencintaimu.” Menuang air yang ada di depan matanya, lalu minum.


Ia melepas jacketnya, membuka kancing atas pakaiannya, menyibak rambutnya kebelakang. “Wah, kau sudah besar di perut ibumu, Sayang.” Menyapa perut Melani. Mengelusnya.


“Kau benar-benar keras kepala. Aku sudah katakan, belum tentu ini anakmu.”


“Aku yakin itu anakku.”

__ADS_1


“Ok, ok. Aku tak ingin lagi berdebat denganmu. Sekarang, kau mau apa?” tanya Melani berkacak pinggang.


“Tentu saja ingin membawamu pulang, aku sudah minta izin pada orang tuaku. Mereka menantikan kamu dan calon cucu mereka.”


“Kau gila!! Aku tak bersedia!”


Melani langsung duduk jauh menjaga jarak dirujuk sofa. Diam, cukup lama mereka sama-sama saling diam, hingga akhirnya Erian putuskan untuk bicara.


“Baiklah, jika kau ingin di sini. Aku juga akan di sini. Kita besarkan anak kita di sini,” ucap Erian dengan tersenyum. Melani membalasnya dengan kernyitan tajam.


“Maksudmu kau ingin tinggal di sini denganku?” tanyanya. Erian mengangguk.


Melani lama terdiam, berpikir. ‘Bagus juga, aku akan memanfaatkan dia supaya keuanganku tidak menipis.’ gumamnya dalam hati.


“Baiklah, tapi kau yang bayar kontrakan ini serta makanan.”


“Ah?!! Benarkah, Sayang?” tanya Erian antusias. Wajahnya berseri-seri. “Aku akan membelikan apapun yang kamu mau, makan apa saja, kemana saja. Makasih, Sayang.” Memeluk Melani penuh kasih sayang.


“Lepas! Perutku sakit dipeluk begini.” Membuat alasan.


“Ah, maaf, maaf, Sayang. Aku tidak sengaja karena terlalu bersemangat.” Erian melepaskan pelukan itu, lalu berjalan mengambil koper dan membukanya.


“Sayang, aku membawa sedikit oleh-oleh dari Mama. Aku akan panaskan, dimana dapurnya?”


Melani tersenyum kecil. Ada perasaan aneh yang menyerang dadanya. Ia menunjuk arah dapur. Erian pun pergi ke sana.


‘Apakah ini bawaan ibu hamil? Perasaanku sering aneh akhir-akhir ini, bahkan aku sering mengingatnya, sekarang aku malah senang melihat kedatangannya. Apakah karena kau merindukan ayahmu, Nak?’


***


🌹🌹🌹


Hai Satria Lovers, saya ucapkan banyak terimakasih karena telah menyukai cerita sederhana yang saya tulis ini. Makasih sudah baca, like, favorit dan komentarnya. Semoga kalian semua sehat selalu, jauh dari musibah dan murah rezekinya.💓


Makasih terspesial atas support dan semangatnya selama ini, menunggu update saya yang terlambat, telah memberikan doa yang baik untuk saya.


Semoga rezki Satria Lover di lancarkan, dimudahkan, dimana pun berada, makasih sudah melempar saya dengan hadiah-hadiah berupa point' dan koint serta vote dan likenya💓


Maaf🙏 ada beberapa komentar yang belum sempat saya balas, bukan berarti saya pilih kasih atau sombong, terkadang kolom komentarnya tidak bisa saya klik. Aneh.


Ah, saya jadi lupa, terlalu banyak berbincang😎 Beberapa Bab lagi, Berondong Nakalku akan tamat.😎


Ayo tebak, kira-kira endingnya gimana guys???😎💓🌹


Ada yang bisa nebak?😎

__ADS_1


__ADS_2