
Hari ini suasana di rumah keluarga Damrah sangat aneh dan pengap, itu menurut Nurbaya.
Pagi hari, Arnel, Aira dan Satria tidak kemana-mana. Padahal, biasanya setelah sarapan mereka akan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Begitupula Ayah dan Ibu Nurbaya tampak cemas sembari meremas jemari tangannya sejak tadi.
“Nyonya melarangmu pergi ke toko perhiasan hari ini, Beliau menyuruh kau libur.” ucap Ayah Nurbaya.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan, Nurbaya? Kenapa Nyonya dan Tuan terlihat aneh sejak pagi. Terus, kita di suruh berkumpul sebentar lagi. Apa yang kau lakukan?” tanya Bi Mona dengan cemas.
“Aku tak melakukan apapun.” jawab Nurbaya, Ia merasa benar-benar tak melakukan kesalahan apapun.
“Kau selalu berkata, tak melakukan apapun, nyatanya kau selalu saja usil dan mencari masalah. Apa kali ini kau mencari masalah dengan Tuan Muda?” Bi Mona menatap penuh selidik.
__
Beberapa saat kemudian, Ayah dan Ibu Nurbaya di panggil ke ruang keluarga, lalu di susul dengan panggilan untuk Nurbaya setelahnya.
Mereka sekarang berkumpul di ruang keluarga, ada Satria dengan Kakek Neneknya serta Nurbaya bersama Ayah Ibunya.
“Seperti yang sudah saya terangkan pada kalian tadi, sekarang saya akan bertanya pada Nurbaya dan Satria.” terang Arnel, saat Nurbaya baru masuk. Entah apa saja yang dikatakan Arnel kepada orangtua Nurbaya sejak tadi. Gadis itu tak tahu.
“Kakek, Aku ingin Kak Nurbaya bertanggungjawab padaku, Kek.” ucap Satria merengek pada Arnel.
Mata Nurbaya membeliak tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Kak Nurbaya menciumi dan melihat tubuh telanjangku, dia telah menodai ku, aku ingin Kakak Nurbaya bertanggungjawab.” pinta Satria dengan wajah mengiba pada kakeknya.
“Kakak sering mencium bibirku, bahkan menyuruhku telanjang untuk memperlihatkan kemaluanku padanya. Tidak akan ada perempuan yang mau menerimaku lagi nanti, karena tubuhku sudah ternodai.”
Nurbaya benar-benar syok. Apa yang ia dengar barusan?
'Bocah tengik, apa yang kau katakan? Dasar bocah nakal tak punya rasa malu!' gerutu Nurbaya, ia menatap tajam Satria, namun bocah itu terus saja merengek dan menceritakan hal memalukan.
'Apakah Ibu dan Ayahku akan di pecat? Sedangkan Ibuku sudah lama bekerja di keluarga Damrah. Bahkan semenjak beliau gadis.' Pikiran Nurbaya melayang-layang, mencari tahu inti dari mufakat ini.
“Aku selalu terpikir wajah Kakak setiap detik, aku tak bisa tidur, aku hanya memikirkan Kakak, bibir Kakak selalu terasa di bibirku. Apa Kakak juga merasakan hal yang sama denganku?” tanya Satria dengan sok polos, sok lugu.
Nurbaya ingin sekali mencakar mulut Satria sekarang, atau menyumpalnya, agar tak bicara memalukan lagi.
“Bi, Kakak setiap hari menciumku, sejak dia putus dengan pacarnya dia selalu mengajakku berciuman, aku sudah di nodai oleh Kakak,” katanya lirih dengan tatapan sendu.
Nurbaya menatapnya semakin tajam. 'Kau pantas di beri Piala Oscar, Tuan Muda. Lihat acting mu, kau bisa menipu semua orang di sini, tapi tidak denganku!'
“Apakah itu benar, Nurbaya?” tanya Arnel.
__ADS_1
“Maaf, Tuan Besar. Saya sungguh tidak sengaja, saya khilaf. Saya hanya mencium saja, belum menodai Tuan Muda.” sahut Nurbaya menunduk karena sangat malu dan takut.
Bagaimana tidak malu, semua orang sedang berkumpul disini, termasuk ayah dan ibunya. Satria benar-benar melakukan ancamannya. Dengan tak punya malu menjelaskan secara detail bagaimana mereka berciuman.
“Belum? Tapi, bisa saja nanti akan terjadi. Lalu, apakah kau akan bertanggungjawab pada cucu saya?”
“Maksudnya bagaimana, Tuan?”
“Kamu masih bertanya? Jadi, kamu tidak mau bertanggungjawab pada cucu saya? Setelah kamu menodainya?”
Hah?!!!!
'Sejak kapan kalau perempuan menodai laki-laki? Dan sejak kapan perempuan dimintai tanggung jawab? Apakah zaman berubah?' Nurbaya bermonolog dengan hati dan pikirannya.
“Apakah kamu tidak mau bertanggungjawab kepada cucu saya?”
“Aya, kenapa kamu diam saja?!” Mona, Ibu Nurbaya berbisik sambil memelintir pinggang putrinya.
“Adduuhh, sakit Bu.” ringis Nurbaya pelan.
“Iya, saya bersedia, Tuan. Bagaimana cara saya bertanggungjawab atas cucu Tuan?” tanya Nurbaya.
“Tentu saja dengan menikahinya.”
“Me..menikah? Maksudnya, saya harus menikah dengan Tuan Muda Satria, Tuan?”
Arnel menjawabnya dengan mengangguk.
“Tapi... Tuan Muda, masih sekolah, Tuan.”
“Apa salahnya? Dia sudah berumur 17 tahun. Sudah memiliki KTP, sudah bisa membuat surat nikah dan dia juga punya cukup uang untuk menikah.”
Deg!!!
'Gila!!! Sumpah, ini gila? Apa saya sedang berhalusinasi? Atau saya sedang gila? Bagaimana mungkin, Tuan Besar dengan entengnya menyuruh saya menikah dengan cucu semata wayangnya?' Nurbaya berkata dalam hati sembari memijat pelipisnya.
“Kakak, apakah Kakak tidak mau bertanggungjawab padaku? Apakah aku sangat jelek? Apakah aku bukan tipe pria idaman Kakak?” Satria berkata dengan memelas.
“Aya!” Ayah Nurbaya menepuk pundak Nurbaya.
“Tuan Muda, jangan bersedih. Itu tidak benar. Tuan Muda sangatlah tampan, bagaimana mungkin bukan tipe putri saya yang jelek ini. Aya pasti akan bertanggungjawab.” ucap Ayah Nurbaya.
“Benarkah, Ayah?” tanya Satria dengan mata berbinar.
__ADS_1
“Ya ampun... Tuan Muda, Anda memanggil saya dengan Ayah?!” Ayah Nurbaya langsung terharu.
“Yah,” panggilnya. Perkataan Nurbaya tercekat saat melihat tatapan tajam Ayah dan Ibunya.
“Karena sudah sepakat dengan keputusan mufakat. Kita akan segera menikahkan mereka, 3 hari lagi mereka akan menikah.”
Ayah dan Ibu Nurbaya terkejut, apalagi Nurbaya, hampir saja matanya ingin melompat keluar saking terkejutnya.
“Ti, tiga hari lagi, Tuan?” tanya Bi Mona terbata.
“Ya.” Arnel memberi jawaban sembari mengangguk.
“Kalian tenang saja, masalah biaya semuanya kami yang tanggung, surat menyurat sudah ada yang mengurus. Mereka hanya menikah dulu saja dengan di hadiri kolega penting, nanti jika Satria sudah tamat sekolah, baru kita adakan resepsi pernikahan mereka.” jelas Aira menyambung pembicaraan mereka.
“Baiklah, Tuan, Nyonya, kami ikut saja. Terimakasih. Mohon sekali lagi, maafkan kesalahan anak kami yang sudah bersikap lancang dan memalukan.”
“Sudah, semuanya sudah selesai, jangan bahas itu lagi.”
Akhirnya mereka selesai berunding, Ayah dan Ibu Nurbaya pun keluar dari ruang keluarga.
“Ya sudah, Nanti aku akan menghubungi desainer pakaian untuk pernikahan kalian, sekarang kalian berumbuklah, membicarakan masalah pakaian atau decoration seperti apa yang kalian inginkan saat menikah. Nenek dan Kakek pergi dulu.” Aira menepuk pundak Satria lalu mengelus punggung tangan Nurbaya sebelum beranjak pergi bersama Arnel.
Kini, tinggallah Satria dan Nurbaya di dalam berdua di ruangan keluarga itu.
“Bagaimana? Apa Kakak masih meragukan perkataanku.” Ia menyunggingkan senyuman jahatnya.
“Dasar bocah tukang ngadu! Dasar tak punya malu!” umpat Nurbaya.
“Aku begini karena kakak!”
“Ini semua gara-gara Kakak!”
“Kau benar-benar nakal! Kau tak malu mengumbar apa yang kita lakukan di depan semua keluarga, di mana otakmu?!”
“Di sini.” sahut Satria menunjuk kepalanya.
“Kau!!!” Nurbaya benar-benar geram. Ia memilih pergi meninggalkan Satria yang terkekeh.
“Sayang, bersiap-siap lah, karena kau tak ingin menjadi kekasihku, maka kau harus menjadi Istriku.” teriaknya.
“Bersiap-siaplah, Sayang. Kita akan mencoba pakaian pernikahan kita.” teriaknya terkekeh. Nurbaya mengacungkan jempol ke bawah sembari berlalu pergi.
💓🌹💓
__ADS_1