
“Aku letih, ingin istirahat.” Aira meninggalkan Satria dan Melani.
Setelah Aira pergi, “Sebaiknya mari kita tanyakan pada Nurbaya, jika kau tidak tahu semua kejadian ini? Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu?”
“Mari kita temui dia.” ajak Melani saat melihat Satria diam.
Melani melangkah ke kamarnya, di sana sudah ada Nurbaya yang sedang bermain-main dengan Ethan, putra Melani.
“Aya, bisakah kau menceritakan semuanya dari awal, apapun, jangan sembunyikan sedikitpun agar semuanya jelas.”
“Ya, seperti itu, seperti yang aku ceritakan waktu itu. Aku melihat anak kecil berambut panjang di siksa, ditarik rambutnya....”
Flashback
Sore hari,
Nurbaya terbangun dari tidurnya, ia lihat Satria tidur pulas disampingnya. Ia mengecup pipi suaminya yang tampan itu, lalu pergi mandi.
Setelah mandi, ia bermain handphone, ia lihat begitu banyak foto bertebaran diberanda facebooknya. Foto suaminya bersama teman-teman kuliahnya. Banyak komentar yang menjodohkan mereka.
Kesal karena cemburu, Nurbaya memilih berjalan-jalan sendirian, sembunyi dari Jaka dan Baron. Ia tak ingin di ikuti siapapun. Ia meminta Jaka menemaninya ke toko buku, lalu ia meninggalkan Jaka.
Di tengah jalan, ia melihat seorang anak kecil berambut panjang bergelombang sepunggung, awalnya ia di tarik, lalu di tampar. Nurbaya melihat dari jauh, ia berpikir mungkin saja preman tukang palak.
Ia melihat sekeliling, sepi, ia benar-benar telah pergi jauh. Padahal ia ingin berteriak minta tolong agar didatangi orang banyak. Kalau sesepi ini, berteriak adalah awalan yang bahaya. Ia segera menelfon Satria, belasan kali ia telfon, nomor itu sibuk. Hingga tanpa sengaja ia menelfon Melani, tetapi ia matikan kembali, tak ingin menghubungi sahabatnya yang telah berselingkuh dengan pacarnya.
__ADS_1
Anak kecil itu melawan, memukul dengan sampah botol bir yang tergeletak di sana.
Prank! Ia berlari, Nurbaya bergegas berlari juga, mereka berdua sama-sama berlari, menyelamatkan diri. Setelah cukup jauh, Nurbaya dan dia bersembunyi.
Nada handphone Nurbaya berbunyi, Ia mencoba mengangkat, tetapi tak sempat bicara, gara-gara nada panggilan itu, persembunyian mereka ketahuan, para pemuda yang mengejar mereka mendekat.
Sebelum Nurbaya tertangkap, ia langsung berbicara, mengatakan keberadaan mereka dan minta tolong di hubungi polisi, kemudian mereka tertangkap. Ia benar-benar tidak tau dengan semuanya.
Ia pergi hanya karena perasaan cemburu sesaat. Akhir-akhir ini perasaanya benar-benar kacau, Satria banyak di gerubuni wanita, dia tak menempeli dirinya seperti dulu lagi.
Setelah tertangkap, mereka di kurung. Cukup lama, sampai mereka menarik rambut Nurbaya karena melawan hendak di bawa pergi. Di situlah Nurbaya melihat Melani, wanita itu begitu jagoan walaupun di kelilingi banyak senjata.
Bahkan setelah di tangkap, Melani memiliki banyak akal untuk meloloskan diri. Perutnya yang besar, tak menghalangi keberanian dan kekuatannya. Lalu, kedatangan Erian dan Satria.
Flashback off
“Aku percaya padamu. Jangan cemas.” Melani mengelus kepala Nurbaya. Satria menatap kesal.
Bahkan kini sepertinya ia lebih cemburuan dari Nurbaya. Buktinya, ia cemburu pada Melani sekarang. Apa-apaan itu?
**
Setelah berbincang dengan Nurbaya, Melani dan Satria telah berada di Kanai-kanai sekarang. Tempat itu telah di kosongkan, Satria telah meminta semua bawahannya mengeluarkan semua isi dalam bangunan itu.
“Jadi, waktu Baron membawamu ke sini? Kau sudah tau bangunan ini bermasalah?”
__ADS_1
“Ya, sudah tau. Aku kira, kau juga salah satu gang mafia.”
Satria menatap Melani.
“Aku tak tau ini tempat bermasalah, aku hanya membaca semua berkas, tanah dan bangunan ini milik Kakek buyut ku, jadi aku mengelolanya, sekalian tempat pelatihan untuk para bawahan ku. Tanah dan bangunan ini cukup luas. Makanya aku tertarik,” Satria menatap bangunan yang sudah banyak ia perbaiki itu, kini sedang di sirami dengan minyak bensin.
“Saat aku membahasnya kala itu, Kakek tak setuju. Aku kira beliau tak setuju karena khawatir akan menghabiskan banyak uang untuk memperbaikinya. Makanya aku diam-diam memperbaiki ini, aku berniat memberitahunya setelah tempat ini berhasil. Tetapi, rupanya aku salah.”
Blar! Api dilompatkan pada rumah itu. Kini, api telah melahap bangunan itu begitu buasnya. Satria menatapnya sendu.
“Aku juga tidak tau pasti, aku yakin Kakek dan Nenekmu tau semua, lebih baik tanyakan padanya.”
Huft! Satria menghela nafas.
‘Kau telah membuat masalah besar, Satria. Kau mengecewakanku, membahayakan dirimu sendiri. Hancurkan tempat itu sekarang!' Arnel membelakangi Satria. Ia tak menatap Satria. Terlihat jelas, Arnel benar-benar marah.
Ia masih mengingat perkataan itu sebelum berangkat ke Kanai-kanai. “Apa menurutmu, mereka akan mau menceritakan padaku, sepertinya mereka sangat kecewa dan marah.”
“Dulu aku juga tidak tahu apa-apa. Hanya karena dendam dan kesepian, aku bergabung dengan Kaloqueen, di sana aku belajar banyak. Namun, aku tak ingin lagi bersama mereka, hanya ada perkelahian, penipuan, kelicikan, aku tak suka. Aku hanya ingin hidup bahagia.”
“Mungkin, tempat ini dulu sebuah sarang kejahatan. Bisa saja, Kakek dan Nenekmu telah melakukan kesepakatan agar hidup damai?”
“Mungkin.” sahut Satria lemah.
Melani dan Satria melihat kobaran api yang begitu besar membakar habis bangunan yang cukup terpencil di tanah yang sangat luas itu.
__ADS_1
***