
Assalamu'alaikum, Hai Satria Lovers🤗
Salam kenal ya, Aku Uni Rozh. Jika suka dengan cerita amatir ku ini, boleh dikasih favorit (♥️) Like, komentar, rate bintang lima (⭐5) Vote Seikhlasnya.
Makasih🌹🙏🤗
**
Bab ini di larang baca saat berpuasa, karena Author tidak bertanggungjawab apabila pembaca memiliki pasangan yang sedang LDR atau para jomblower yang galau dan halu, takutnya guling tak bisa mengekspresikan yang indah seperti yang di lakukan Satria. Hihihi 🙏✌️
__________________________
Bak alunan musik dari kodok dan jangkrik saling bersahutan, dendangan ria nyamuk mendengung indah bertebangan, Buzz! Tak kalah, lantunan merdu cicak di dinding juga meramaikan suasana malam yang sepi, di dalam kamar Tuan Muda Satria.
Pemuda yang baru saja naik ke kelas 2 SMA itu telah semakin ahli, sebagaimana yang pernah ia tangkap kala itu. Sang gadis pujaan hatinya, menginginkan yang Ahli.
Pemuda itu telah menunjukkan ke ahlian yang ia pelajari dari majalah suci, komik, YouTube dan lainnya. Lalu, praktek secara otodidak menjadikan ia menjadi sang ahli dadakan.
Ia menabrakkan bibirnya yang sexsy dengan bibir Nurbaya, mengecupnya lembut penuh kasih sayang, namun seiring detik berlalu, lidahnya telah menguasai mulut Nurbaya, menyapu bersih lidah, gigi dan bibir Nurbaya dengan lidahnya.
Lidah itu bergelayut manja. Melilit dan meliuk liar di sana.
__ADS_1
Entah Nurbaya sudah gosok gigi atau belum? Namun sekarang lidahnya telah menggosok gigi Nurbaya, bahkan air ludah Nurbaya serasa es jeruk, wangi seperti farfum, buktinya Satria tak merasa terganggu, ia memejamkan matanya menikmati ciuman itu.
Entah berapa menit proses itu terjadi, Satria pun melepaskan tautan itu, menghirup nafas dengan nafas ngos-ngosan, wajah mereka berdua merah merona. Satria mengusap wajahnya, tersenyum, berniat menjauh. Namun, Nurbaya menggelayutkan tangannya ke leher pemuda itu.
Menyosor pemuda itu dengan rakus, agak terasa bodoh dan tak ahli, namun Satria menikmatinya.
Sampai Ia tak bisa menahan diri, ada sesuatu yang memberontak keras di sana, maklum dia laki-laki normal. Ia mendorong tubuh Nurbaya pelan. “Kakak, sudah.” ucapnya. Ia mengusap wajahnya.
“Hm...” Nurbaya terlihat enggan, sepertinya masih menginginkan nya.
Ia hendak menyosor Satria lagi, tetapi pemuda itu menolak, menahan wajah Nurbaya. “Kakak sudah, ayo kita tidur.” ucap Satria pelan.
“Kakak, jangan!” Satria menarik tangan Nurbaya, lalu mendorong tubuh gadis itu keluar dari kamarnya.
Blam! Satria menutup cepat pintu kamarnya, lalu menguncinya.
Pemuda itu meletakkan tangan di dadanya, mengatur nafas, hampir saja dia khilaf, kehilangan logika.
“Bocah Nakal, kau berani mendorongku? Bahkan mengusirku dari kamarmu? Kau tidak mau lagi? Ok, fix! Awas saja kalau kau memulainya lagi!” memaki Satria dari luar pintu.
'Si*l! Siapa yang tidak menginginkan nya? Aku bahkan ingin lebih, dasar Kakak bodoh! Kalau kau masih di sini, aku pasti akan menerkam dirimu!'
__ADS_1
Satria mengusap wajahnya kasar dan berakhir bermain solo di dalam kamar mandi.
'Alangkah lebih baiknya kalau aku menikah saja dengan Kakak. Aku selalu tersiksa kalau seperti ini.'
**
“Aaaaa!!! Malunya aku, aku di tolak dan di dorong Bocah Nakal itu? Awas saja!” gumam Nurbaya berjalan ke kamarnya dengan wajah merah padam, antara marah dan malu.
“Apa yang harus aku lakukan untuk membalas penghinaan ini?” ngomong sendiri. Untung saja tidak ada yang mendengar.
Nurbaya sampai di kamarnya. Ia mencuci wajahnya. Namun ia tak ingin gosok gigi. Tau kenapa? Karena gadis itu tak ingin kehilangan rasa mint yang Satria tularkan di mulutnya.
Ia tersenyum sendiri, meraba bibirnya.
“Bocah Nakal itu makan apa ya? Kok bisa manis begitu sih bibirnya? Apa dia makan permen dulu sebelum memulai? Hm, sepertinya aku harus tanya Mbah Google deh.”
Setelah mencuci muka, Ia berbaring tertelentang. Mencoba memejamkan matanya, tak bisa, di dalam pikirannya masih saja adegan ciuman panas tadi.
“Aahh, kenapa sih aku jadi kegatelan seperti ini? Gara-gara Bocah Mesum itu tuh! Tapi aku suka. Aaaaaaah!!!” ucapnya sendiri malu-malu.
***
__ADS_1