
Satria dengan semangat pagi yang baru, mengumbar senyum bahagianya. Bagaimana tidak, kemarin seharian, dia bermanja-manja dengan Nurbaya, bahkan tadi malam masih meminta jatah. Benar-benar dalam masa candu pengantin baru.
Pagi ini, Nurbaya tersenyum malu-malu, memasangkan dasinya, lalu menyusun buku sekolahnya untuk ia baca-baca jika urusan kantor sudah selesai. Nurbaya juga memasukkan cemilan ke dalam kotak bekal, mengecup pipinya mesra. Ini adalah awal yang baru bagi Satria.
Sekretaris Dewa telah siap menunggu, ia membuka pintu saat Satria hendak masuk. Lalu, setelah masuk, Satria melambaikan tangannya pada Nurbaya yang berdiri mengantar Satria. Senyumannya masih terkembang sampai tak ada lagi bentuk titik rumahnya terlihat dari kaca spion mobil yang dikendarai Sekretaris Dewa.
Saat ia datang, ia masih saja tersenyum, membuat karyawan terpukau melihat ketampanan dari keindahan senyuman itu, biasanya mereka hanya melihat wajah datar yang dingin, namun masih tetap tampan, tetapi kali ini double tampannya.
“Eh, si Boss kecil kenapa? Pagi-pagi udah senyam-senyum aja, apa dia punya pacar baru kali, ya?”
“Iya kali, maklum dia kan masih remaja, mungkin cinta pertamanya.”
“Ah, bisa jadi. Lebih baik si Boss kecil punya pacar, biar kita bisa lihat senyumnya, dari pada muka kecutnya yang datar itu, kan?” timpal lainnya.
Begitulah beberapa orang dari mereka bergosip, mengatakan Satria punya pacar. Ya, mulai dari umur Satria yang masih muda, pengusaha muda yang sukses, pintar dan bertalenta, cucu semata wayang pewaris Damrah Groub, beberapa orang penting di kantor cabang sudah mengetahuinya secara perlahan. Namun, Satria menikah, belum ada yang menyebarkan.
Tamu undangan saat itu hanya kolega penting dan keluarga inti, tak ada dari mereka yang menyebarkan berita itu, sampai Arnel Harviz Damrah sendiri yang akan mengatakannya secara publik nanti. Rencananya, Arnel akan mengumumkan secara publik, apabila Satria telah tamat SMA.
Karyawan yang dilewati Satria berbisik-bisik, Sekretaris Dewa membuka pintu mempersilahkan Tuan Muda itu duduk, Ia meminta bawahannya membawakan minuman dan potongan buah ke dalam ruangan Presdir.
“Tuan Muda, saya keluar sebentar.” ucapnya pamit. Satria membalas dengan mengibaskan tangannya, lalu masih tersenyum sendiri.
“Ehem!” Sekretaris Dewa berdehem kuat diantara kerumunan karyawan yang bergosip. “Apa kalian sangat suka bergosip? Apa kalian ingin aku kurangi point kerja kalian? Atau potongan gaji?” sarkasnya.
“Maaf, Pak.” Mereka terburu-buru berlari ke tempat duduk mereka masing-masing.
Sekretaris Dewa berdiri di tengah-tengah, lalu bersuara lantang. “Jika kalian masih terdengar bergosip yang tidak-tidak, aku akan menghukum kalian.” ucapnya tegas, lalu merapikan jasnya, berjalan kembali keruangan Satria.
Di dalam ia masih melihat Satria tersenyum. “Tuan Muda,” panggilnya. “Hm?” sahut Satria.
__ADS_1
“Apa kita bisa mulai bekerja sekarang, yang mana dulu kita kerjakan?” tanyanya meminta pendapat pria muda itu.
“Kau kerjakan dulu saja, nanti biar aku periksa.” Satria membuka jasnya, tiduran santai di sofa dengan tangan menopang kepalanya. Sekretaris Dewa hanya menghela nafas.
Pria itu mengambil bantal dan meletakkan di kepala Satria.
Toktoktok! Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Ya, silahkan masuk!” sahut Sekretaris Dewa setelah meletakkan bantal di kepala Satria.
Masuklah seorang karyawan berpakaian seragam Damrah Groub berwarna biru laut, “Maaf, apakah ini pesanan yang Bapak minta?” tanya wanita itu dengan hormat, ia hanya di suruh oleh atasannya.
“Ya, terimakasih, pergilah!” sahut Sekretaris Dewa.
Wanita itu pun pergi dan kembali menutup pintu.
“Tuan Muda, ini minumnya dan potongan buah.” Sekretaris Dewa meletakkannya di meja.
Entah berapa lama Satria membaca, begitupula Sekretaris Dewa fokus dengan tugasnya, sekali-kali memencet handphonenya, mengetik di laptop, membuka beberapa kertas, pokoknya sangat sibuk.
Setelah selesai, perut Sekretaris Dewa pun mulai berbunyi. Ia merapikan semua berkas yang sudah ia buka, mematikan laptopnya. Lalu mendekat ke arah Satria. Ia lihat pemuda itu sudah tertidur pulas dengan buku menutup mulutnya.
Ia mengambil buku dan menutupnya, merapikan kaki Satria, lalu keluar hendak membelikan makan siang untuk Satria.
Selama Sekretaris Dewa keluar, Melani telah masuk keruangan Satria. Entah bagaimana caranya wanita itu masuk, para perempuan yang bertugas sebagai administrator di depan, mengira kalau Melani memang diizinkan oleh Sekretaris Dewa dan Satria untuk masuk ke dalam. Karena Sekretaris Dewa mengatakan kalau dia akan membeli makanan, jadi mereka mengira itu adalah pesanan Direktur.
Melani masuk ke dalam, ia tersenyum melihat Satria sendirian tertidur di dalam. 'Ini kesempatan bagus,’ katanya dalam hati.
Ia mendekat, membuka topi dan maskernya. Lalu, membelai wajah Satria. Pemuda itu mengernyit, merasakan tangan aneh telah menyapu wajahnya, ini bukan tangan bidadarinya, bukan pula sentuhan Sekretaris Dewa. Ia membuka matanya.
__ADS_1
Ia terkesiap, matanya membulat sempurna melihat Melani dengan jarak dekat dari wajahnya. Ia mendorong wajah itu kuat. “Apa yang kau lakukan di sini?! Keluar!” seru Satria.
“Galak sekali, aku membawakan makanan untukmu.” ucap Melani masih menggoda. Ia terus mendekat, mengelus bahu Satria.
Satria menepuk tangan Melani, lalu berdiri. “Pergi!” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Kenapa mengusirku terburu-buru begitu adik kecil? Aku bisa mengajarkanmu permainan biar cepat besar.” ucapnya menggoda, membuka satu buah kancing baju atasnya.
Satria bergegas berjalan, mengambil telepon. Melani terburu-buru menutup telepon itu dengan paksa. “Jangan begitu, mari kita bersenang-senang dulu.” ucapnya. Satria menatap Melani jijik.
Ia memencet tombol merah di bawah mejanya tanpa sepengetahuan Melani. “Begitu dong, kalau tenang begini, aku jadi suka.”
Satria ingin muntah rasanya. Melani mengambil tangan Satria, mencoba meletakkan di dadanya. Namun tangan Satria keras dan kuat, malahan tangan itu mengarah ke leher Melani. Kemudian tanpa ba-bi-bu, Satria mencekik leher Melani.
“Menjijikan!” hinanya, Ia membanting tubuh Melani ke lantai. Satria menepuk-nepuk tangannya, lalu menghapusnya dengan tisu, seolah dia baru saja menyentuh kotoran.
Melani mengelus kaki dan tangannya yang sedikit tergores karena di dorong kuat Satria, apalagi lehernya cukup terasa ngilu, ia pun masih terbatuk-batuk kecil.
Tak lama, dua orang satpam masuk ke dalam, juga di iringi oleh Sekretaris Dewa yang berkeringat, sepertinya dia baru saja berlari kencang.
“Tandai wajah perempuan ini, jangan sampai aku melihatnya lagi. Buang semua benda yang ia bawa, lalu karpet ini buang juga.”
Kedua orang satpam itu langsung menarik paksa Melani yang kesakitan, rantang makanan, topi dan maskernya juga di bawa oleh satpam itu. Kemudian masalah karpet, Sekretaris Dewa mendapatkan tugas baru, meminta orang untuk mengganti karpet dengan cepat. Padahal jelas-jelas karpet ini baru dan sangat mahal.
“Siapkan air mandi dan pakaianku! Aku tak ingin sesuatu yang kotor tertinggal di tubuhku!” ucapnya dengan wajah garang dan dingin.
Mood yang tadi baik menjadi hancur gara-gara Melani.
“Baik, Tuan Muda.”
__ADS_1
***
💓