Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Pulang


__ADS_3

Nurbaya dan Satria telah menghabiskan waktu mereka kurang lebih seminggu di kota Yosinan ini, main pacar-pacaran, yang ujung-ujungnya Nurbaya yang kelabakan.


Apapun ulahnya, Satria yang menang, mereka memang belum melakukan malam pertama, tapi setidaknya Satria selalu menempel dan mendapat untung dari istrinya. Hari ini adalah hari terakhir mereka di sini, seorang pelayan hotel telah membantu Nurbaya mengepak semua barang-barang bawaannya ke dalam koper.


Ada banyak hadiah yang gadis itu beli, bukan hanya untuk orang tuanya serta Aira dan Arnel, namun juga untuk semua pelayan yang ada di rumah.


“Apa masih ada yang ingin kamu beli?” tanya Satria memastikan.


“Enggak, udah cukup. Nanti terlalu banyak, susah.”


“Apanya yang susah, lagian ada yang bantu.”


“Ya, ya, dasar pamer!” dengus Nurbaya. “Udah gak ada lagi yang ingin aku beli.”


Setelah pelayan itu merapikan semua barang-barang ke dalam koper, Satria memberikan pelayanan itu tips. “Makasih, Tuan Muda.” ucapnya dengan wajah berbinar.


Toktoktok! Baron mengetuk pintu.


Satria melirik, lalu dengan sorot matanya Baron mencari tahu kalau Tuan Mudanya itu sedang menunggu laporan apa yang akan ia sampaikan. Dengan sangat hati-hati ia berkata dengan sopan.


“Maaf, Tuan Muda. Sepertinya jet pribadi Anda sedikit terlambat kurang lebih 1 jam, ada rute penerbangan yang berubah jalur karena cuaca buruk.”


Satria mengangguk lalu mengibaskan tangannya. 'Aaaaah, lega! Syukurlah, hampir saja, aku cemas sekali tadi.'


“Apa Tuan Muda marah, Bang?” sambut Jaka dengan pertanyaan saat Baron sampai di luar kamar hotel.


“Syukurlah tidak, sepertinya dia dalam mood baik, mungkin saja Nona sudah menservis nya dengan baik sejak pagi.” Ia tersenyum.


Waktu terus berputar, hingga kedatangan jet pribadi telah di konfirmasi oleh Baron. Satria dan Nurbaya juga telah bersiap, ada dua orang Bell Boy dengan cekatan membawa semua barang-barang dan koper mereka.


Jaka dan Baron berjalan di depan sedangkan 8 orang yang berpakaian seragam hitam yang kemarin dilihat Nurbaya mengikuti dari belakang. Mereka semua masuk ke dalam jet itu. Tak lama, mereka pun melakukan perjalanan pulang.


**


Hadiah telah di bagi, Nurbaya dan Satria telah tertidur pulas di ruang televisi dengan satu bantal. Ya, ini semua ulah berondong nakal itu, sepanjang perjalanan ia menganggu Nurbaya, membuatnya kelelahan dan kurang tidur. Para pengawal pun harus mengalihkan pandangan mereka dari keuwuwuan Satria. Ada juga yang memilih memejamkan mata dan berpura-pura buta serta tuli. Ya sudahlah, namanya juga pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya! Kira-kira begitu tanggapan mereka.

__ADS_1


Bi Mona menutupi tubuh mereka dengan selimut tipis, mengusap kepala Nurbaya dan Satria. Dua manusia yang sama-sama ia sayangi sejak kecil, yang sama-sama ia rawat.


Sore hari, Satria terbangun, sudah tak ada sosok istri yang menemaninya. Ia hanya sendiri di sini. Ia bangun dengan wajah kusut bangun tidur, berjalan mendekat ke arah Nurbaya yang sedang tertawa ria dengan pelayan lain.


“Sayang, siapkan pakaian dan air untuk mandiku.” rengeknya memeluk Nurbaya dari belakang.


Pelayan lain senyum-senyum. “Kami kesana dulu, ya, Ay.” ucap mereka dengan mata mengode.


“Kenapa meluk-meluk begini sih di depan yang lain? Gak malu apa?”


“Gak!” ucapnya santai.


“Tapi aku malu!”


“Kalau malu, makanya jangan tinggalkan aku sendirian,” Masih memeluk Nurbaya, enggan melepaskan pelukan itu.


“Kamu sudah mandi ya? Wangi banget sih. Cup!” Langsung mengecup leher Nurbaya.


“Ka-kamu! Malu dong, nanti di lihat yang lain.” Ia berkata sembari merapatkan giginya dengan marah.


“Eh, kamu! Turunin!”


Satria tak acuh, ia terus membawa Nurbaya ke dalam kamar, “Buka pintunya, Sayang.” perintahnya. Nurbaya yang berada dalam pangkuan Satria pun menurut dan membuka pintu kamar.


Menutup pintu kamar dengan kaki, meletakkan tubuh Nurbaya di atas ranjang, langsung mencium bibir itu. “Besok aku mau minta hak!” ucapnya setelah melepaskan ciuman mesra mereka.


“Loh, kan belum sebulan, masih semingguan.” protes Nurbaya.


“Tapi aku sudah tak tahan, lihat deh sekarang ini.” Ia menarik tangan Nurbaya dan meletakkannya di area sensitif.


Eh? Nurbaya terkesiap. 'Waduh, apa itu?' Nurbaya tambah merinding membayangkan benda keras itu.


“Aku tak bisa tersiksa begitu lama, apa kamu tak kasihan denganku? Kau juga akan bertambah banyak dosa loh, karena tidak memenuhi kewajibanmu. Jangan nambah dosa lagi, dosa yang kemarin aja belum habis.”


Nurbaya menatapnya tajam. Satria malah tersenyum, “Aku tak bisa menahan lebih lama lagi.” ucapnya. Lalu, berdiri dan mengambil handuk. Pergi ke kamar mandi meninggalkan Nurbaya.

__ADS_1


Dan masalah ia meminta di siapkan pakaian dan air hangat tadi hanyalah sebuah alasan.


**


Keesokan harinya, Satria langsung masuk ke kantor, ada begitu banyak yang harus ia periksa dan tanda tangani. Belum lagi tugas sekolah yang seabrek.


Jarum jam terus berdetak, hingga tak terasa jam pun sudah menunjukkan jam 3 sore. Nasi yang telah di belikan Sekretaris Dewa sejak tadi pun sudah mulai dingin.


Satria merenggangkan otot tubuhnya yang terasa remuk, Ia pindah duduk ke sofa. Sekretaris Dewa dengan sigap mendekat. “Apa Tuan Muda akan makan sekarang? Biar saya siapkan dulu.”


Satria hanya diam saja, Sekretaris Dewa langsung menghidangkan makanan di atas meja kaca di depan kursi sofa itu. “Kau tidak makan, Kak?” tanya Satria padanya.


“Saya sudah makan, Tuan Muda.” Satria pun mengangguk.


Sebelum makan, Ia menciumi gelang yang bertuliskan Satya, lalu mengetik sesuatu di handphonenya. [Sayang, apa kau sudah makan? Aku sekarang akan makan.] Sebuah pesan terkirim pada Nurbaya.


Tak ada balasan, ia menekan panggilan. [Hm, ada apa?] Suara parau Nurbaya terdengar disebrang telepon.


“Apa kau sudah makan?”


[Sudah tadi, bukannya kamu lagi kerja, aku ngantuk banget nih, aku tidur lagi, ya.] BIP! Nurbaya mematikan handphone sepihak.


Satria dengan tersenyum kecut memakan makanannya, setelah selesai makan ia pun kembali mencium gelang yang bertuliskan Satya itu. Sekretaris Dewa yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


'Beginilah orang yang sedang di mabuk asmara, bisa menjadi gila, karet tak berguna di anggap emas berharga.'


Setelah makan, Sekretaris Dewa memanggil seseorang berpakaian seragam dengan sapu dan kain di tangannya. Karyawan itu dengan sigap mengemas piring kotor, serta membersihkan meja kaca yang di gunakan Satria tadi.


Satria menguap beberapa kali, merebahkan tubuhnya di sofa.


Sekretaris Dewa menarik sisi bawah sofa itu, sehingga sofa itu terlihat seperti ranjang mini. Ia meletakkan bantal di bawah kepala Satria. “Pakailah bantal, Tuan Muda. Nanti kepalamu bisa sakit jika seperti ini.”


“Hm.” sahut Satria pendek.


Tak lama, pemuda itupun tertidur lelap.

__ADS_1


***


__ADS_2