Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Norwich


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, Satria dan Nurbaya bahagia bersama, begitu pula dengan Melani dan Erian yang sibuk membeli persiapan perlengkapan melahirkan, bermain bersama, periksa kehamilan bersama, penuh canda tawa, bak sepasang suami istri nan rukun bahagia.


Hari ini adalah hari minggu, Erian dan Melani jalan-jalan di pasar Norwich.





Beli ini dan itu penuh cita dan tawa.


Setelah berbelanja, mereka memilih duduk di cafe yang tak jauh dari pasar, memesan makanan dan minuman. Menikmati makanan masih dengan suka cita, tetapi beberapa saat kemudian, Melani melihat sepasang manusia yang ia kenal.


Di sana, tepat di tengah jembatan penghubung pasar dan perumahan, sungai yang indah di tepi perumahan itu. Mata Melani terus menatap sepasang manusia, hingga Erian juga sadar kemana arah Melani memandang. Ia juga melihat kemana arah Melani memandang, tak ada apa-apa.


Melani bergegas minum, berdiri, berjalan mengikuti sepasang manusia itu. Erian bergegas membayar makanan mereka, membawa semua barang-barang yang mereka beli tadi dengan susah payah sambil mengejar Melani yang berperut besar berjalan begitu cepat.


Melani telah berdiri di tengah jembatan, lalu terus berjalan menyisiri sungai yang berada di depan perumahan itu, Nurbaya dan Satria telah menghilang.


“Kemana mereka pergi?” Melani berbicara sendiri sembari menatap ke arah lain.




“Ah, aku sudah sangat merindukan dia.”


“Semoga, kamu baik-baik saja, Aya.” Melani menatap air yang tenang di depannya.


“Sayang.” Erian meletakkan barang-barang nya, kemudian memeluk Melani.


“Kamu kemana Sayang? Apa yang kamu lihat? Sampai-sampai kamu melupakanku?” Memeluk Melani erat.


“Hm. Tadi aku melihat Nurbaya dan Satria di sini.” Tunjuk Melani.


Erian tercengang, menatap wajah Melani, mencari tahu apakah kekasih hatinya itu sedang berhalusinasi. “Sayang, mungkin kamu salah orang.” Erian mengelus kepala Melani.


“Hm.”


“Ya udah. Yuk, kita pulang. Kita masak, pasti dedek bayinya juga sudah lapar.” Erian menggenggam erat tangan Melani sembari mengelus perut besar itu.

__ADS_1


“Sini, aku bantu.” pinta Melani.


“Gak usah Sayang, aku masih kuat kok. Ayo,” balas Erian dengan senyum sumringah.


Waktu terus berputar,


Beriring waktu berjalan, Erian dan Melani telah sampai di kontrakan mereka dan sekarang mereka sedang memasak berdua. Erian beberapakali memeluk Melani dari belakang setelah membantu memotong sayuran.


Erian tidak bisa memasak, hanya bisa membantu membersihkan ikan dan ayam serta memotong sayuran.


“Lepasin deh, gimana aku bisa masak gini, nanti terciprat minyak panas.” Melani berdecih.


“Makanya, Sayang, tadi aku bilang pakai jacket dan penutup kepala gini.”


“Hadeh, emang aku kamu, masak telor ceplok aja pakai helm!” Mencemooh Erian.


“Itu wajar Sayang. Namanya siap sedia sebelum berperang, ibarat mau hujan nich, aku dah sediain payung duluan. Jadi, biar wajahku tak kena minyak panas, aku pakai helm.” jelas Erian membela diri.


“Ya, ya, terserah kamu.” Malas berdebat.


Melani memasak dengan lincah, dia terbiasa hidup sendiri sejak keluar dari rumahnya. Ia mulai mandiri. Erian selalu saja mengganggunya dengan memeluk dan mencium tengkuk wanita hamil besar itu.


Melani melepas tangan Erian. “Kenapa sih, kamu selalu bahas menikah, menikah dan menikah. Gak bosan apa?”


“Gak. Aku gak bosan sedikit pun, aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu hingga nanti. Makanya aku ingin nikah sama kamu, Mel.”


“Aku 'kan dah bilang, aku gak bisa nikah sama kamu, aku gak suka, aku gak cinta sama kamu. Kamu paham, 'kan?”


Sedikit kecewa terlukis di wajah Erian, “Ya, aku paham. Gak masalah, kalau kamu gak cinta aku, aku hanya ingin menikah sama kamu.”


“Kenapa harus menikah? Kita bisa hidup berdua begini, kita juga bisa tidur seranjang. Apa lagi? Kenapa harus menikah?”


Erian menghela nafasnya. Memegang kedua tangan Melani, mengelus punggung tangan itu. “Aku tau Mel maksudmu, kita bisa berdua setiap hari begini siang dan malam, kita bahkan bisa bercinta kapanpun kita mau.” Erian diam sejenak, menjeda perkataannya.


“Tetapi Mel, aku ingin hubungan kita mempunyai sebuah ikatan demi anak yang ada di dalam perut ini, aku ingin ada namaku, namamu dan nama anak ini di kartu keluarga. Aku tak ingin pria manapun bisa mendekatimu, aku tak ingin berbagi dengan pria manapun.” sambungnya.


Melani menatap manik mata Erian dalam, sejenak ia terdiam, berpikir. “Baiklah, jika kau ingin menikah. Tapi...” Melani menatap Erian yang menanti ucapannya.


“Tapi apa, Mel?”


“Aku hanya ingin menikah saja, tak ada acara, tak ada orang banyak, hanya menikah saja. Aku tak ingin keterikatan. Aku ingin bebas.”

__ADS_1


“Baiklah.” jawab Erian cepat, kemudian memeluk Melani.


“Kamu mau kita nikah dimana?” tanya Erian antusias.


“Di sini.”


“Hm? Di sini?” tanya Erian, Melani menjawabnya dengan mengangguk.


“Kalau begitu aku harus menelfon mama dan papa dulu, mengabari mereka. Boleh, 'kan?” Menatap Melani.


“Boleh, cukup kabari yang penting saja, seperti Mama dan Papamu.”


“Ahhh, Sayangku. Kalau begitu, aku telfon Mama dan Papa dulu, ya. Cup!” Ciuman di akhir kalimat penutup percakapan mereka.


Melani mentata makanan mereka di meja makan, sedangkan Erian menelfon kedua orangtuanya, menceritakan kabar dirinya dan Melani, serta memberi kabar jika Melani setuju menikah.


Orangtuanya tidak setuju ide Melani yang menikah secara rahasia begitu, mereka ingin mengadakan party besar-besaran. Apalagi setelah kegagalan Erian di pernikahan pertamanya, banyak gosip mengatakan kalau Erian lelaki yang tidak normal, mandul dan lainnya.


Erian pun menjelaskan kepada orangtuanya keadaan Melani,


“Ma, Pa, Kalian tau 'kan, kalau Melani masih trauma, dia dalam keadaan hamil besar sekarang? Nanti, jika dia sudah melahirkan, dia sudah dalam keadaan baik, kita akan merayakan besar-besaran serta memperkenalkan cucu kalian pada semua orang. Bagaimana?”


Usulan Erian pun akhirnya bisa di terima oleh orangtuanya.


“Baiklah kalau begitu, kami akan segera berangkat ke Inggris.” jawab mereka dengan senyuman.


Erian mematikan teleponnya setelah itu, memasukkan ke dalam kantong celananya, lalu mendekat ke meja makan. Di sana, sudah ada Melani yang tersenyum menyambutnya.


“Sudah selesai menelfon? Ayo, kita makan.” ajak Melani.


“Udah. Kamu gak penasaran, apa yang di katakan orangtuaku?”


“Enggak.” jawab Melani datar. Ia langsung mengambilkan Erian piring, spaghetti dengan goreng ayam tepung di letakkan di dalam piringnya bersama saus mayones.


“Huh.” Erian mencebik, Melani terkikik.


Cup! Ia mencium pipi Erian. “Mereka bilang apa?” tanya Melani sembari mengambil kentang goreng bersama saus keju.


“Mereka bilang akan ke sini.” jawab Erian antusias dengan senyuman bahagia.


“Oh.” Melani mengangguk sembari mencocol kentang goreng dalam saus keju, lalu memakannya dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2