Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Sosok dirimu


__ADS_3

Aira dan Arnel berjalan bergandengan tangan ke danau hijau buatan kakek buyut Satria, Ari Damrah.


Di tepi danau, mereka duduk santai di atas bangku bercat putih yang menghadap ke danau. “Sayang, apakah menurutmu ini adalah pilihan yang baik?” Arnel menggenggam erat jemari Aira, ia menatap dalam manik wanita tua itu.


“Sayang, Satria sangat menyukai Nurbaya. Tidak kah kau lihat dia selama ini bekerja begitu keras, bahkan anak seumur dia masih menghabiskan waktu bermain-main, menghamburkan uang, berkumpul dengan teman-teman.” jawab Aira.


“Aku melihat sosok dirimu pada dirinya,” kata Aira kembali, tersenyum secerah mentari pagi.


“Benarkah? Tapi, aku melihat sosok dirimu pada dirinya.” Perkataan Arnel membuat Aira tergelak.


“Ada sosokku pada dirinya? Hahahaha, kau lihat darimana, Sayang?”


“Dia keras kepala dan pendiam.”


“Hei, yang keras kepala itu, Tuan Arnel kesayanganku.”


“Egois, manja, keras kepala, posesif.” ucap Aira terkikik.


“Yang ada itu, Satria menduplikat hampir seluruh sifatnya dan Papa. Dia tak sedikit pun terlihat seperti Agung ataupun A-Yeonk Jin.”


“Hm...” Arnel menghela nafasnya.


**


Kemarin.

__ADS_1


“Ada apa kau datang ke sini? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?” tanya Arnel.


“Ya.” jawab Satria.


“Ada apa?”


“Aku ingin menikahi Nurbaya.” Menghela nafas. “Aku ingin Kakek membantuku.” ucapnya kembali.


Arnel mengernyitkan keningnya. “Membantu?” Satria mengangguk. “Apa yang bisa Kakek lakukan, untuk membantumu?”


“Gampang, Kakek hanya perlu menemaniku berakting. Aku ingin Nurbaya bertanggungjawab denganku, sebenarnya ini agak menggelikan, tapi itu satu-satunya cara untuk membuat dia terikat denganku.”


“Dia telah beberapa kali menolak ku.”


“Menolak?” tanya Arnel tak percaya. Cucunya yang tampan dan kaya ini, ada yang tidak tertarik? Bahkan, dia sangat baik pada Nurbaya semenjak dulu. Tapi gadis itu berani menolaknya. 'Menarik!'


“Dia selalu mengatakan aku masih kecil dan selalu menganggapnya bercanda. Jadi Kakek harus bantu aku.”


**


Arnel tersenyum kecil saat mengingat kejadian kemarin. “Sayang, kenapa tersenyum sendiri.” Suara Aira membuyarkan lamunan Arnel.


“Aku hanya teringat akan Satria, dia sama sepertiku dulu.”


“Nah, itu kamu ngaku sendiri.” Aira terkekeh.

__ADS_1


“Sama kalau lagi jatuh cintanya, bukan semuanya, Sayang. Aku dulu juga melakukan apapun agar merebut hatimu, tapi kau gadis yang tidak pengertian, tidak punya perasaan dan tidak peka. Sedikit mirip sama Nurbaya.”


“Coba deh ingat, kamu tuh selalu jahat dan jahilin aku, mana bisa aku gampang percaya waktu itu. Tapi sekarang aku sudah punya perasaan kan?” Aira menarik turunkan alisnya.


Arnel tersenyum, lalu mengecup kening istrinya. “I love you, Sayang.”


**


Nurbaya langsung mencari Ayah dan Ibunya.


“Bu, Ayah.” panggil Nurbaya.


Kedua manusia paruh baya itu menoleh.


“Bu, Ayah, coba katakan lagi pada Tuan dan Nyonya masalah pernikahan ini. Bukankah sangat aneh jika saya menikah dengan Tuan Muda Satria. Dia baru saja berumur 17 tahun, sedangkan saya sudah 29 tahun. saya dan dia terpaut usia 12 tahun.” jelas Nurbaya.


“Saya terlalu tua dan jelek untuk Tuan Muda, itu bisa menghancurkan martabat dan nama baik keluarganya, apalagi Tuan Muda adalah cucu semata wayangnya. Apa tak di sayangkan kalau begitu?”


Bi Mona dan Ayah tampak berpikir.


“Kau harus bertanggungjawab atas sikapmu itu. Kau tau kan sejak dulu, kalau Tuan Muda menempel denganmu, dia memilihmu menjadi istrinya, seharusnya kamu bersyukur.”


“Lagian, Tuan Muda adalah seorang pemuda yang baik, Ayah dan Ibu sangat menyukainya.”


Nurbaya melengos, malas.

__ADS_1


'Capek ngomong sama orangtua yang udah bucin dari dulu sama Bocah Nakal itu!'


***


__ADS_2