Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Foto


__ADS_3

Erian diam-diam terus mengikuti Melani setiap hari. Ia bahkan sering dimarahi orangtuanya karena sering mengabaikan perusahaan yang diamanatkan padanya.


Ia menyadari tak bisa hidup tanpa Melani, ia telah jatuh hati terlalu dalam pada wanita itu. Berpisah dengan Melani jauh lebih menyakitkan dari pada berpisah dengan Nurbaya. Ia tak mengapa jika tak bertemu Nurbaya dulu, namun ia tak bisa jauh dengan Melani, selalu merindukannya.


Hari ini ia membuntuti Melani keluar dari sebuah apartemen mewah.


“Dia tinggal di apartemen?” Erian bergumam sendiri, ia masih melihat dari kejauhan.


Melani tampak pergi ke sebuah supermarket, membeli makanan sekantong penuh. Lalu, masuk kembali ke apartemennya. Erian mencari tahu tentang apartemen itu.


Setelah ia mendapatkan informasi, ia menemui seseorang yang hendak menjual kamar apartemennya. Kamar itu berjarak 3 kamar dari kamar Melani. Proses yang sangat cepat jika ada uang. Erian membeli kamar itu.


“Apa lagi yang kau lakukan anak nakal? Kau membuang-buang uangku lagi?” Suara dari telepon Ayahnya. Bapak itu baru saja menerima pembayaran SMS banking dengan jumlah uang yang cukup besar.


Erian hanya diam saja, mendengarkan pria paruh baya itu memakinya. Tut! Ayahnya dengan kesal mematikan panggilan.


Erian menghela nafasnya. Ia benar-benar kacau sekarang, semenjak putus dengan Melani, ia merasa sangat terpuruk. Lalu, menikah dengan wanita jahat, semakin hancur hidupnya.


Erian mengikuti Melani kembali. Gadis itu terlihat membeli beberapa botol minuman yang dibawa dengan kresek berwarna hitam.


“Apa itu alkohol?” Erian bergumam.


Melani kembali masuk ke dalam kamarnya setelah membeli minuman. Erian masih melihat pintu itu terkunci rapat. Entah berapa lama, dia masih menatap pintu itu. Tak tahan, Erian membunyikan bel.

__ADS_1


Melani dengan tergopoh-gopoh membuka pintu. “Aku makan sama ayam bakar aja, Pak.” ucapnya.


Erian malah terbengong dan melihat kiri kanan, tak ada siapapun. Melani berbalik tanpa menutup pintu, berjalan meraba-raba dinding. Erian mengikutinya, ia melihat botol-botol yang sudah kosong. Ruangan ini bau alkohol.


“Kamu kenapa seperti ini?” tanyanya, Ia memapah tubuh Melani, meletakkannya di sofa.


“Si*lan! Aku tak akan menyerah!” Melani meracau.


Melani muntah-muntah. Erian mengernyit dan menutup hidungnya. Ia membawa Melani masuk ke dalam kamarnya. Membuka baju gadis itu, menggantinya dengan baju tidur.


Melani pun tertidur pulas setelah Erian mengganti baju dan menyelimutinya. Erian mengedarkan pandangannya. Ia melihat begitu banyak foto yang tertempel di dinding. Ada foto anak kecil kembar, lalu gadis remaja kembar.


Erian melihat foto itu secara seksama, “Ini mirip Melani?” pikir Erian. Ia menatap foto kembar itu.


Erian terus berjalan, melihat semua foto-foto yang di tempel di dinding. Terlihat seperti peta. Ada tanda silang, tanda ceklis, tanda titik merah di foto-foto itu.


Foto Erian bersama Nurbaya, foto mereka bertiga dengan Melani. Foto Erian sendiri. Semua foto terlihat diambil diam-diam. Lalu, Erian juga melihat foto Nurbaya dengan Satria, foto-foto Satria sendiri yang diambil dari kejauhan.


“Apa semua ini?”


“Apa selama ini kamu menargetkan aku dan sekarang kamu menargetkan Satria?”


“Kenapa kamu seperti ini?”

__ADS_1


Erian mengelus rambut Melani.


Ia terus menatap semua foto. Di sebelah kiri paling bawah, ada foto laki-laki yang tak dapat ia kenali wajahnya dengan tanda silang berwarna merah.


Erian membuka laci dan lemari Melani. Ia juga memeriksa tas Melani. Di dalam tas ia menemukan begitu banyak kartu debit.


“Jadi, dia Melani Livia Handoko?! Kenapa selama ini dia tidak memakai nama Handoko?” Erian membaca sebuah fotokopi kartu keluarga.


“Melina Lucia Handoko? Jadi, kau kembar, Sayang?” Erian menatap Melani yang tertidur.


“Aku tak pernah mendengar nama Melina ataupun Melani. Aku pernah mendengar Monica Evengalin Handoko dan putranya Handerson Jeremi Handoko.” Erian mengelus dagunya.


“Tapi nama Handoko Suryono dengan nama mantan istri Tamara Kirana ini benar.”


“Tamara Kirana adalah pemilik perusahaan jewerly harliton.”


Erian mengelus lembut wajah Melani. “Sayang, sebenarnya siapa dirimu? Apa selama satu tahun kita bersama, tak ada sedikitpun rasamu untukku? Tak bisakah kau percaya padaku? Tak bisakah kau bercerita tentang dirimu? Aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi.”


“Melani, aku sungguh mencintaimu.” Erian mengecup wajah Melani. Kemudian ia merapikan kembali kamar Melani.


Ia keluar dan menutup pintu Melani.


Ia masuk ke kamar apartemennya yang berjarak 3 kamar dari kamar Melani. Ia menghubungi seseorang.

__ADS_1


[Aku butuh informasi tentang Handoko Suryono dengan mantan istrinya yang telah meninggal] Begitulah pesan yang ia kirimkan pada seseorang.


__ADS_2