
Setelah Satria sadar, Sekretaris Dewa memberikan segelas minuman dan menghubungi Dokter Haikal. Setelah berbincang dengan Dokter Haikal, Satria pergi bersama Baron, Jaka dan Sekretaris Dewa ke tempat wanita itu di sekap.
Baron membawa wanita itu duduk di hadapan Satria, tepatnya di ruangan interogasi. Baron dan Jaka serta bawahan lainnya berdiri disamping wanita yang duduk dikursi kayu itu. Sedangkan Sekretaris Dewa berdiri di samping Satria.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Satria.
“Aku ingin dirimu.” jawabnya menatap Satria tanpa takut. “Aku ingin bercinta denganmu,” sambungnya lagi tanpa rasa malu.
Sekertaris Dewa, Baron dan Jaka menatap tak percaya, betapa gilanya wanita ini, disituasi seperti ini dia masih bisa berkata seperti itu.
“Kau Hipersex?” tanya Satria dengan wajah datar yang tak bisa ditebak.
“Menurutmu?” sahutnya dengan senyuman mengejek. “Apa kau impoten, Adik Kecil?”
Plak! “Lancang!” Satu tamparan mendarat di pipi wanita itu oleh Baron.
Satria mengangkat sebelah tangannya, Baron pun diam kembali berdiri tegap. Semua hanya diam menunggu, cukup lama Satria terdiam.
“Kali ini pergilah sejauh mungkin, ini toleransi terakhir ku sebelum mereka menggilir mu.” Satria berkata dengan tatapan mata yang tajam, seolah ini adalah ancaman yang fatal jika di langgar.
Satria berdiri, merapikan jasnya, lalu membalik tubuhnya hendak pergi.
“Tunggu!” teriak wanita itu.
“Apa kau sungguh mencintai nya?” lanjutnya kembali bertanya dengan tatapan penuh arti.
Satria tersenyum sinis, “Itu adalah pertanyaan yang paling bodoh yang kau tanyakan.” sahut Satria sembari berlalu pergi dengan mengangkat satu tangannya.
Baron dan Jaka memberi isyarat mata kepada para bawahan, lalu mengikuti langkah Satria dan Sekretaris Dewa.
“Apa kau masih ingin tidur dengan Tuan Muda?” Salah satu bawahan itu bertanya setelah semua bayangan atasannya itu pergi.
Wanita itu menatap mimik wajah pria yang berdiri di hadapannya, mencerna dan mencari tahu makna kata itu. Tangan bawahan itu mulai meraba paha lalu menjalar ke perutnya.
Dia menelan salivanya. Walaupun dia tak virgin lagi, tapi ini adalah kejadian yang membuatnya trauma, ia sangat takut dan tertekan dengan kata perkosa. Walaupun ia sering melakukan dengan Erian, itu hanya atas keinginannya sendiri, bukan paksaan.
__ADS_1
Melani menendang pria itu, tendangannya hanya sedikit mengenai kaki karena ia masih terikat.
“Sudah, sudah, jangan mainkan dia lagi!” Seseorang menepuk pundak pria itu.
“Ini adalah peringatan terakhir untukmu, berhenti mengganggu Tuan Muda dan Istrinya, sebelum Anda mendapatkan hukuman berat.” ucap pria itu, lalu menatap dada montok Melani dengan tersenyum mesum.
Mereka melepaskan Melani dan menurunkan Melani di halte pusat kota dengan menyelipkan dua lembar uang seratus ribu.
Sekretaris Dewa meneguk susu hangat di apartemennya, Ia masih mengingat muka masam Satria saat pulang tadi, pemuda itu pulang dengan Pak Hamdan yang di ikuti oleh Baron dan Jaka.
“Aaaahh....” Menghela nafas, menghenyakkan pantatnya di sofa, duduk berseloncor, menatap langit-langit ruangan itu.
“Semoga saja... Tuan Muda baik-baik saja sekarang, Semoga Nona Nurbaya bisa menghibur hatinya.” Sekretaris Dewa memijit pelipisnya.
Beberapa hari yang lalu, ia menemui fakta bahwa Melani adalah anak seorang pengusaha, tetapi kenapa kelakuan gadis itu aneh dan tidak diperkenalkan dikalayak ramai? Apakah dia anak haram?
“Apakah ayahnya yang meminta dia untuk mengganggu Tuan Muda?”
“Tapi... Itu adalah tindakan yang paling bodoh, itu bahkan bisa menghancurkan perusahaannya.”
Ia membrowsing beberapa info tentang perusahaan dan kehidupan keluarga Melani. Hingga nada pesan masuk di handphone nya.
'Tuan, Melani adalah putri sulung Handoko bersama istri pertamanya, pemilik asli perusahaan itu. Ia memiliki adik kembar bernama Melina, meninggal karena bunuh diri.'
“Apa?!” Sekretaris Dewa terkesiap membaca pesan itu.
Sekretaris Dewa terus mencari pembenaran, Ia menghidupkan laptopnya, mengumpulkan semua data-data. Ia tak ingin Melani mengganggu perjalanan Satria dan Nurbaya esok hari, saat mereka bulan madu.
**
Satria dan Nurbaya saling berpelukan, wajah mereka penuh dengan senyuman bahagia. Mereka baru saja menyatukan rasa cinta mereka yang membumbung tinggi. Nafas Satria masih saja terdengar jerih.
Nurbaya melukis tanda love di dada Satria. “Apa kamu suka, Sayang?”
“Sangat suka, aku suka dengan goyangan diatasku.” menjawab dengan senyuman mesum. Wajah Nurbaya memerah mendengarnya.
__ADS_1
“Belajar darimana?” Mengangkat dagu Nurbaya.
Nurbaya tak menjawab, ia hanya tersenyum saja. “Kenapa gak jawab? Hm...?”
“Isshh... Apaan sih! Masa ditanya hal memalukan begitu, tentu saja bisa, itukan dari naluriku, saat rindu semuanya bisa dipelajari sendiri.” sahut Nurbaya malu, memukul-mukul pelan dada Satria.
Pemuda itu terkikik. Kemudian mengecup cepat bibir Nurbaya.
Setelah mengecup, Nurbaya mengelus bibir Satria yang tampak sedikit terluka. “Sakit banget, ya? Ini kenapa? Apa ada masalah tadi di kantor?”
Deg!
Satria menelan salivanya, sejenak berpikir, tak mungkin ia mengatakan kalau ia menggigit kuat bibir Melani, kemudian menggigit bibirnya sendiri, mencubiti dirinya sendiri agar tersadar dari pengaruh obat.
Bagaimana kalau Nurbaya berpikir macam-macam jika mengetahui Melani mencium bibirnya. Nurbaya pasti sakit hati, dia adalah wanita yang pernah diselingkuhi. Ia tak ingin Nurbaya salah paham.
“Tadi aku membeli makanan pedagang kaki 5 di tepi jalan, karena kepanasan, aku tergigit bibirku sendiri.” ucapnya berbohong.
“Dasar anak kecil!”
“Hei, apa kamu bilang? Aku anak kecil?”
“Iya, anak kecil, masa makan aja bisa menggigit bibir sendiri.” Nurbaya tertawa kecil mengejek, sudah lama ia tak mengejek Satria.
“Baiklah, akan aku buktikan seberapa kecilnya aku.” Ia memulai sesuatu yang sudah bisa di tebak Nurbaya.
Tangannya mulai menjelajahi bagian-bagian tubuh sensitif Nurbaya.
“Sayang, apa yang mau kau lakukan, kita baru saja melakukannya, apa kau tidak lelah?”
“Aku akan menunjukkan kekuatan anak kecil ini, anak kecil yang mampu membuat anak kecil.” Menjawab dengan tersenyum mesum.
Satria menciumi tubuh Nurbaya, melakukan pemanasan yang membuat Nurbaya terhanyut, pasrah dan rela, bahkan meminta adegan ini jangan berhenti sampai di sini. Mereka pun berlayar di samudra cinta nan indah, sampai mereka kelelahan dan tertidur pulas.
Zzzzzz....
__ADS_1
***