
Satria pulang ke rumah dengan wajah masam, Kepala Pelayan telah menyongsongnya bersama dengan Nurbaya. Kepala Pelayan membawakan tas, jas dan sepatunya, sedangkan Nurbaya bergelayut manja di lengannya sembari menaiki tangga menuju kamar mereka.
“Hei, kenapa wajahmu masam begitu? Apa pekerjaannya tadi sangat sulit?” tanya Nurbaya menatap Satria.
Satria hanya diam dan mengerucutkan bibirnya. Nurbaya mencubit bibirnya pelan karena gemes.
Ceklek! Pintu di buka saat mereka sampai di dalam kamar.
“Sini, aku bantuin.” Nurbaya membuka dasi dan kancing kemeja Satria.
Setelah membuka baju Satria, Nurbaya menggelayutkan tangannya di tengkuk suaminya. “Kenapa mukanya masih masam begitu? Hm?” tanyanya menatap Satria.
Satria menatap manik mata Nurbaya balik. Ia menghela nafas, “Aku bertemu orang jelek tadi.” ucapnya menggembungkan pipi. Bertingkah sok imut di depan Nurbaya.
Tentu saja Nurbaya langsung mencubit pipinya, sudah lama ia tak bisa mencubit pipi adik kecil yang merangkap jadi suami itu sekarang. “Hm, lalu, apakah sekarang masih melihat orang jelek?” tanya Nurbaya, ia mengelus pipi yang ia cubit barusan.
“Sekarang... Kalau yang di hadapanku buka baju, pasti cantik banget.” ucapnya tersenyum nakal.
Biasanya, Nurbaya jika di ledek seperti itu ia akan marah, namun kali ini berbeda, ia malah menanggapinya dengan tersenyum, lalu meletakkan tangan Satria di perutnya. “Buka sendiri saja, kalau mau!” tantangnya.
Satria mengulum senyum. “Nah, seperti ini kan terlihat tampan. Cup!” Nurbaya menciumi pipi Satria.
“Memangnya tadi gak tampan?” Ia langsung merangkul pinggang Nurbaya sampai menempel dengan tubuhnya.
“Tampan sih, tapi lebih tampanan kalau lagi tersenyum. Ya udah, sekarang mau mandi langsung, atau mau duduk dulu sebentar?”
“Mandi langsung saja deh. Oh ya, minta seseorang menyiapkan jeruk panas, ya.”
“Biar aku siapkan saja.” ucap Nurbaya.
“Uuucchh, Sayangku, memang sweet banget deh. Ya udah, jangan terlalu manis, ya. Soalnya aku takut diabetes, kebanyakan mencicipi yang manis.”
Nurbaya mengernyitkan keningnya.
“Soalnya istriku manis, aku sering mencicipi tubuhnya.” bisik Satria nakal, lalu ia terkikik masuk ke dalam kamar mandi. Nurbaya hanya bisa tersenyum kecil mendengar itu.
__ADS_1
Nurbaya membuat jeruk panas untuk Satria di dapur. “Nona, biar saya bantu.” ucap salah satu pelayan.
“Tak usah, aku tak mau jadi anak kerbau, nanti badanku bisa penuh lemak karena tak pernah bergerak.” selorohnya.
“Kok....” ucapan pelayan itu terpotong.
“Ya, karena aku gak boleh ini dan itu, masa cuma makan, tidur, nonton aja kerjaan ku. Udah kayak kerbau yang mau di gemukin untuk lebaran idul adha.” selorohnya. Pelayan itu akhirnya tersenyum kecil.
“Enggak juga kok, Non. Masih langsing dan cantik, malahan jadi lebih bagus berisi sedikit sekarang.”
“Ya, sekarang berisi sedikit, nanti bisa banyak berisi, penuh kiri kanan.”
“Mudah-mudahan, ngisinya cepat di tengah, Non,” kata pelayan itu dengan senyuman manis.
“Aamiin.”
“Ya sudah, ini sudah siap. Aku ke kamar lagi. Lanjutkan kegiatannya.” pamit Nurbaya pada para pelayan yang ada di dapur. Mereka sedang menyiapkan makanan malam untuk semua orang yang ada di rumah keluarga besar Damrah.
Sesampainya di kamar, Satria juga baru selesai mandi. Ia meletakkan jeruk panas di atas nakas. Nurbaya langsung mengambilkan pakaian untuk Satria. Sedangkan pemuda itu malah asik menciumi tengkuk Nurbaya.
“Sayang, bagaimana aku bisa mengambil pakaianmu, jika kau seperti ini.”
“Narsis.” ucap Nurbaya terkekeh.
Ia mengambil kaus dan celana pendek. “Nih, pakai baju dulu.” Satria malah tak peduli, ia malah membenamkan kepalanya di ceruk leher Nurbaya.
Nurbaya melepaskan pelukan itu, lalu membalik tubuhnya, memakaikan baju Satria yang tampak seperti anak kecil yang malas memakai pakaian. Setelah memakaikan baju, Nurbaya menarik handuk Satria untuk memakaikan celananya.
Sedikit malu, karena sesuatu di sana setengah berdiri sekarang. Satria malah tersenyum kecil. “Kamu mau?” tanyanya menggoda. Nurbaya hanya mendengus.
“Aku lagi pasang celana, jangan macam-macam deh!” Satria malah nyengir.
Setelah Nurbaya memasangkan celananya, Ia langsung mengecup bibir Nurbaya penuh kasih. “Bawa minumannya ke balkon, Sayang.” ucapnya, lalu ia berjalan terlebih dahulu.
Nurbaya membawa jeruk panas, meletakkan di atas meja kaca bundar berukuran kecil, mereka duduk di atas sofa di depan meja bundar itu. “Sebentar lagi aku akan ujian naik kelas.”
__ADS_1
Nurbaya hanya menjawab dengan mengangguk saja. “Tak terasa, sebentar lagi aku juga akan tamat tuh.” sambungnya lagi, Nurbaya masih setia mendengar.
“Apa kamu sudah datang tamu bulan ini?”
“Hah?!” Nurbaya malah terbengong. “Maksudnya apa?” Wajah Nurbaya merah, malu. Menurutnya, pertanyaan seperti itu belum seharusnya Satria bertanya, baginya Satria terlalu muda untuk hal seperti itu.
Tetapi satu hal yang ia juga lupa, Satria itu pintar. Lalu, pemuda itu sekarang sangat pantas menanyakan hal itu, karena dia adalah suaminya.
“Tentu saja menstr*asi, atau haid? Ataukah ada bahasa lainnya?”
“Mungkin akan datang beberapa hari lagi, biasanya datang tanggal 25.”
“Hm, jangan-jangan, di sini sudah ada dedek bayi kita.” Satria langsung mengelus perut datar Nurbaya.
“Hei, apakah kau sudah ada di dalam? Tak lama lagi kita akan berjumpa.” ucapnya masih mengelus perut Nurbaya.
Nurbaya merasakan getaran bahagia di dadanya. Rasa haru membuncah, apakah kini memang sudah ada bayi dalam perutnya. Ia pun juga berdebar tak kalah hebat.
Satria menggenggam jemari Nurbaya. Lalu, meminum jeruk panasnya. “Hm, segar, enak. Istriku ini memang jago, selalu saja tau seleraku.” Ia mengecup kening Nurbaya dengan penuh sayang.
“Sayang, apa kau sudah memikirkan kemana honeymoon kita?” tanya Satria.
“Aku, 'kan sudah bilang, semuanya terserah kamu, asal berdua denganmu.” Nurbaya langsung saja mengecup bibir Satria.
Satria tersenyum. “Aku ingin mengajakmu ke daerah Indonesia yang belum pernah kita kunjungi. Apa kau mau? Ataukah kamu ingin ke Luar Negri?”
“Aku ingin semuanya.” sahut Nurbaya tertawa kecil.
“Kalau begitu, bisa lama dong honeymoon kita, bisa habisin waktu berbulan-bulan. Nanti siapa yang bekerja untuk cari duit?”
“Jadi cuci piring di rumah makan aja, setelah makan.” seloroh Nurbaya.
Satria mengetuk kening Nurbaya dengan telunjuknya. “Istriku yang cuci piring, akunya yang makan, 'kan?”
“Enak aja!”
__ADS_1
Mereka pun menghabiskan waktu bersenda gurau di sana, hingga senja berwarna jingga menjadi saksi mereka berciuman mesra.
***