
2 Minggu pun berlalu.
Satria telah menyelesaikan ujiannya dan hari ini adalah penerimaan rapor kenaikan kelas.
“Hai, Satria.” sapa Anggun.
Kening Satria mengernyit, mengabaikan gadis cantik itu. “Hai, Anggun.” balas Akbar.
“Kalian weekend nanti kemana?” tanyanya sembari melirik Satria.
“Kami atau Satria?” tanya Jimi to the point.
“Satria dan kalian.” jawabnya tersenyum.
“Kami berdua di rumah aja, gak tau tuh dia.” balas Jimi.
“Lu mau kemana weekend?” Akbar menepuk pelan pundak Satria.
“Emang dia Istri Lo? Atau dia Nyokap Lo?” sahut Satria sembari mengetik keyboard handphone nya cuek.
“Begini, gue ada acara wekeend minggu ini, apa kalian mau datang?” kata Anggun.
“Gak!” sahut Satria cepat tanpa memandangi gadis cantik itu.
“Mereka juga enggak!” sambungnya lagi.
Akbar ingin sekali protes, bagaimana ia bisa melewatkan acara yang di undang oleh bidadari cantik ini. Tetapi, ia juga tidak bisa berkutik di depan Satria.
Anggun dengan kesal pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa?” tanya Akbar protes.
__ADS_1
“Coba saja kalian datang.” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Berikan kami alasannya kenapa?”
“Aku pulang.” Mengibaskan tangannya, lalu pergi.
“Sial*n!!! Ku gorok juga leher dia nih!” gerutu Akbar kesal.
“Sudah, kau kan tau dia memang sombong dan menyebalkan seperti itu sejak dulu.” Jimi menepuk pundak Akbar.
“Haaaaahhhh!” Akbar menghela nafas kasar. “Dan dia, tetap sahabat kita.”
Jimi dan Akbar saling pandang, lalu terkekeh.
**
Satria langsung pulang dengan Pak Hamdan tanpa menghiraukan kedua temannya itu. Sudah biasa seperti itu.
“Hai, Kakak ku Sayang.” sapanya mesra.
“Aku mau minta sesuatu.” ucapnya pelan berbisik di telinga Nurbaya sembari menggoyangkan piala yang ia pegang ke hadapan gadis itu.
Pertanda ia mendapatkan nilai terbaik.
Nurbaya melepaskan pelukan itu, membalik badannya. “Apa?”
“Nanti malam.” Satria mengedipkan matanya, lalu pergi meninggalkan Nurbaya.
**
Malam hari pun datang.
__ADS_1
Satria, Aira dan Arnel telah berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam bersama.
“Bagaimana dengan perusahaan yang Kakek serahkan padamu?”
“Aman terkendali, kalau aku tak bisa, kan ada Kak Dewa.” ucap Satria santai sembari memainkan remote televisi.
Bla...Bla..bla... Mereka mengobrol bersama di sana, walau jawaban dari Satria lebih sering terdengar cuek dan pendek, Sang Kakek dan Nenek tetap saja mengajaknya bicara. Karena ini adalah waktu luang mereka bisa berkumpul bersama.
“Aku ngantuk!” Satria menutup obrolan. Lalu memencet tombol.
Bi Mona pun datang menghampiri mereka. “Ada yang bisa saya bantu Tuan dan Nyonya?” tanya Bi Mona sedikit merundukan badan.
“Suruh Kakak ke kamarku ya Bi. Tanganku terasa kram habis main basket di sekolah. Suruh dia pijat tanganku. Aku tunggu di kamar.” ucap Satria berlalu pergi sembari memijit ringan tangannya.
Benarkah tangan pemuda itu kram? Tidak, pemuda itu bohong! Sudah tau kan jawabannya kenapa? Ya, agar Nurbaya mendatanginya.
Satria duduk santai di sofa, menanti kedatangan Nurbaya.
Tok tok tok! Suara ketukan pintu.
Ceklek! Pintu terbuka.
Nurbaya masuk dengan wajah merengut. Berjalan mendekat ke arah Satria. “Sini, mana tangan yang sakit itu!” ucapnya ketus.
“Mendekatlah sedikit lagi.” ucap Satria.
Namun, Nurbaya bergeming. Melihat Nurbaya mematung seperti itu, Satria menggeser duduknya, memegang pinggang Nurbaya, sontak mata gadis itu membeliak.
“Kamu mau ngapain?” tanyanya waspada.
“Seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya Kakak.” ucapnya, lalu mengelus bibir Nurbaya.
__ADS_1
Seeer! Darah Nurbaya berdesir.