Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Dia Sedang Hamil Anakku


__ADS_3

Satria memanggil Jaka dan Baron.


Kedua orang itupun segera datang, mereka terkejut melihat CCTV. Sepertinya, mereka kecolongan karena tampilan Melani yang menyamar, memakai topi, masker dengan baju dress ibu hamil. Yang lainnya masih seperti biasa, wanita itu juga membawa kamera seperti seorang wartawan mengintai.


Satria meminta Jaka dan Baron menangkap Melani secara baik agar tak berbahaya pada kehamilannya.


Saat Melani duduk, Ia melepas topinya, minum. Tiba-tiba, seseorang menutup mulutnya dengan bius ringan. Mengikatnya di sebuah ruangan kosong.


Erian hari ini merasa tak nyaman, gelisah. Ia kembali ke rumah, ia tak mendapati Melani, ia memeriksa semua catatan Melani dan memeriksa GPRS Handphone Melani. Ia terkejut posisi Melani cukup jauh dari kontrakan mereka.


Ia menuju dimana GPRS tersebut.


Erian tercengang, di sana terlihat sebuah rumah elit. “Apa dia membuat masalah dengan seseorang? Tak mungkin seseorang tertarik atau menganiaya seorang wanita hamil, 'kan?” Erian bergumam. Ia mulai khawatir jika rumah itu seorang mafia penjual organ tubuh manusia, atau bayi ilegal.


Perlahan ia amati, hingga ia melihat Baron membawa makanan.


“Dia? Bukannya dia bawahan Satria?”

__ADS_1


Akhirnya, Erian memberanikan diri. Menemui satpam yang menjaga gerbang rumah itu. “I want to meet the owner of the house. There's something important I want to talk to him.”


“Ok, wait, please.”


Erian menunggu, sampai Satpam menyuruhnya masuk ke dalam. Ia menggiring Erian ke suatu tempat, di sana ada kolam panjang yang berada di tengah ruangan, Satria duduk di atas sofa dengan menaikan satu kakinya ke atas pahanya.


Ada Jaka dan Baron di samping kiri dan kanan serta beberapa pria berjas dengan ciri khas kulit bangsa Inggris.


Erian mendekat, ia langsung duduk bersimpuh, memohon. “Apakah Melani di sini? Saya mohon jangan sakiti dia. Dia sedang hamil besar sekarang, beberapa minggu lagi akan melahirkan. Aku berjanji akan membawanya pergi.”


“Apa kau sedang menuduhku menyembunyikannya?” tanya Satria angkuh.


“Kenapa kau membelanya?”


“Maaf, bukan maksudku membela, dia sedang dalam keadaan hamil, aku takut dia melakukan sesuatu sehingga membahayakan kehamilannya.”


Satria masih diam, Erian melanjutkan ucapannya “Dia sedang hamil anakku.”

__ADS_1


“Hanya karena dia mengandung anakmu?” Menaikkan alisnya.


“Karena aku mencintainya.” lirih Erian. Ia masih bersimpuh memohon. Pria yang jauh lebih besar dari Satria, pria yang dulu terlihat angkuh dan sombong di depannya, kini berlutut memohon.


“Baiklak. Aku tak suka dia berkeliaran. Jika aku masih melihatnya, aku tak bisa toleransi lagi.” ucap Satria mengancam.


“Terimakasih.”


Satria langsung berdiri, pergi meninggalkan Erian yang masih bersimpuh. Tak lama beberapa orang membawa Melani, memberikannya kepada Erian.


“Kau sudah dengar, 'kan? Tuan Muda tidak bisa lagi memaafkan jika dia masih mengusik kehidupan Tuan Muda.” Baron menatap tajam Erian.


Kemudian mengalihkan pandangannya pada Melani tak kalah tajam juga, “Kau ingat, jangan buat masalah lagi!”


“Iya, makasih.” jawab Erian. Ia menggenggam erat tangan Melani. “Permisi.” Mengangguk sopan.


“Ayo Sayang, kita pergi.” Mengelus pipi Melani lembut. Membawa wanita itu pergi.

__ADS_1


Satria menatap punggung Melani dan Erian dari kaca jendelanya. “Untunglah, kau sedang tertidur Sayang. Aku khawatir, jika kamu melihat ini semua.” Mengelus rambut Nurbaya yang sedang tertidur lelap.


***


__ADS_2