Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Sombong


__ADS_3

Satria mencengkram kerah leher belakang mereka berdua. “Apa orangtua kau jatuh miskin sekarang? Kakekmu kalah tender proyek? Atau memang kalian tipe laki-laki lemah yang bisa di sogok dengan bayaran?”


“Eh!!! Aku....” Menghentikan ucapan. Yang berambut ikal awalnya hendak memaki Satria.


“Kau mau katakan, kau bukan seperti itu? Lalu kenapa menerima kue ini, bahkan memakannya di depan tong sampah, menjijikkan.” ucap Satria, lalu melepaskan kedua kerah baju mereka.


“Kue ini sangat menggiurkan, apalagi yang memberikan bidadari cantik. Kau tidak tertarik dengannya?” tanya pemuda berambut ikal.


“Kalau saja aku menjadi dirimu, sudah ku pacari semua gadis di sekolah ini. Lihat, mereka menggilaimu.” celoteh pemuda berambut ikal lagi.


“Dia seperti nenek tua.” sahut Satria.


“Apa?!!” seru kedua pemuda itu bersamaan.


Anggun adalah gadis yang paling tercantik di ELV SCHOOL saat ini. Ia bahkan pernah menjadi ratu MOS. Rambutnya panjang, lurus dan tebal, kulitnya seputih susu, mulus tak bernoda, wajahnya cantik dengan bola mata bulat, alis mata tebal, pipi bak sauh dilayang, bibir mungil merah berisi. Tinggi semampai, badan langsing bak body gitar spanyol.


“Lalu seperti apa wanita yang cantik?” tanya mereka.


“Seperti Kakak.”


“Kakak?”


'Apa wanita yang menciumnya kemarin?' Dua pemuda itu berpikir.


'Cantik darimananya? kulit sawo matang begitu, pendek, dan biasa saja.' Kedua pemuda itu masih kompak dengan pikiran mereka masing-masing.


“Iya, cantik bagiku. Dan aku, tidak butuh jawaban dari kalian, apalagi penilaian kalian. Hentikan pikiran buruk kalian sekarang.” tegas Satria.


“Eh?” Mereka berdua tersenyum canggung. Satria seperti dukun yang bisa menerawang, tau saja apa yang mereka pikirkan.


“Duduk di tempat kalian!” Mengibaskan tangannya. Lalu memejamkan matanya kembali.


Dua pemuda itu hanya bisa duduk patuh.


Mereka adalah anak-anak dari orang terpandang, orangtuanya menjalin kerjasama dengan Arnel, di sanalah mereka di pertemukan.


Pemuda berwajah tirus yang menjadi ketua kelas ini bernama Jimi. Dia anak blasteran Korea-Indonesia. Jika berbicara dia jujur, lebih sering terdengar pedas. Orangtuanya sibuk bekerja sehingga ia tidak mendapatkan banyak perhatian.


Sedangkan pemuda berambut ikal itu bernama Akbar, dia anak broken home, orangtuanya bercerai, ia tinggal bersama dengan kakeknya. Walaupun ia terlihat paling riang, namun ia yang paling kesepian dan sangat menyedihkan.


Jimi dan Akbar pernah di permainkan beberapa gadis karena mereka polos dan haus perhatian. Gadis-gadis yang mendekati mereka hanya memoroti mereka, bahkan numpang cari nama agar terkenal saja.


Mereka di pertemukan saat MOS, dimana Jimy sama-sama pendiam seperti Satria. Sedangkan Akbar terlihat lebih mudah di dekati. Namun, kenyataannya mereka bertiga sama-sama sulit di dekati. Saat mereka bertemu dan berkenalan mereka tak peduli satu sama lain.


Hingga suatu hari, Arnel membawa Satria ke acara yang di selenggarakan oleh orangtuanya Jimy, di sana Akbar dan Kakeknya di undang. Di sanalah pertemanan mereka di mulai. Belum lama sih, baru satu tahun.


Walaupun satu tahun, kedua pemuda itu sudah memahami sedikit banyaknya karakter Satria.


Ujian pun selesai. Satria langsung pulang, mengabaikan dua pemuda yang sejak tadi mengekori mereka.

__ADS_1


[Ku doakan kau di telantarkan Kakakmu itu] Satu pesan lolos di ketik oleh Jimi untuknya.


[Kalau dia menelantarkan ku, Aku akan mengekorinya sampai ia tak bisa mengabaikan ku] balas Satria.


“Sial*n bocah sombong ini!” gerutu Jimi melihat pesan di handphonenya.


“Kau kan tau kalau dia sombong,” Akbar terkekeh. Jimi mendengus. “Untuk apa kita pedulikan dia. Ayo pergi!” ajak Akbar.


**


Satria langsung pulang, menemui Nurbaya yang sedang membantu memberi makan ikan di kolam. “Siang, Kak.” sapa Satria.


Nurbaya mengernyit. Lalu menjewer telinga Satria. “Aduh, sakit Kak!" rengeknya.


“Pulang sekolah itu langsung ganti baju, bukan keluyuran dulu. Emang di kira, nyuci baju gak capek!”


“Enggak. Kan ada yang nyuciin.”


“Kau ini bandel ya! Cepat ganti baju sana!” Nurbaya menepuk pantat Satria.


“Kakak!” seru Satria.


“Apa?! Ganti gak?” ucap Nurbaya berkacak pinggang, lalu mendorong Satria ke kolam ikan.


Byuurr!!! Bunyi Satria terjatuh di dalam kolam. Nurbaya terkekeh.


“Kakak!”


“Awas kau, Nurbaya!” teriak Satria lantang.


**


Malam hari.


Satria menyelinap masuk ke dalam kamar Nurbaya, sewaktu gadis itu di minta membeli bakso bakar olehnya.


Menggantung mukena Nurbaya di dekat lemari, mengikat ujung mukena itu dengan tali yang sedikit panjang, kemudian di ikat longgar di tepi gorden. Setelahnya pemuda itu keluar.


Tak lama, Nurbaya telah membawa sebungkus bakso bakar. “Nih!” ketusnya menyodorkan bakso pada Satria.


“Makasih Kakak.” ucapnya tersenyum.


Nurbaya mendengus, lalu masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Satria berjalan berinjit mengikuti Nurbaya. Membalikkan Breaker listrik yang berada di luar kamar Nurbaya.


Sesaat terdengar sunyi, lalu...


“Aaaaaaaaa!!!” teriakan Nurbaya melengking.


“Aaaaa!!!” teriakannya sekali lagi.

__ADS_1


Prang! Suara benda jatuh.


“Huhuhuhu...” Suara tangisan terdengar.


“Kakak?!” Satria cemas. Ia bergegas menghidupkan kembali breaker listrik, lalu bergegas masuk ke dalam kamar.


Ia masuk ke dalam kamar.


Nurbaya terduduk di lantai, kedua tangannya bertopang di lutut, wajahnya ia benamkan di pahanya.


“Kak,” panggil Satria pelan.


Wajahnya yang usil tadi berubah jadi wajah cemas. “Kakak.” panggilnya sekali lagi sembari menepuk pundak Nurbaya.


Nurbaya mendongakkan kepalanya. “Huwaa!!!” Ia membuat suaranya bergetar dan berat.


“Aaaa!!!” Satria terlonjak kaget. Wajah Nurbaya sungguh mengejutkan dengan baluran merah di mata sampai pipinya.


“Hahahahaha.” Nurbaya tertawa keras.


“Apa yang kau lakukan Nurbaya?” Suara Bi Mona berlari tergopoh-gopoh. Merasa kawatir mendengar suara teriakan sejak tadi.


“Bi, lihat Kakak.” Mengadu, menunjuk wajah Nurbaya.


“Hei, siapa yang duluan mulai? Kau pikir aku tak tau? Lihat, kau menggantung mukenaku di lemari dengan tali panjang.”


“Dan lihat ini? Botol parfum mahalku terjatuh gara-gara kamu. Huhuhuhu.”


“Jadi, Kakak menangis karena parfum ini?”


“Tentu saja, parfum ini mahal. Aku bahkan salah pegang saat mengambil handphone, malah ke ambil eyeshadow. Jadi ku kerjai balik saja kau, dasar bocah nakal. Semua ini gara-gara kau!” Mencubit kedua pipi Satria.


Lalu membaluri wajah tampan itu dengan eyeshadow. “Rasakan bocah nakal!”


“Nurbaya hentikan!” seru Bi Mona melerai.


Namun kedua manusia itu tak bisa di lerai, bahkan sekarang mereka saling memukul dengan bantal.


Bi Mona menghembus nafasnya dengan kasar.


“Terserah kalian saja!”


Wanita paruh baya itu akhirnya memilih untuk pergi, meninggalkan dua manusia yang saling berkelahi itu dengan Menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ada apa, Bi?” tanya Aira yang hampir sampai di kamar Nurbaya, namun terhenti karena melihat Bi Mona.


“Seperti biasa Nyonya, Tuan Muda sama putriku main pukul-pukulan bantal dikamar Nurbaya. Sudah ku lerai tapi tak bisa.” jelasnya.


“Oh,” Aira tersenyum. “Biarkan saja kalau begitu, Bi.” ucap Aira.

__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan menjauh dari kamar Nurbaya, meninggalkan dua manusia yang saling bertengkar itu.


__ADS_2