Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
5


__ADS_3

Setelah melakukan pelepasan surga dunia, Nurbaya memeluk Satria erat, tak ingin jauh dari suami kecil yang telah memporak-porandakan hatinya itu.


“Kenapa tak mengabari aku saat di Belanda?” bertanya, menusuk-nusuk dada Satria pelan dengan telunjuknya.


“Ada kok, aku suruh Sekretaris Dewa mengabarimu.” Membelai rambut Nurbaya yang berada dalam pelukannya.


“Biasanya sesibuk apapun kamu, selalu menghubungi aku, memangnya apa sih kesibukannya? Sampai-sampai cuma kabar dari Sekretaris Dewa, itupun pada Kepala Pelayan!” Mencubit chochochip Satria yang datar itu.


“Auwch! Sakit, Sayang.” pekik Satria.


“Biarin!”


“Sebenarnya....” Satria menghentikan ucapannya, lalu menghela nafas. “Aku membuka perusahaan kecil di Belanda, terjadi pembakaran di gudang, inti sarinya sih bukan masalah yang terbakar itu, aku hanya memastikan kronologinya saja. Tapi sekarang sudah aman kok.” jelasnya sembari membelai kepala Nurbaya.


“Kebakaran? Rugi dong, berapa kerugiannya?”


“Gak apa-apa, bukan masalah ruginya, ini masalah kepercayaan, aku datang ke sana. Sekarang sudah ganti staf-stafnya kok, atau orang-orang yang bekerja di sana.” Satria menjelaskan pada Nurbaya dengan bahasa awam, agar Istrinya itu paham.


Nurbaya bergumam Oh, “lalu kerugiannya berapa?”


“Cuma, 5.”


“5 juta?” tanyanya dengan mengangkat 5 jarinya. Satria tersenyum kecil.


“Hm, maksudku, 50 juta?” tanya Nurbaya lagi. Satria malah menggaruk kepalanya.


“500 juta?” bertanya dengan Memelototkan matanya, kepalanya terangkat menatap Satria. Pemuda itu tersenyum kikuk.

__ADS_1


“5 Milyar?” tanya Nurbaya lagi dengan suara lebih tinggi.


“Ya, ampun. Kau bilang tak rugi? 5 milyar itu besar loh!” seru Nurbaya.


Satria menarik dagu Nurbaya, lalu mengecup kening Istrinya. “Tenanglah Sayang. Aku masih punya cukup banyak uang untuk membahagiakanmu, 5 milyar belum membuat aku jatuh miskin. Ingat, suamimu ini kaya raya tujuh turunan.” ucapnya terkikik.


“Seharusnya kau cerita padaku, jangan menyimpan semuanya sendiri saja,” katanya cemberut.


“Iya, iya,” Ia memeluk Nurbaya lalu memainkan rambut Nurbaya.


Sesaat Satria termenung, beberapa waktu yang lalu, sebelum ia pergi ke Belanda, ia mengadakan pertemuan dengan seorang klien yang mempunyai akal bulus. Arnel sudah mengingatkan pada Sekretaris Dewa dan Satria, kalau pria paruh baya itu licik.


Pria paruh baya itu tahu, kalau Satria masih berumur 17 tahun, ia masih saja memaksa bertemu di klub, memesan kamar VVIP. Menuangkan alkohol tinggi. Tentu saja Baron dan Jaka sebagai pengawal pribadi setia berdiri di samping Satria dan Dewa.


“Maaf, Pak. Seperti yang bapak tau, Tuan Muda kami masih kecil, belum bisa meminum alkohol, tentu saja alkohol tidak baik untuk kesehatan dan dilarang oleh agama, Tuan Muda kami.” jelas Sekretaris Dewa dengan sopan.


Baron sebagai pengawal pribadi yang kuat minum alkohol langsung berdiri dan berucap, “Biarkan saya saja yang menggantikan minum untuk Tuan Muda.”


Bagi Baron, Sekretaris Dewa jangan sampai mabuk, biarlah dia yang sedikit mabuk, namun masih ada Jaka dan pengawal lainnya yang berdiri di luar.


“Bagaimana kalau aku panggilkan teman penghibur,” Pria paruh baya itu langsung memencet tombol, datanglah 6 orang wanita masuk dengan pakaian mini.


Mereka masing-masing bergelayut manja di lengan para pengawal, Sekretaris Dewa dan pria paruh baya itu. Sedangkan di samping Satria, dua orang gadis hanya bisa berdiri sambil mengelus lengan Satria yang duduk tenang di sofa king sendirian.


Satria melirik tajam tangan yang menyentuh lengannya, hal yang paling aneh bagi Satria adalah wanita di samping kirinya, wanita yang bernama Melani. Wanita pengkhianat, yang tega berselingkuh dengan kekasih sahabatnya.


Sekarang, wanita itu dengan tanpa malu menggodanya, Satria mengibaskan kedua tangan wanita yang mengelus tangannya. “Sekarang jangan bertele-tele, kau mau menyepakati kerja sama kita atau tidak?!” Satria berdiri, merapikan jas nya.

__ADS_1


Melihat Satria berdiri, Sekretaris Dewa juga berdiri, dengan spontan bapak paruh baya itu langsung merangkul Satria. “Jangan terburu-buru, Nak.” ucapnya masih santai.


Satria tersenyum, bapak paruh baya itu tersenyum lebar juga. Sedangkan Sekretaris Dewa melihat senyuman itu langsung bergidik ngeri.


Satria berjalan hendak keluar. “Nak, tunggu dulu, mari bersenang-senang dulu.” ucapnya masih membujuk Satria.


Satria langsung mencekik leher pria paruh baya itu. “Aku tak suka orang yang bertele-tele di waktuku yang terbatas ini.” Ia banting tubuh pria itu ke lantai.


“Sombong sekali kau!” teriak pria itu. Satria melirik sekilas Baron dan Jaka, lalu keluar dari ruangan itu.


Apa yang terjadi dengan bapak paruh baya dan para perempuan yang di dalam itu? Entahlah, hanya Baron dan Jaka yang tau. Menurut Sekretaris Dewa, setidaknya pria paruh baya itu sudah mendapatkan bogem mentah dari pengawal pribadinya. Bagi Satria, ia tak butuh kerja sama dengan orang-orang yang tidak bisa menghargai waktu dan privasi seseorang. Apalagi dengan menyodorkan dirinya dengan gadis-gadis yang aneh seperti itu.


Masalah terus datang silih berganti semenjak kejadiannya dengan pria paruh baya itu. Belum lagi, ada masalah di Belanda.


Satria menghela nafasnya kasar. “Ada apa? Kok, menghela nafas begitu?


“Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan kemana kita honeymoon. Apa kamu ingin ke sesuatu tempat?”


“Loh, bukannya waktu itu kita sudah honeymoon, ya?”


“Itukan hadiah dari Kakek. Aku ingin honeymoon ala kita berdua, gak apa-apa kali sering-sering honeymoon.”


“Aku sih terserah kemana kamu ajak aja, asalkan bersamamu.”


“Wah, tumben istriku ini manis bicaranya. Membuat aku semakin jatuh cinta saja.” Ia langsung mengecup bibir Nurbaya.


***

__ADS_1


Makasih sudah membaca cerita saya yang amatir, berikan dukungan ya, agar saya tetap semangat, tinggalkan like, komentar positif dan votenya.


__ADS_2