
Beberapa kali Nurbaya melakukan tes kehamilan, namun tak kunjung positif. Satria dan Nurbaya pun melakukan program kehamilan pada Dokter OBGYN, teman satu kuliahan dengan Dokter Haikal yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengannya.
Setelah lulus SMA, Satria diminta oleh Aira dan Arnel untuk menunda satu tahun kuliahnya dulu. Mereka berharap, Nurbaya dan Satria fokus pada program kehamilan, mereka sudah sangat ingin melihat bayi-bayi lucu di rumah ini.
Mengingat umur Nurbaya juga tidak muda lagi, ia membujuk Satria.
Mereka mengikuti semua proses program kehamilan, mulai dari USH, HSG, pengecekan tuba phalofi, memeriksa sel t*lur dan sperm*. Semuanya baik-baik saja. Mereka selalu mengkonsumsi makanan dan sayuran serta buah-buahan yang di anjurkan dokter.
Obat dan vitamin selalu mereka minum.
Satu tahun telah berlalu, masih saja negatif setiap bulannya. Usulan demi usulan mulai Satria dan Nurbaya lakukan, mulai dari minum obat-obatan tradisional, pijit tradisional, buah zuriat, kelapa muda bakar dan lainnya.
Di suatu malam. Satria duduk termenung di balkon kamar, Nurbaya hanya berdiri jauh di belakang, tak ingin mengganggu Satria.
Pikiran Satria terbang membelah nirwana. Ia masih ingat saat kepergian Tantenya, Humaira. Wanita itu memilih pergi bersenang-senang dengan suaminya, berharap akan membawa kehamilan atau anak saat pulang nanti. Namun, hingga sekarang tak ada kabar bahagia itu.
Kini, semuanya seolah terjadi padanya. Ia bukan lagi menjadi penonton seperti hari itu.
Tadi siang, Arnel pergi ke kantor cabang Damrah Groub yang ia pegang. Kakek itu dengan wibawanya meminta Satria segera melanjutkan kuliah di luar negri.
“Lanjutkanlah kuliahmu, kemudian bersenang-senang lah bersama Nurbaya, habiskan waktu kalian berdua dengan bahagia. Jangan khawatir, Kakek masih kuat menjalankan semua perusahaan ini. Segeralah belajar, lalu gantikan Kakek menjadi penerus, berikan Kakek banyak cicit. ” Lelaki itu tersenyum, menepuk pundak Satria.
Satria paham, itu adalah senyum kepedihan. Dimana, mereka sangat menginginkan keturunan. Aira dan Arnel memiliki dua orang anak, Agung dan Humaira.
Agung hanya memiliki satu putra, yaitu Satria. Sedangkan Humaira hingga kini belum memiliki keturunan. Kakek dan Nenek itu pasti kesepian.
Satria terus termenung, begitu pula Nurbaya masih setia bersandar di belakangnya tanpa mengganggu.
**
Angin subuh menyusup ke dalam tulang, dingin. Satria membuka matanya. Ia tertidur di balkon kamar, lalu ia berdiri, memutar tubuhnya, hendak memeluk Nurbaya di ranjang.
Matanya terbelalak. Nurbaya tertidur bersandar di dinding, memeluk lutut. Ia bergegas menggendong tubuh itu, meletakkan di ranjang. Ia lihat mata yang tertutup itu terlihat membengkak. Mungkinkah istrinya itu menangis tanpa sepengetahuannya?
__ADS_1
Ia mendekap Nurbaya dalam selimut bersamanya di atas ranjang. Mengecup kening Nurbaya. “Maaf.” ucapnya lirih.
**
Di sebuah apartemen.
Melani selalu minum-minum di dalam apartemennya, jarang keluar. Jika keluar hanya membeli minuman dan beberapa cemilan. Apartemennya sudah seperti kapal pecah.
Erian masih saja setia memperhatikannya, jika wanita itu sudah tertidur, ia akan membersihkan kamar itu, meletakkan makanan, mengganti pakaiannya yang kotor dengan yang bersih, menitipkan pakaian kotor itu ke loundry.
Erian sudah sangat paham dan mengetahui semua fakta tentang Melani. Ia berjanji tidak akan meninggalkan dan akan selalu menjaga Melani, walaupun wanita itu selalu menolak kehadirannya.
Erian meminta maaf kepada ayahnya, ia kembali menjalankan perusahaan ayahnya dengan baik, namun ia tetap menetap di apartemen agar bisa memperhatikan Melani. Awalnya ayahnya tidak setuju, namun ia tak punya pilihan lain, akhirnya mengizinkan keinginan putranya itu.
Malam itu, Erian sangat kelelahan, begitu banyak tugas di kantor, ia pun pulang larut malam, ia masih sempat mengintip Melani. Masuk kedalam, merapikan apartemen itu.
Setelah membersihkan semuanya, Ia duduk bersandar di sofa, hingga tertidur di sana.
Melani merasa tersentuh, ia duduk menatap wajah lelah Erian yang tertidur. “Kenapa kau masih berada di sisiku? Apa kau bodoh?” Ia bertanya pada orang tidur yang tak ada jawaban itu.
Cukup lama ia menatap wajah Erian. Plak! Ia kemudian memukul lengan Erian kuat, membuat Erian terkesiap dan terbangun dari tidur lelapnya.
“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya melotot dan berkacak pinggang.
“Me.. Melani.” ucapnya terbata, ia cepat memulihkan kesadarannya. 'Ah, sial! Kenapa aku bisa tertidur di sini? Aku jadi ketahuan deh!' gerutu Erian.
“I...Itu... A... Anu...” Menggaruk kepalanya, memikirkan jawaban yang tepat.
“Makasih sudah membereskan apartemen ku akhir-akhir ini, tak perlu repot-repot. Urus saja urusanmu, sepertinya kau akan telat sekarang, cepatlah pergi dari sini.” potong Melani, kemudian ia berdiri, menghidupkan televisi.
“Baiklah, aku akan bersiap pergi ke kantor. Apa kamu inginkan sesuatu? Nanti malam pulang bekerja aku akan membelikannya untukmu.”
“Tak usah, tak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri.”
__ADS_1
Erian pun hanya bisa tersenyum kecut, di abaikan sudah biasa. Ia memilih pergi dari sana dan bersiap kembali ke kantor.
Malam hari, Ia masih tak putus asa. Ia membawakan seblak ceker pedas untuk Melani serta beberapa cemilan dan minuman kaleng.
Masuk diam-diam, ia masih berpikir kalau Melani sekarang seperti biasa, mabuk atau tertidur. Namun, Melani duduk di sofa dengan wajah segar setelah mandi.
“Me... Melani.” sapanya terbata. “Aku pikir kamu sudah tidur. Aku membeli seblak,”
Kuah seblak itu sengaja di pisahkan, agar bisa dipanaskan esok pagi. Itulah alasan Erian diam-diam masuk dan meletakkannya.
Melani mengambil 2 mangkok beserta sendok. “Marilah, makan bersama.” ucapnya.
Setelah makan, mereka sedikit berbincang lebih akrab dari sebelumnya. Entah disapa angin malam yang mana, sehingga Melani dan Erian menyatukan bibir mereka, gairah yang sama-sama membuncah akhirnya membawa mereka melakukan pelepasan panjang yang melelahkan di ranjang.
Perasaan yang sangat aneh kali ini dirasakan Melani, ia melakukannya dengan perasaan yang tak pernah ia miliki selama ini pada Erian.
Setelah kelelahan dari pertempuran mereka tadi, Erian tertelentang disamping tubuh Melani dengan senyuman. Hatinya yang merindu menjadi terobati.
“Apa menurutmu aku sangat buruk?” Sebuah pertanyaan melayang pada Erian. Ia menatap ke arah Melani yang juga menatapnya.
“Aku wanita pengkhianat bercinta dengan lelaki penyelingkuh sepertimu? Kita berdua sama-sama sampah.” sambungnya lagi.
Erian terdiam lama, kemudian menghela nafas panjang. “Melani, kamu benar, aku adalah pria buruk, aku berselingkuh. Aku tak bisa menipu perasaanku, aku benar-benar lebih menyukaimu dari pada Nurbaya. Aku mencintaimu sepenuh hatiku dari dulu hingga kini.”
“Kita tidak lagi melakukan pengkhianatan, dia sudah bahagia dengan pilihannya sekarang, aku mohon padamu, lepaskanlah Satria dan Nurbaya. Biarkan mereka bahagia. Bukankah kau sangat mencintai Nurbaya?” Mengelus rambut Melani.
“Nurbaya bahagia dan mencintai Satria, mereka telah menikah, Mel.”
Melani terkesiap, terduduk. “Menikah? Menikah dengan pria bocah itu?” Melotot tak percaya.
“Apa dia terpaksa?” Kemudian ia tertunduk dengan wajah lesu.
“Bukan. Dia menyukai Satria, dia mencintainya, dia bahagia bersama pemuda itu. Jadi, mari kita hidup bersama, ya. Lupakan mereka berdua.” Menggenggam erat jemari Melani.
__ADS_1