
‘Mari kita perbaiki semuanya, walau semuanya kita mulai dari sebuah kesalahan.’ ucapan Erian kala itu masih teringat oleh Melani. Kini, pria itu telah tiada, apa yang harus ia lakukan? Dulu, ia juga sendirian, tetapi sekarang ia jauh lebih kesepian.
Inikah yang disebut cinta? Cinta yang sesungguhnya?
Pikiran Melani bercabang sekarang, walau ia menatap tajam lelaki tua di depannya, ia masih saja mengingat Erian. Berbeda dengan Satria sejak tadi menatap penuh selidik.
“Istrimu termasuk wanita yang beruntung,” ucap Kakek itu menatap Satria sembari mengulas senyuman.
“Benar, 'kan Kaloqueen?”
Melani menghentikan pikirannya tentang Erian, setelah mendengar ucapan Kakek itu. Menatap Kakek itu tajam. “Kenapa kau menatapku begitu? Oh, aku salah. Maksudnya, mantan Kaloqueen.” Tersenyum.
Satria menatap Melani dan Kakek itu secara bergantian. “Ada apa ini?” gumam Satria.
“Kau siapa, Tua Bangka?” tanya Melani tak sopan.
“Wah, kau memang wanita muda yang membara.” sahut Kakek itu santai, masih menghisap cerutunya.
“Apa yang kau inginkan?” Melani menatapnya tajam.
“Tak ada. Kalian terlalu berapi-api, aku datang ke sini hanya untuk menemui Adikku, Aira.”
“Kau cukup berani ya, membuka Kanai-kanai kembali?” lanjutnya, ia lemparkan pandangannya ke arah Satria.
Satria membulatkan matanya, ia membuka Kanai-kanai dalam 5 tahun ini bahkan sembunyi-sembunyi, kenapa Kakek tua di depannya ini tau? Sedangkan Kakek dan Neneknya saja tidak tahu.
“Kau siapa? Apa masalahnya denganmu jika aku membuka itu.” sahutnya tak suka. “Beginikah si Posesif itu mengajarkanmu bicara pada yang lebih tua?”
**
__ADS_1
Perdebatan mereka tak berlangsung lama karena Aira telah datang bersama Arnel. Kakek tua itu berdiri saat Aira menyalaminya. “Kakak, maaf, sudah lama menunggu, ya?”
“Tidak, Adikku, kau selalu saja terlihat cantik dan menawan.” Mengusap pucuk kepala Aira dengan senyuman.
Arnel menatap tak suka, benar-benar tidak suka. Arnel memilih duduk di samping Aira lalu memegang pinggang nenek itu.
“Cih! Menjijikan, sudah tua, masih saja posesif.” sindir kakek itu pada Arnel.
“Ada apa kakak datang ke sini?” tanya Aira. Ia tak ingin mendengar perdebatan tak berkesudahan antara Arnel dan Kakek yang di depannya ini, siapa lagi kalau bukan Yuhen, Kakak mantan kekasihnya.
“Ada masalah penting yang ingin kubahas dengan kalian.” sahutnya.
“Baiklah, Kak. Kalau begitu, kita bicara di ruanganku.” ajak Aira.
“Tidak. Aku ingin bicara dengan kita semua di sini.”
“Anak kecil yang diselamatkan cucu menantumu itu telah berada di tanganku, Ruth menyerahkannya padaku. Dia adalah Alexei Dimitri, putra Dimitri Hilton, ketua gang Sipasanking.”
Mata Aira dan Arnel membulat sempurna, “Maksud Kakak, Nurbaya membuat masalah dengan gang mafia?” tanya Aira cemas.
“Sebenarnya tanpa sengaja...”Yuhen menghela nafasnya. “Apa kalian berdua tidak tau kejadiannya?” Yuhen memandang Satria dan Melani penuh arti.
Aira dan Arnel menatap dua insan itu. “Dia adalah mantan anggota Kaloqueen, lalu cucu kalian membuka kembali Kanai-kanai.” ucap Yuhen serius.
“Apa itu benar, Satria?” tanya Arnel tegas.
“I-Itu, a-aku, aku hanya memanfaatkan bangunan yang lama terbengkalai, Kek.” sahut Satria terbata.
Arnel langsung berdiri dengan mata nyalang. Untuk pertama kalinya Satria melihat wajah Kakeknya berubah suram, gerahamnya terlihat mengeras, Aira tak menenangkannya seperti biasa, tatapan Nenek itu juga terlihat kecewa.
__ADS_1
“Sebenarnya Sipasanking bermasalah dengan Nagired, mereka saling bantai, anak Dimitri selamat 3 orang. Salah satunya yang ditolong cucu menantumu, Alexei Dimitri.” lanjut Yuhen mengabaikan kemarahan Arnel.
“Kau benar-benar membuat masalah sekarang!” Menatap tajam Satria. Arnel beranjak pergi dari sana, mengontrol emosinya yang membuncah.
“Ah, aku rasa sudah cukup, kalian tampak tegang.” Yuhen masih bisa tersenyum di suasana yang tak mengenakkan itu.
“Aku rasa, dia tak tau apa-apa. Apalagi cucu menantumu yang polos dan terlihat bodoh itu. Lebih baik jelaskan pada mereka.” Menatap Aira.
“Ah, satu lagi. Sepertinya Alexei lebih suka dengan cucu menantumu, dari pada bersamaku. Setiap hari dia selalu menanyakannya.” Yuhen berdiri.
“Aku pergi dulu, Dik.” Tersenyum, Aira membalasnya dengan mengangguk.
**
Suasana masih hening dan tegang. Aira duduk diam, Melani dan Satria juga diam.
“Apakah kau mengetahui kenapa Nurbaya masuk dalam masalah ini, Melani?” tanya Aira.
“Maaf, aku benar-benar tidak tau. Yang aku tau, dia sudah berada di sana. Aku datang ke sana karena aku melacaknya melalu chip yang aku pasang di tasnya. Di tempat itu, aku pernah mendengar beberapa kelompok manusia penjual organ tubuh, menjual para wanita dan anak-anak.”
Satria tercekat mendengarnya. Betapa bahaya dan menyeramkan tempat itu. Bagaimana jika tidak ada Ruth bersamanya, tak ada Melani yang melacak Nurbaya? Apakah ia akan bisa bertemu dengan Nurbaya kala itu? Dia hanya seorang pria jenius yang dilindungi beberapa pengawal, tak pernah mendekat ke hal yang berbaur kekerasan seperti mafia, obat-obatan dan hal buruk lainnya.
Ia dididik untuk belajar tentang perusahaan, berbisnis selama ini. Kakek dan Nenek juga terlihat biasa saja. Namun, hari ini ia melihat perubahan, seolah Kakek dan Nenek itu menyimpan banyak rahasia.
‘Apakah benar, danau hijau milik Damrah Groub memiliki kenangan yang dalam? Lalu, ada apa dengan Kanai-kanai, kenapa Kakek semarah itu?’
Entahlah...
Satria menghela nafas.
__ADS_1