Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Kode


__ADS_3

Semua pakaian dan persiapan mereka sudah di siapkan, kini tinggal keberangkatan mereka. Nurbaya masih merengek pada Ibu dan Ayahnya. Mengatakan kalau ini semua pernikahan bohongan. Ia masih tak percaya dengan pernikahan ini.


Di sebuah kota bernama Yosinan, yang memiliki pemandangan indah, kebanyakan tamu yang datang di sini adalah pasangan suami istri yang sedang berbulan madu.


Satria dan Nurbaya sampai di kota ini kira-kira jam 2 siang. Mereka langsung di sambut sopan oleh manager hotel yang telah di booking Arnel.


“Silahkan Tuan, Nyonya.” Seseorang membuka pintu kamar dengan sopan dan sedikit membungkuk.


Dua pengawal bernama Baron dan Jaka langsung memeriksa semua sudut ruangan itu, menggeledah semuanya, “Semuanya terlihat ok, Bang!” ucap Jaka pada Baron.


Baron mengangguk. Lalu, mempersilahkan Satria dan Nurbaya bersantai. “Kami akan menjaga di luar, Tuan Muda. Jika ada sesuatu, Tuan Muda bisa memanggil kami.


“Hm, baiklah.” Satria mengibaskan tangannya.


Kedua pengawalnya keluar.


“Kalau Tuan Muda butuh sesuatu apapun, bisa hubungi saya langsung.” Manager memberikan kartu namanya.


Satria mengangguk, duduk di sofa melipat kakinya ke atas, Nurbaya juga duduk disampingnya sedikit memberi jarak.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan Muda.” Manager hotel pun pamit undur diri.


Sedangkan Bell Boy masih mengangkat dan merapikan barang-barang Satria dan Nurbaya. Setelah merapikannya, Satria memberi pemuda itu uang tips.


“Kenapa kau duduk sejauh itu? Sini, aku merindukanmu, Sayang.”


“Aku mau mandi!” sahut Nurbaya ketus, ia langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


'Hm...' Satria tersenyum misterius. Ia perlahan mengikuti Nurbaya masuk ke dalam kamar mandi, untungnya Nurbaya selalu ceroboh dan lupa mengunci dari dalam. Selalu seperti itu dan Satria sangat hafal betul.


Saat masuk, gadis itu baru saja gosok gigi dan sedang menatap ke bawah, Satria tersenyum melihatnya dari belakang. Saat Nurbaya berkumur-kumur, ia melihat ke atas, ke depan kaca, lalu....


“Huwaaaa!” teriak Nurbaya, Ia terkejut.


Saking terkejutnya, ia pun terpeleset dan menghantam pengunci air. Air menyembur, menyemprot mereka berdua. Nurbaya berusaha mematikan air itu, namun tangannya di cegah dan di peluk dari belakang.


“Sayangku, apa kau sedang menggodaku? Kau ingin mandi berdua denganku, ya?” bisiknya di telinga Nurbaya.


“Siapa yang ingin mandi berdua denganmu? Kau seperti hantu, mengagetkanku, datang tiba-tiba. Jalan itu bersuara dong!”

__ADS_1


“Perasaan, aku jalan seperti biasa. Hm, kalau jalan bersuara, berarti aku lagi ngobrol, tadi kan aku sendirian, pas masuk ke dalam udah di sembur aja, sepertinya istriku ini sedang memberiku kode untuk mandi berdua dengannya.”


“Aku paham dengan kode itu Sayang, kamu ingin bermanja-manja dengan suamimu ini, kan?” ucap Satria, Nurbaya mendelik mendengar apa yang dikatakan Satria barusan.


“Sayang, aku tahu, kita adalah pengantin baru, tanpa kamu beri kode aku juga paham.” Satria merapikan rambut Nurbaya ketepi, sehingga memperlihatkan tengkuknya.


“Apa yang mau kau lakukan? Jangan macam-macam, Bocah Nakal! Kau mau aku berteriak?” Nurbaya membalik badannya dengan mendorong tubuh Satria. Ia mengancam Satria.


Satria mendekat, merangkul pinggang Nurbaya, mereka saling berhadapan, “Hm, Sayang, kau sedang basah kuyup.” Satria meneliti tubuh Nurbaya dari atas sampai ke bawah, lalu berbisik. “Apa kau tahu, Istriku? Bentuk tubuhmu sangat jelas.”


Mendengar bisikan itu, Ia menutup dadanya. “Keluar kau bocah nakal!” Ia langsung memunggungi Satria.


“Kenapa aku harus keluar? Istriku sedang menggodaku, tentu saja aku harus menemaninya.”


Nurbaya mendorong Satria kuat sampai pemuda itu terdorong jatuh keluar. Lalu, gadis itu mengunci pintu dan memaki-maki Satria.


“Ck. Dasar Istri durhaka, suka sekali KDRT pada suami tampanmu ini!” teriaknya di pintu.


“Kau tega sekali istriku, bajuku juga basah, aku dingin, aku bisa masuk angin!”


“Aku tak peduli!” balas Nurbaya dari dalam kamar mandi.


“Dasar istri durhaka!”


Saat Nurbaya selesai mandi, ia tak melihat Satria dimanapun. Ia dengan santai berjalan keluar kamar mandi dengan lilitan handuk.


“Hm, Kau sedang menggodaku lagi, Sayang?” suara Satria mengejutkan Nurbaya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.


Satria yang tadi bersembunyi menunjukkan rupanya, ia tahu betul kelakuan Nurbaya setelah mandi, gadis itu hanya melirik ke depan lalu ke ke kanan dan sering melupakan menghadap ke kiri. Itu kebiasaan yang sangat di hafal oleh Satria.


“Kau mau apa, hah?!” Mata Nurbaya menatap tajam.


Satria terkekeh. “Sayang, kau lucu sekali, kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu. Wah, aku benar-benar hebat berarti, ya.”


“Hebat apanya, dasar bocah nakal mesum!”


Satria terus berjalan mendekat, membuat Nurbaya terus mundur ke belakang, sampai ia terantuk di badan sofa. “Kamu apa, hah?”


“Aku mau ambil handuk di atas kepalamu, Sayang. Aku juga mau mandi, kau tak lihat, aku masih basah karena perbuatan menggodamu tadi, tapi kau tak bertanggungjawab kepadaku. Memangnya kau memikirkan apa?” Satria menaikkan turunkan alisnya, lalu mengambil handuk yang dililitkan di atas kepala Nurbaya.

__ADS_1


“Ini sudah, kan? Handuk cuma ada 2. Satu di tubuhmu, satu di kepalamu. Kalau kamu masih menggunakan yang di atas kepala, aku akan mengambil yang di....” ucapan Satria di potong.


“Nih, sana, mandi!” Nurbaya melepas handuk di kepalanya, memberikan handuk itu dengan kasar pada Satria. Wajahnya memerah, malu. Jujur, pikirannya tadi sempat traveling.


“Mau temani aku mandi gak?” tanya Satria menggoda dengan terkekeh.


Setelah Satria masuk ke kamar mandi, Nurbaya bergegas memakai pakaiannya.


'Aku harus buru-buru, sebelum bocah nakal itu datang. Aku belum siap, yang benar saja, adik kecilku itu menjadi suamiku sekarang. Aku belum siap, jika.... Aaaaaaah!!' bergumam sendiri.


Setelah mandi, Satria dengan santainya berjalan memakai handuk. Lalu lalang di depan Nurbaya mencari perhatian.


“Cepat pakai baju sana, mataku sakit melihatmu.” tegur Nurbaya.


“Gak romantis banget sih! Seharusnya seorang istri itu harus menyiapkan pakaian suaminya.” sindirnya.


Nurbaya berdiri, lalu mengambilkan pakaian untuk Satria. Meletakkan pakaian itu di hadapan Satria.


“Pakaikan, Sayang.” pintanya lagi manja.


“Kau ini dikasih hati minta jantung!”


Satria tersenyum, lalu menarik pinggang Nurbaya. “Istriku, memakaikan pakaian suamimu itu tidak berdosa, bahkan hati serta jantungmu itu adalah milikku. Kau lupa? Aku ini suamimu?”


Sejurus kemudian, pemuda itu telah mengecup bibir Nurbaya. Setelah melepaskan ciuman hangat itu, ia membelai wajah Nurbaya lembut.


“Sudah?” Pertanyaan menyebalkan keluar dari mulut Nurbaya dengan sorotan mata tajam, menghancurkan suasana romantis yang baru saja dimulai Satria.


Adegan barusan sudah ia pelajari dari buku-buku sakti pembelian Sekretaris Dewa, jadi ia mempraktekkannya sekarang. Inilah yang disebut harapan tak sesuai kenyataan.


“Sebenarnya apa yang ada dalam kepalamu? Kenapa kau menikahi aku?”


Satria menghela nafas kasar. “Kalau bodoh itu jangan kebangetan deh. Aku tau kamu sering dapat nilai remedi dan pernah tinggal kelas waktu sekolah dasar beberapakali. Tapi, masa gak tau alasan aku menikahimu.”


“Kurang aj*r! Kau mengatakan aku bodoh? Siapa yang memberitahu mu kalau aku tinggal kelas. Dasar bocah nakal!” Ia memukul-mukul lengan Satria dengan amarah membara. Malu sih lebih tepatnya.


“Aaaaahhhh!! Ibu, kenapa kau menceritakan aib ku pada bocah nakal ini!!” teriak Nurbaya.


Satria terkikik walau jari jemari Nurbaya membentuk kepalan tinju memukul lengannya. Itu tak akan terasa sakit, jika itu tangan wanita kesayangannya.

__ADS_1


****


__ADS_2