
Kurang lebih hampir 2 Minggu Satria di Belanda. Pemuda itu tidak mengabari Nurbaya sedikitpun, hanya pesan dari Kepala Pelayan kalau pemuda itu baik-baik saja.
‘Apa dia sengaja menghindariku?' Mulai berpikiran aneh lagi.
Apakah setiap wanita suka berburuk sangka jika telah jatuh cinta pada seorang pria? Sehingga melupakan akalnya, lebih memilih ke-baperan yang tiada jelas? Entahlah. Nurbaya benar-benar mudah sekali berburuk sangka akhir-akhir ini.
Hari-hari yang membosankan, tidur, makan, menonton, senam pagi, olahraga kecil di sore hari adalah rutinitas Nurbaya.
‘Rupanya menjadi pengangguran kaya, juga tidaklah seenak yang terlihat.' gumamnya sembari meminum air perasan lemon hangat.
“Pak Wo, Kapan Satria pulang?” tanyanya menghentikan langkah Kepala Pelayan yang hendak pergi.
“Beberapa hari lagi Nona, apakah Nona merindukan, Tuan Muda? Saya akan menyampaikannya.”
“Siapa juga yang merindukan bocah nakal itu. Ya sudah, Pak Wo lanjutkan perkejaan lagi saja.” Mengeles, padahal hatinya sangat merindu.
Beberapa puluh menit duduk santai setelah olahraga sore, seorang pelayan datang. “Nona, saya sudah menyiapkan air mandi di kolam mini.” ucap seorang pelayan yang biasanya memanggil dirinya Aya, awalnya sedikit risih di dengar, tapi bagaimana lagi, mata tajam Si killer Kepala Pelayan menatap bak mata bersinar merah membara yang mengancam, siap membakarnya.
“Aku tidak menyuruhmu, 'kan?” tanya Nurbaya.
“Iya Nona, tapi Anda sudah lama tidak mandi susu. Seharusnya Anda harus mandi susu satu atau dua kali dalam seminggu, agar kulit Anda selalu lembut, kenyal dan bersinar. Tentu saja Tuan Muda tambah jatuh hati.” sahut Pelayan itu dengan mata berbinar.
“Ah, kau ini, Ro! Bisa sekali kamu menggodaku, ya sudah, aku ke sana.” Nurbaya berjalan ke kolam mini yang diikuti oleh Pelayan Roro.
Nurbaya membuka bajunya yang hanya tersisa pakaian atas dan bawahnya saja. “Nona kenapa tidak membuka pakaian atas juga?” tanya Roro.
“Bagaimana bisa aku bugil di hadapanmu, tentu saja aku malu, walaupun kita sama-sama perempuan.” ujar Nurbaya.
“Tetapi aku tak akan bisa melihatnya, Nona berada di dalam air, bahkan airnya sangat putih, tidaklah bening, aku hanya bisa melihat tangan dan kepala Nona saja.”
“Tetap saja aku malu. Sekarang pijitlah kepalaku.” Nurbaya merebahkan kepalanya, yang langsung di sambut Roro.
Nurbaya dibantu oleh Roro menggosok tubuhnya serta mencuci rambutnya. “Keluarlah, aku ingin mandi bersih dan memakai handuk.” perintah Nurbaya. Roro pun keluar.
Nurbaya keluar dari kolam mini, menghidupkan shower di samping kolam itu, mencuci tubuhnya hingga bersih, lalu mengambil handuk baju.
__ADS_1
Roro masih menunggu di luar pintu ruangan saat Nurbaya keluar dari ruangan kolam mini itu. “Aku bisa memakai pakaianku sendiri, pergilah, kerjakan kegiatanmu selanjutnya.”
“Aku tidak memiliki pekerjaan selain mengurusi keperluan, Nona.”
“Ah,” Kepala Nurbaya terasa berdenyut, ia memijat pelipisnya. “Aku bukan putri raja, kenapa mulai dari mandi sampai memakai baju harus dibantu sih? Aku bukanlah anak kecil.” sungutnya kesal.
“Tapi, Nyonya dan Tuan Besar, khawatir dengan Nona.”
Nurbaya mengernyitkan keningnya, “Khawatir padaku, kenapa?” tanyanya bingung.
“Akhir-akhir ini, Nona tampak murung, lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Bukan hanya Nona dan Tuan Besar yang khawatir, Ibu dan Ayah Nona juga, bahkan kami semua juga khawatir. Percayalah Nona, setelah Tuan Muda Satria menyelesaikan masalah di Belanda, Ia akan segera pulang.” ucap Roro menghibur Nurbaya.
Nurbaya memijit pelipisnya sembari menghela nafas. Jujur ia merindukan pemuda nakal itu, namun ia bisa menahan rindu itu jika masalahnya hanya karena pemuda itu sibuk, namun kali ini pemuda itu pergi dan bersikap dingin padanya karena kejadian malam pertamanya yang tak berdarah. Bagaimana ia tak termenung memikirkannya? Tak mungkin ia bercerita aibnya kepada orang lain, bukan?
“Jangan mengkhawatirkan aku, kau lihat 'kan? Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa bosan tak punya kesibukan, tak boleh melakukan perkejaan apapun, membuat semua sendi-sendi di tubuhku terasa sakit.”
“Nona, seharusnya Anda bersyukur, begitu banyak orang yang menginginkan posisi seperti ini, hidup menjadi Nyonya kaya yang di cintai, bahkan semua keluarga menerima. Ah! Kalau aku seperti Nona, mungkin aku sudah menangis tersedu-sedu di depan Tuhan.” ucap Roro dengan mata berbinar.
“Kau ini. Suamimu kan juga mencintai dan memanjakanmu! Tak elok, memandang kehidupan orang lain.”
“Sudah, sudah, aku mau pakai baju dulu. Masa, aku lama-lama berdiri pakai handuk begini sih!”
“Eh, iya, iya, Nona.” Mengekori Nurbaya yang berjalan mendahuluinya.
“Kenapa kau mengikuti ku?” tanya Nurbaya menyelidik.
“Aku ingin membantu Nona memakai baju.” jawabnya tersenyum sumringah.
“Astagaaaaaaa! Roro, denger ya, aku bukan anak kecil lagi.” Nurbaya memijat pelipisnya. “ Kamu sana pergi, aku akan memakai baju sendiri, sana pergi!” usir Nurbaya.
“Tapi, Nona...” Roro merengek.
“Atau kau mau aku memintamu untuk dipecat, cepat sana!” Mengancam sambil menyedekapkan tangannya.
“Jangan lakukan itu, Nona.”
__ADS_1
“Kalau begitu cepat pergi!”
“Tapi aku bisa dimarahi tidak melayani Nona dengan baik.” Memberikan alasan.
“Soal itu, aku yang memintamu untuk pergi, aku akan menjelaskannya pada Pak Wo.” Nurbaya masuk ke kamarnya, sedangkan Roro masih berdiri mematung di tempat. Ia takut untuk pergi, juga takut untuk masuk. Serba salah.
“Ah, rupanya menikah dengan orang kaya itu sulit. Ini dan itu, banyak sekali peraturannya!” Mendumel sendiri.
Ia memakai bajunya, lalu membuka pintu kembali. Tampak Roro masih berdiri di sana. “Masuklah.” perintahnya. Roro pun masuk.
“Karena kau bersikeras ingin melayaniku. Keringkan saja rambutku ini.” Roro pun mengeringkan rambut Nurbaya dengan hair dryer.
“Nona semakin hari bertambah cantik aja, pasti saat Tuan Muda pulang, dia sudah tak tahan untuk memeluk dan memberikan kasih sayang pada Nona,” katanya dengan berbinar.
“Kau ini, selalu saja mengatakan hal-hal seperti itu. Bilang saja kau mau sesuatu? Kau terus saja memujiku sedari tadi.
“Hehehe. Ini memang asli dari hatiku Nona, tapi kalau Nona mau memberikan aku sesuatu aku tak menolak.” ucapnya terkikik.
“Dasar, ya kamu.” celetuk Nurbaya. Roro malah makin cengengesan.
“Putramu sekarang sudah semakin besar, ya?”
“Iya, semoga Nona dan Tuan Muda cepat menyusul, memiliki putra dan putri yang menggemaskan.”
“Aamiin.”
**
Malam hari.
Nurbaya telah tertidur pulas, seseorang membuka pintu kamarnya, langsung datang memeluknya, meraba dan mengecup bibirnya. Ia terbangun dan terkesiap.
“Ka...Kamu?!!” ucap Nurbaya ternganga. Ia terkejut dengan sosok manusia yang di depannya.
Seseorang itu langsung melahap bibir Nurbaya rakus, tidak membiarkan mulut Nurbaya mengeluarkan suara, apalagi membiarkan Nurbaya berpikir sejenak atas keterkejutannya.
__ADS_1