
“Saat kau sering bersama Satria, aku juga sering mengikutimu. Setelah itu, aku sering mengganggu dan menggoda Satria. Bahkan memasukkan obat perangsang di makanannya.”
“Hah? Apa?!”
Melani terkekeh melihat reaksi Nurbaya. “Tenang, tak terjadi apa-apa. Dia tangguh, tetapi aku heran, kenapa dia tiba-tiba bodoh sekarang? Tak seperti biasanya. Masa, mau menikahiku?”
Nurbaya terdiam, ia sadar, kenapa Satria seperti itu. Pemuda itu juga sering merasakan kesepian, memiliki trauma, bahkan setiap hari selalu mencari perhatian Nurbaya sejak dulu. Ia pasti khawatir tentang masa depan Ethan, kepergian Erian di depan matanya, kejadian kemarin pasti mengingatkannya pada kejadian orangtuanya.
“Maafkan aku, Aya.”
“Kenapa minta maaf?”
“Aku telah melukai hatimu, aku egois, karena ingin selalu bersamamu, selalu menganggumu. Bahkan, sekarang, aku benar-benar....” Melani diam, airmatanya mengalir.
“Aku sudah lama memaafkanmu. Memang aku akui, aku sangat kecewa kala itu. Tapi, Mel... Dengan semua kejadian itu, aku mengerti, sebenarnya aku telah jatuh cinta pada Satria, aku hanya tertarik pada Erian. Saat aku kehilangan Erian, aku hanya sedih, tapi saat aku tak bertemu saja dengan Satria satu hari, aku galau, terpikir setiap saat. Apalagi jika berpisah dengannya.”
“Tak ada yang salah dengan perasaanmu. Itu wajar, kalian telah bersama dan saling mengenal. Wajar jika kalian saling mencintai.” Nurbaya membelai wajah Ethan yang tertidur dalam pangkuan Melani.
“Sungguh perasaanmu telah benar-benar habis pada Erian?” tanya Melani, Nurbaya mengangguk.
__ADS_1
Airmata Melani semakin mengalir deras. “Aku bahkan tak mengetahui perasaanku padanya, Aya.” lirihnya. “Setelah dia tiada, baru terasa. Aku baru menyadari rasa yang ku punya, aku tak sanggup, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku terjatuh dalam permainanku sendiri.” Airmatanya jatuh berderai bercucuran.
“Dia juga mencintaimu, Mel. Berbahagialah, ia pasti sedih jika melihatmu lemah seperti ini.”
Melani menggigit bibirnya, getir. “Aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya, aku tak punya perasaan apapun sebelumnya. Aku membenci semua lelaki sebelumnya, aku tak pernah percaya. Perlahan, hatiku yang mengeras ini lemah akan sikapnya, ia sabar dan bertahan disiku, aku maki, usir, aku tinggalkan, dia tak peduli, dia selalu bersamaku.”
“Setelah aku mulai percaya, aku telah jatuh cinta padanya, sekarang semua itu terasa sia-sia.”
Nurbaya memeluk Melani, menenangkan. Ia mendengarkan semua keluh kesah Melani, setidaknya, hari ini ia terbuka. Biasanya, ia lebih memilih berdiam diri sendirian memendam perasaannya.
Satria yang sejak tadi telah berdiri dibelakang mereka terdiam mendengarkan. Ia telah lama mengetahui faktanya, kalau Melani menyayangi Nurbaya. Ia tersenyum bodoh, Melani benar-benar paham tentang dirinya.
Tak lama, sebuah mobil Porsche berhenti di depan teras. Turunlah seorang Kakek dengan dua orang pengawalnya. Bajunya terlihat keren, memakai jas dengan tongkat ditangannya.
Melani dan Nurbaya menghentikan obrolan mereka, Satria juga menatap pria itu.
“Permisi, Nona-Nona. Apakah Nyonya Aira atau Tuan Arnel ada di dalam?” tanya pengawalnya pada Melani dan Nurbaya.
“Mereka sedang di luar, silahkan masuk.” Nurbaya mempersilahkan tamu itu masuk. Ia yakin, itu tamu penting. Soalnya tak mungkin sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah mereka.
__ADS_1
Gerbang rumah mereka jauh di sana, pasti satpam tidak akan membukanya sembarangan.
Melani dan Satria duduk bersama dengan kakek itu, dua pengawalnya hanya memilih berdiri di samping kakek itu. Nurbaya menggendong Ethan setelah meminta pelayan membuat minuman, duduk disampingnya Melani.
“Jadi kau yang bernama Melani?” Menatap Melani. Wanita itu menatap sang kakek penuh selidik.
“Lalu, kau yang bernama Nurbaya?” tanyanya lagi.
“Iya, Kek. Saya Nurbaya.” sahut Nurbaya tersenyum ramah. Satria menatap tajam. Yang di tatap tak peka.
Setelah air dihidangkan, Kakek itu sibuk menelfon seseorang, sepertinya itu Aira. “Aku berada di rumahmu, cepatlah datang. Bahkan aku ke kantormu dan suamimu, bawahan kalian mengatakan kalian telah lama pulang. Jangan membuat aku menunggu lama.”
Melani terus menatap tajam kakek itu, begitupula Satria. “Kenapa kalian menatapku seperti itu?”
Tak ada sahutan. “Jangan curiga seperti itu anak-anak muda. Sebaiknya kalian jangan pernah bermain api sebelum terbakar.” Kakek tua itu membakar cerutunya.
Asap menggumpal. “Sebaiknya kau masuk kedalam kamar, bawa bayi itu, Nak. Tidak baik seorang bayi terkena asap rokokku. Aku juga ingin bicara dengan mereka berdua dulu.” ucapnya pada Nurbaya.
“Baik, Kek.” Nurbaya mengangguk patuh, meninggalkan tamu itu bersama Satria dan Melani.
__ADS_1
***