Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Bersyukur


__ADS_3

Melani dan Erian sampai di kontrakan mereka, suasana hening sejak tadi, mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Walaupun masih diam, Erian dengan sigap membantu melepaskan sepatu Melani, mengambilkan wanita itu air minum, memijat-mijat tangan dan telapak kakinya pelan.


“Apa kamu lapar, Mel?” Sebuah pertanyaan darinya pertama kali sejak tadi. Melani menggeleng.


“Apa dia menyusahkan mu tadi? Apa dia meminta sesuatu yang sulit?” Melani menatap Erian lekat.


“Tidak, aku hanya berbincang biasa dengannya. Dia bercerita, kalau dia dan Nurbaya saling mencintai. Aku pun juga menceritakan kalau kita saling mencintai, semua ini hanya salah paham.” Mengelus wajah Melani lembut.


“Nurbaya bahagia sekarang, dia baik-baik saja, jangan cemas. Satria pria yang baik, dia di kenal setia dan dingin pada orang lain.”


“Apa kau lupa, sejak dulu dia perhatian dan baik hanya pada Nurbaya? Masih ingat, 'kan?” tanya Erian. Melani mengangguk.


Ia masih ingat saat Satria diam-diam mengikuti mereka bermain, diam-diam membelikan apapun yang di sentuh Nurbaya.


“Sekarang, jangan terlalu banyak berpikir lagi. Aku tau kamu sayang banget sama Nurbaya melebihi dari apapun. Tetapi, dia sedang bahagia, jika kamu mendekat seperti ini, itu bisa menganggunya, mungkin kamu bisa dianggap menjadi orang ketiga.”

__ADS_1


“Kamu boleh temui dia, boleh lihat dia, tapi jangan seperti ini.” Membelai rambut Melani.


“Seperti ini bisa membahayakan dirimu dan kesalahpahaman Satria atau Nurbaya semakin besar padamu. Aku tau kamu sayang dia. Cup!” Sebuah kecupan kasih sayang mendarat di bibir Melani. Kemudian Erian memeluknya erat.


“Kamu mau 'kan menahan perasaanmu agar tak mendekati mereka lagi? Ini semua demi kebahagian Nurbaya. Kamu mau, 'kan?”


“Baiklah, demi dia.” Membalas pelukan Erian.


***


‘Karena aku mencintai dia.’


‘Karena dia hamil anakku.'


“Apakah itu sebuah alasan?” Satria mengingat alasan Erian.

__ADS_1


Satria tersenyum kecut. Benar, dia juga akan melakukan hal yang sama jika itu berhubungan dengan Nurbaya. Cinta bisa membuat seseorang berubah, yang lemah menjadi kuat, yang kuat menjadi lemah, bahkan menundukkan kepala memohon seperti itu harus menekan harga diri tinggi.


Erian mampu melakukan itu demi Melani. “Sungguh besar dan kuat perasaanmu padanya.” Satria bergumam.


Satria tersenyum getir, Erian adalah pria yang baik dan setia menurutnya. Semua kesalahan yang pernah terjadi adalah sebuah kesalahpahaman yang kusut. Pernikahannya yang gagal menunjukkan dia tidak berpengalaman tentang wanita, dia bukanlah pria buruk yang suka bergonta ganti wanita. Semua ini hanya kesalahpahaman, atau mungkin sebuah pembelajaran untuknya.


Wajar jika dulu Nurbaya begitu mencintainya.


Satria kembali tersenyum. “Aku bersyukur kamu jatuh cinta pada Melani, bagaimana jika dulu kamu jatuh cinta pada Nurbaya. Aku pasti akan mendapatkan saingan yang tangguh. Jika bukan kamu yang melepaskan Nurbaya dengan sendirinya, lalu jatuh hati pada Melani, mungkin aku belum bisa menikahi Nurbaya. Aku senang, kau hanya sebatas suka pada Nurbaya, bersabar, lalu melepasnya, tak berjuang keras seperti sekarang ini.”


Satria teringat saat ia mengusik pria lain yang mencoba mendekati Nurbaya, hanya Erian yang bertahan. Buktinya, bahkan mereka berpacaran sampai 6 tahun.


“Semoga kau berjodoh dengan Melani, semoga kisah cinta kalian berakhir bahagia, saling mencintai.” Ia menatap Nurbaya, kemudian mengecup pipi istrinya yang sedang tertidur pulas itu.


Ikut merebahkan tubuh dan mendekap Nurbaya. “Semoga hari-hari esok akan selalu ada kebahagiaan untuk kita semua.”

__ADS_1


***


__ADS_2