
“Kamu juga sering menciumku!” Nurbaya mulai protes karena malu.
“Tapi, siapa yang memulainya terlebih dahulu?” sahut Satria lagi.
Karena merasa malu dan kesal, Nurbaya menangkap wajah Satria, kemudian menggigit pipi Satria. Pemuda tampan itu pun meringis sakit, di pipinya sekarang sudah ada jejak gigi istrinya.
Nurbaya berlari setelah menggigit. Dan sekarang, mereka sedang main kejar-kejaran di taman bunga, saling tertawa, main gelitik-gelitikan.
Dengan nafas ngos-ngosan, ia berhenti sejenak, memeluk Satria. “Aku haus, Sayang. Ayo, kita kembali.”
“Minta Jaka saja. Kita menunggu senja di sini.”
Nurbaya menatap Satria. “Hm.” Berpikir.
“Senja itu hanya sebentar, mari kita nikmati indahnya. Entah kapan kita bisa menikmati indah senja lagi di sini, esok kita juga akan mengunjungi tempat lain.” Menggenggam tangan Nurbaya, meletakkan di dadanya. Tersenyum manis.
Nurbaya hanya bisa mengangguk, terhipnotis wajah rupawan suaminya, terbuai kata-kata.
Satria melihat ke belakang, Jaka dan Baron siaga. Satria memainkan telunjuknya, seolah artinya, 'Kemarilah.'
Jaka dan Baron mendekat pada mereka. “Apa Tuan Muda ingin sesuatu?” tanyanya.
“Ya, Istriku haus.” sahutnya. Kembali menatap Nurbaya dan menciumi jemari istrinya lagi.
Jaka pergi membeli minuman dan cemilan, sedangkan Baron masih setia mengawal sepasang suami istri itu.
“Besok kita akan naik kapal Luxury Cruise Ship, untuk mengunjungi beberapa pulau, pernahkah kau mendengar cerita rakyat Bujang Sambilan? Samosir dan jembatan Siti Nurbaya?”
“Itu, 'kan cerita daerah dua provinsi yang berbeda.”
“Iya. Pernah dengar, 'kan?” Menatap wajah Nurbaya dengan sangat dekat.
“Pernah.”
“Kisah cinta mereka pahit semua. Ada yang dijodohkan, ditentang hubungan mereka, menikah tapi akhirnya dapat musibah. Aku ingin membuat kisah kita di sini, cinta manis, kisah cinta kita yang bahagia dan abadi.”
“Apapun yang terjadi, hanya kamu di hatiku, Nurbaya.” sambungnya lagi.
“Heheheh. Siti Rasani dan Sigiran juga saling mencintai, akhirnya mereka mati bersama. Nah, berarti cinta mereka abadi dong.”
“Iya, abadi. Tetapi, mereka tidak hidup bersama dan bahagia. Sedangkan kita hidup bersama dan akan mewujudkan kebahagiaan setiap saat.” ucap Satria percaya diri.
__ADS_1
“Ya, iya.” Tak ingin berdebat lagi. Melemparkan pandangannya ke hamparan bunga yang luas.
Tak lama, Jaka telah membawa sekantong cemilan dan minuman. Satria membuka tutup botol minuman, memberikannya pada Nurbaya. Mereka berempat di sana duduk santai menanti senja, hingga senja menghilang disambut gelap langit yang di susul cahaya rembulan dan bintang terang.
**
Pagi hari,
Satria dan Nurbaya telah bersiap, begitupula Baron dan Jaka. Hari ini mereka akan berkunjung ke beberapa pulau kecil yang lagi tren di sosial media.
Mereka telah naik kapal, barang-barang mereka telah di susun oleh Jaka. Satria dan Nurbaya berjalan ke atas. Setelah sampai di atas, ia memandangi luasnya samudera, berpegangan di pagar pembatas.
“Kau suka, Sayang?” Bertanya sembari merapikan anak rambut yang terbang di belai angin.
“Iya.”
“Sama, aku juga suka kamu.” ucap Satria kemudian menggigit pipi Nurbaya.
Satria berlari, mengindar dari kejaran Nurbaya. “Itu pembalasan yang kemarin.”
“Dasar tukang dendam.” Nurbaya berdiri di tengah-tengah karna tak dapat membalas, menyedekapkan tangan, mengembungkan pipinya, lalu berbalik membelakangi Satria.
Satria menyusul, berdiri disamping Nurbaya, sama-sama menatap ke depan. Lalu, Nurbaya menarik rambut belakang Satria dengan mata yang masih menuju ke depan.
Nurbaya melongo, Ia pun semakin kuat menarik rambut belakang Satria.
Satria pun juga semakin nakal, Ia pun meremasnya. Tak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah.
Ujung-ujungnya, mereka pun saling tertawa dan saling melepaskan, yang di akhiri dengan ciuman romantis. Lagi, lagi dan lagi, Jaka dan Baron hanya bisa menelan saliva mereka, membuang pandangan mereka ketempat lain dengan wajah merah.
Perjalanan mereka dipenuhi dengan canda tawa sampai di tempat tujuan. Di tempat tujuan, mereka mengabadikan perjalan mereka dengan berfoto-foto. Membeli beberapa barang-barang yang menurut mereka unik dan lucu. Beberapa oleh-oleh juga.
Tak terasa, waktu cepat berlalu. Senja, mereka telah berada di atas kapal kembali, menyaksikan langit jingga di sana. Satria memeluk Nurbaya dari belakang dengan tangan saling menyatu.
3 hari lamanya, mereka berhenti di beberapa daerah dan melakukan perjalanan, hingga mereka kembali ke penginapan. Kedatangan mereka kembali di sambut hangat pemilik penginapan.
Satria dan Nurbaya masuk ke kamar penginapan. Saling merebahkan diri bersandar di sofa. “Apa kau suka perjalanan kita 3 hari ini?” Membelai Nurbaya manja.
“Suka.” Mengangguk.
__ADS_1
“Kamu mau kemana lagi?”
Nurbaya menatap Satria. “Memangnya kita tak punya tujuan lain lagi?”
“Gak ada. Ada pun, jauh semua, kita harus menggunakan Jet. Mungkin kita harus keluar provinsi. Apa kamu mau ke provinsi lain?”
“Kamu cuti berapa hari?”
“Cuma minta 2 minggu, jika kamu ingin main lebih lama, itu gampang. Ada Kakek dan Kak Dewa, perusahaan bisa titip mereka.”
“Ah, jangan. Kita di sini saja. Kapan-kapan kita main ketempat lain lagi. Ini juga sudah banyak menghabiskan uang.”
“Hei, tak masalah, aku bekerja mencari uang memang untuk dihabiskan, semuanya untukmu, untuk kebahagiaanmu.” Mengecup kening Nurbaya.
Nurbaya tersenyum. Kemudian memeluk Satria.
“Apa kau ingin mencobanya di kolam?” Berbisik sambil memainkan hidungnya di daun telinga Nurbaya.
“Apa-an sih, nakal banget.” Senyum malu-malu.
“Yuk, cobain.” ajak Satria.
“Jangan, malu.” tolak Nurbaya.
“Malu kenapa? Kolamnya kan di sana, cuma kita berdua yang bisa lihat, gak ada orang lain. Yuk, Sayang.” Mengecup pipi Nurbaya.
“Sekali-kali coba gaya baru.” Menatap penuh arti. Satria menggenggam dan menarik Nurbaya.
Di tepi kolam, mereka kini sedang bercumbu, Satria melepaskan pakaian Nurbaya dan kini hanya menyisakan bra dan celana dal*m Nurbaya.
“Pemanasan dulu, berenang.” ucapnya tersenyum. Ia membuka pakaiannya dan melompat ke dalam kolam.
Nurbaya yang tadinya telah berkabut dan terbuai hanya bisa tersenyum mengingat kenakalan suami berondongnya itu. Ia pun juga ikut berenang, menyusul Satria.
Di tengah kolam, kini mereka telah saling memeluk, bercumbu mesra. Tangan Satria meraba-raba tempat favoritnya, bibir dan lidahnya pun juga tak kalah sibuk menjelajahi wajah dan leher Nurbaya, meninggalkan tanda-tanda merah bukti kepemilikannya.
Entah berapa lama mereka memadu kasih dan sayang, saling memeluk dan menciumi, “Ayo, naik.” Satria mengajak Nurbaya naik ke atas, lalu mereka kembali bercumbu di tepi kolam.
Ciuman kasih sayang yang hangat, lama kelamaan menghanyutkan, menuntut kehangatan yang lebih, nafas yang saling memburu, debaran jantung yang saling menggebu, hingga mereka menyatukan cinta mereka di sana, disaksikan riakan air kolam yang malu-malu melihat mereka.
Kini, mereka telah tenggelam dalam lautan cinta.💓
__ADS_1
***
Terimakasih telah membaca karya sederhanaku, 🌹 Semoga sehat selalu💓