Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Jadilah Kekasihku


__ADS_3

Pagi hari menyapa dengan indah, ada banyak hal yang telah di lewati di setiap harinya. Denganmu, aku mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mengerti arti makna cinta yang abadi. 🌹


___________


Hari-hari telah di lewati Nurbaya dan Satria dengan lebih intens. Bisa di katakan, sudah seperti hubungan kekasih yang hendak menikah.


“Hai, Kak,” sapa Satria, ia langsung memeluk Nurbaya dari belakang, pagi ini. Kemudian mengecup pucuk kepala Nurbaya.


“Apa yang kau lakukan bocah nakal?” Nurbaya menepuk tangan Satria yang melingkar di pinggangnya.


“Memeluk kekasih hatiku.” sahut Satria.


“Dasar bocah nakal, siapa yang menjadi kekasihmu.” sarkas Nurbaya. Ia menepik tangan Satria dari pinggangnya sampai tangan itu terlepas.


Satria terdiam cukup lama, ia merasa kesal. Nurbaya selama ini menganggapnya hanya Adik, Adik, Adik, Adik dan Adik.... Sesuatu yang menjengkelkan. Ungkapan sayang dan cintanya selalu dianggap remeh, di jawab dengan selorohan, padahal ia telah mengungkapkan isi hatinya bersungguh-sungguh.


Adik? Bagaimana mungkin hubungan dengan Nurbaya adalah hubungan Kakak Adik? Apa iya, Kakak Adik itu melakukan kontak fisik seperti ini? Mereka sering melakukan ciuman, pelukan, main bersama dan tidur di ranjang yang sama? Ya, walaupun tidak melakukan hal intim di ranjang. Bukankah ini terlalu sakit rasanya hanya di anggap adik?


Cukup kali ini!


Sejak pernikahan Erian, mantan Nurbaya. Hubungan mereka telah semakin dekat selama 1 bulan terakhir ini. Bagi Satria, mereka sudah berpacaran.


Tiap hari, Video call jika tak berjumpa. Jika bertemu, selalu berdua. Apalagi kalau bukan hubungan kekasih? Masa, adik kakak lagi?!


Satria mengepal tangannya. Ia tak bisa terima lagi.


“Kak.” panggilnya.


“Hm.” sahut Nurbaya, Ia masih sibuk merapikan kamar Satria.


Hening.


“Ada apa? Kenapa diam saja setelah memanggil?” tanya Nurbaya, Ia menatap Satria.


Pemuda itu masih bergeming, berdiri di sana.


“Ada apa, huh?! Apa kau berubah pikiran lagi, kau ingin ke kantor atau ke sekolah hari ini? Bukankah kau bilang, hari ini ingin libur, kau ingin beristirahat?!” Menatap lekat Satria.


“Jadilah kekasihku, Kak,” kata Satria tiba-tiba.


Nurbaya mengernyitkan keningnya, menyunggingkan seulas senyum mengejek. “Apa kau salah minum obat pagi ini?”


Satria Mendekat.


“Aku ingin Kakak menjadi pacarku.” ucap Satria lagi dengan tersenyum.

__ADS_1


Nurbaya mengernyit, “Kau gila bocah! Aku tak sudi menjadi pacarmu.”


“Kenapa Kak?” tanya Satria. Ia tak bisa terima.


“Karena kau bocah, pipis saja belum lurus.” ejek Nurbaya.


“Maksud Kakak, Aku kurang jantan?” Satria menyunggingkan senyumnya. Terbesit sesuatu dalam benaknya.


“Nah, itu kamu tau. Kamu itu masih bocah, aku sudah besar, kamu cari pacar yang seusia denganmu saja, sana.” Nurbaya menepuk pundak Satria.


“Tapi, aku mau Kakak yang menjadi pacarku, kita sudah berciuman beberapa kali.” terangnya tak terima penolakan Nurbaya.


“Anggap saja kenangan. Gampang kan? Setidaknya, itu bisa jadi pengalaman untuk kau praktekan dengan pacarmu.”


Doaaar!! Jantung Satria seolah meledak mendengarkan itu. Dasar wanita tak punya perasaan!


'Kenangan?' Satria mendengus kesal.


Satria benar-benar sangat marah mendengarnya, mudah sekali Nurbaya mengatakan hal seperti itu. Ciuman yang mereka lakukan, anggap kenangan? Yang benar saja, Satria tak bisa terima. Rahangnya seketika mengeras, Ia menatap tajam Nurbaya.


“Aku mau Kakak jadi pacarku, titik!” tegasnya lagi.


“Hei bocah, Anu mu emang sudah besar, Hah? Bisa-bisanya kau meminta aku menjadi pacarmu? Dasar!” emosi Nurbaya meledak juga, ia tak mengontrol lagi ucapannya.


Pagi-pagi begini, Satria sudah mengatakan hal yang aneh menurutnya. Ia bahkan sejak tadi terganggu merapikan kamar ini.


“Heiiii!!!! Gila, bocah gila, apa yang kau lakukan?!!! teriak Nurbaya menutup wajahnya.


Nurbaya sangat terkejut melihat jamur yang dulunya kecil, sering Ia pegang untuk menjahili Satria kecil, kini telah menjadi jamur sehat setelah Satria remaja.


“Bukankah Kakak menanyakan ini sudah besar atau belum? Jadi, aku hanya ingin memperlihatkannya kepada Kakak.” jawab Satria datar tanpa dosa.


“Bocah gila!!! Pakai baju dan celana mu sekarang!!” teriak Nurbaya. Ia tak habis pikir dengan kelakuan pemuda di hadapannya ini.


“Kau tidak malu apa? Membuka baju mu seperti itu?”


“Tidak.” jawab Satria sambil memakai pakaiannya kembali.


“Apa kau akan sebodoh itu jika perempuan meminta kamu tunjukan itu mu?”


“Tergantung siapa perempuannya.”


“Maksud mu?”


“Ya, makasud ku, jika perempuan itu adalah Kakak. Jika perempuan lain, tentu saja tidak. Aku sangat mahal untuk dilihat. Bahkan hanya untuk melihat senyumku hanya milik Kakak seorang.”

__ADS_1


“Dasar bocah gila!” Nurbaya berteriak sambil berlari hendak keluar kamar.


Setelah mendengar jawaban dari Satria. Ada perasaan aneh melanda hatinya, saat Ia mendengar kata-kata itu. Terdengar sangat manis dan membahagiakan hati.


Belum sampai ia keluar, masih di depan pintu, saat membuka knop pintu. Satria mengejar dan mencengkram lengan Nurbaya. “Kakak harus menjadi pacarku!” Menatap lekat Nurbaya.


“Kalau aku tidak mau bagaimana?” tantangnya.


“Kalau Kakak tidak mau, aku akan menceritakan pada Kakek, kalau kakak menciumiku dan menelanjangiku.”


“Hei, kapan aku menelanjangi mu?”


“Tadi.”


“Tadi kapan?”


“Barusan.”


“???!!!” Nurbaya membulatkan matanya.


“Iya, tadi saat saya membuka baju. Bukankah Kakak yang meminta menunjukkan kepada Kakak? Dan Kakak sudah melihat semua tubuh saya, yang artinya Kakak setuju. Jika Kakak tidak setuju, saya akan mengatakan pada Kakek.”


“Dasar bocah gila!! Coba saja kalau kau berani!” sahut Nurbaya, menepis tangan pemuda itu dari lengannya, lalu meninggalkan Satria.


'Aku tak akan melepaskan mu, Kak. Tak akan! Bagaimana aku bisa melupakan semuanya, lalu menganggap kenangan? Ini baru saja dimulai!'


'Kau akan menjadi milikku, kau akan menjadi istriku.' gumam Satria dalam hati. Ia menatap tajam punggung Nurbaya yang telah pergi meninggalkan kamarnya.


**


Nurbaya berjalan sembari bersungut-sungut, mengomel-ngomel tak jelas. “Ada apa lagi?” suara Bi Mona menyentakkannya dari alam pikirnya.


“Tak ada.” jawabnya dengan bibir maju ke depan.


“Apa kau membuat masalah lagi dengan Tuan Muda?”


“Bu, bisa gak, sekali aja, tanyain yang lain. Atau tanya apakah Satria yang membuat masalah denganku? Kenapa selalu aku yang di salahkan?!” Protes Keras.


“Karna, kau sejak dulu usil padanya, dia itu Tuan Muda yang baik. Lagian, kau itu lebih besar darinya, dia itu adik yang sangat penurut padamu. Jadi, Ibu yakin, kau yang selalu mencari masalah dengannya.” ucap Mona sembari berlalu meninggalkan Nurbaya.


Aaarrgghhh!!! Nurbaya kesal, ia membuang nafas kasar berkali-kali.


'Coba saja, Ibu tau, betapa nakal dan usilnya Satria itu?'


Tak lama, ia pun tersenyum malu-malu, memegang pipinya yang terasa panas. Bukannya menemukan kekesalan saat mengingat ulah Satria, ia malah terbayang adegan ciumannya bersama.

__ADS_1


“Dasar bocah nakal, aku jadi ikutan gila seperti dia!” ucapnya senyum-senyum sendiri.


__ADS_2