
“Sekarang tinggal kita berdua di sini, apa Kakak ingin melakukan sesuatu?” tanya Satria dengan gelagat aneh.
Nurbaya tersenyum. “Ada.” jawabnya.
Ia hendak menjewer telinga Satria, pemuda itu cepat menangkap ke dua pergelangan tangan gadis itu. “Kakak mau main-main ya, sama aku?” Menatap ke dalam netra hitam milik Nurbaya.
Nurbaya pun menatap balik, tak mau kalah.
“Kakak sadar gak, kalau Kakak telah melakukan kesalahan dengan bermain-main seperti ini denganku.” Satria melepaskan kedua pergelangan tangan Nurbaya, lalu mengelus lembut pipi Nurbaya.
“Aku ingatkan pada Kakak, jangan sembarangan masuk di kamar seorang pria, apalagi melihat pria itu tanpa busana,” Berkata dengan senyuman mengejek.
Nurbaya mendengus. “Tubuh anak kecil sepertimu tidak membuatku tertarik juga.”
Satria terkekeh kecil. Lalu menangkup wajah Nurbaya dengan kedua tangannya.
Seeeerrr! Aliran darah Nurbaya mengalir dengan deras, debaran jantung berdetak tak seirama berkali-kali lipat. Tubuhnya terasa membeku.
Ia tak bisa melihat sesuatu apapun lagi, kecuali mata indah yang sedang tertutup dengan bulu mata panjang, serta alis tebal yang berbaris rapi seperti semut membawa makanan.
Hidung mancungnya yang menggelitik dengan hembusan nafas. Logikanya terhenti sesaat, yang ia rasakan hanya sentuhan bibir sexsy yang sensual, kulit telapak tangannya yang hangat bermain di leher dan pipinya.
Bibir yang di labuhkan Satria tepat di bibir Nurbaya, membuatnya berdebar hebat, ia pun memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat itu.
Semakin hari, pemuda itu semakin ahli, semakin menggairahkan dan mendebarkan. Kini, hati Nurbaya tergelitik penuh, menikmati ciumannya bersama Satria.
__ADS_1
Sesaat Satria melepaskan pertautan bibir itu. Namun, siapa sangka? Gadis yang kata Erian Erothophobia itu, kini tengah di masa candu. Dengan agresif nya, Ia menggelayutkan tangannya di leher Satria, lalu mengecup kembali bibir Satria, memiringkan kepalanya dengan sudut pas, hingga mereka berciuman dengan perasaan berdebar satu sama lain.
Entah berapa lama mereka berciuman hingga sebuah suara menganggu waktu mereka.
Toktoktok! Ketukan pintu.
Ceklek! Pintu kamar di buka.
Satria berjalan menjauhi Nurbaya yang berwajah merah padam, lalu memilih duduk di sofa.
“Apa Nurbaya sudah mengobati punggung, Tuan Muda?” tanya Bi Mona.
“Sudah Bi, Kakak mengobatinya dengan baik.” tersenyum melihat ke arah Nurbaya yang berdiri tegang di sana.
“Baiklah, Bi.” Satria mengangguk, Bi Mona pun beranjak keluar, begitu pula dengan Nurbaya.
Namun sebelum gadis itu keluar, Satria menarik tangannya. “Kakak tolong bantu aku dulu.” ucapnya.
Nurbaya terdiam. “Ya sudah, kamu bantuin Tuan Muda dulu.” ucap Mona, lalu wanita paruh baya itu berjalan pergi.
Seulas senyuman terkembang dari bibir Satria.
“Ambilkan pakaianku.” perintahnya.
Nurbaya mengambilkan pakaian baru, masih dengan debaran hebat di dadanya.
__ADS_1
“Lap punggungku dengan kain basah dulu.” perintah Satria lagi.
Nurbaya menurut saja, wajahnya masih merah padam. Apa yang terjadi tadi? Logikanya benar-benar sudah hilang.
Setelah Satria memakai baju baru, Ia kembali mengecup bibir Nurbaya cepat. “Lain kali jangan usil lagi.” Satria mengedipkan matanya, lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Nurbaya terpana sesaat, lalu buru-buru mengekori pemuda itu turun.
Menarik rambut belakang Satria. “Dasar mesum!” ucapnya, lalu berjalan cepat mendahului Satria dengan mendorongnya. Lalu berlari melewati meja makan dengan cepat.
“Nurbaya, apa lagi yang kau lakukan?” seru Bi Mona.
Ya, wanita paruh baya itu melihat dengan jelas Nurbaya menarik rambut belakang Satria, lalu mendorong kuat Tuan Muda itu.
“Aduh, Tuan Muda tidak apa-apa?” tanya Bi Mona.
“Tidak apa-apa, Kakak lagi kesal saja,” sahutnya.
Nurbaya berlari ke dalam kamarnya, membenamkan wajahnya di dalam bantal.
“Aaaaahhh!!! Siaaaal.”
“Malu-maluin banget, bocah itu benar-benar mesum, dia baru saja menciumku dan aku malah membalasnya. Aaaaaaah!!!!!” Memukul-mukul kasur yang tak bersalah.
***
__ADS_1