Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Telepon dari Nurbaya


__ADS_3

3 hari lagi adalah hari persalinan Melani. Akhir-akhir ini tekanan darah Melani selalu tinggi, hingga plasenta terganggu, Dokter menganjurkan untuk melakukan operasi.


“Sayang, Mama dan Papa akan segera datang ke Inggris. Mereka ingin menemani kamu bersalin. Setelah kamu melahirkan, kita akan menikah. Jadi, mereka memutuskan cepat kemari.” tutur Erian.


“Kalau mereka berdua kemari, bagaimana dengan perusahaan kalian?”


“Hm, mungkin Papa tidak akan lama. Selama Papa di sini, pasti Asisten papa bisa di andalkan.”


“Sayang, coba lihat kemari.” Erian mengeluarkan kotak kecil berwarna merah, lalu membukanya.


Di dalam kotak itu terlihat sepasang cincin yang cantik. “Will you marry me?” Setengah berlutut, bak seorang pangeran melamar seorang putri.


“Ahahaha. Apa-apaan sih!” Melani memukul lengan Erian pelan.


“Sayang, aku sedang melamarmu.” Memonyongkan bibirnya, usaha romantisnya malah di ledek Melani.


“Ok, I Will marry you.” Menjulurkan jari jemarinya. Erian tersenyum bahagia, lalu menyorong cincin di jari manis Melani mengecup jemari itu setelah memasangkannya.


“Aku jadi gak sabar,” Mengelus perut Melani.


“Gak sabar yang mana?” tanya Melani.


“Gak sabar nikah sama kamu dan bertemu anak kita.” Mentoel hidung Melani.


**


Sore hari, Melani dan Erian sama-sama tertidur.


Tiba-tiba, handphone Melani berdering sekali, hanya sebentar. Nada itu khusus ia buat, sehingga ia terlonjak saat mendengar nada itu. Bergegas ia raih handphone nya.


‘Nurbaya? Dia menelfon ku? Ada apa?’ Melani bergumam heran. Baru saja tadi ia mencoba menekan perasaan rindunya pada Nurbaya, kini wanita itu menelfonnya.


Melani menelfon kembali, nomor itu sibuk, ia terus menelfon berkali-kali, hingga panggilannya di jawab. “Hallo, apa kabar, Aya?” sapa Melani basa-basi.


Disebrang sana terdengar jawaban yang aneh.


‘Damn woman! catch her!’ Terdengar suara laki-laki dan langkah kaki berlari dengan nafas ngos-ngosan.


“Come on, Dear. Hide here,” Terdengar suara Nurbaya pelan setengah berbisik.


‘Hallo,’ Suara Nurbaya.

__ADS_1


“Hallo, kamu dimana Aya? Kok di sana terdengar berisik?” Melani bertanya cemas.


“Tolong telepon polisi Mel, aku tak tau di mana, tempat ini kumuh, sempit gelap, seperti bengkel u....” ucapan Nurbaya terhenti, terdengar suara ribut.


‘Damn it! Her called someone! Tut! Tut! Tut!’ Suara panggilan Melani dimatikan.


Melani bergegas duduk, memakai pakaian dengan celana, menghidupkan laptopnya, membuka kopernya, di sana ada sebuah chip. Ia tempelkan chip itu di Handphone Erian. Beberapa saat yang lalu saat ia membuntuti Nurbaya, ia juga sempat menempelkan chip di tas Nurbaya dengan terburu-buru. Ia melacak chip itu, berharap tas itu sedang berada ditangan Nurbaya.


Dari dulu, Nurbaya suka tas sligbag pemberian Ayahnya itu, itu adalah tas kebanggaannya.


Melani mengecup Erian sebelum pergi, Ia segera datang ke tempat chip yang terhubung dengan tas Nurbaya.


Tas itu tergeletak di jalan sepi, ia mengambil tas itu. Kemudian memeriksa isi di dalamnya, menelfon nomor yang tertera di kartu nama.


“Hallo, Satria?”


“Maaf, saya Sekretarisnya, saya berbicara dengan Ibu siapa, ya? Apakah Ibu sudah membuat janji dengan beliau?” sahut Sekretaris Dewa sopan di sebrang sana.


“Saya tidak membuat janji, tolong hubungi dia. Katakan saya menemukan tas Nurbaya di jalan Zegallo Gig. BIP!” Melani mematikan telepon itu secara sepihak.


Ia kembali menghidupkan laptopnya, entah apa yang diotak-atik olehnya, hingga ia menemukan beberapa titik bengkel. Ucapan Nurbaya terputus saat mengatakan bengkel.


“Apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah tadi dia aman? Tidak mungkin ini jebakan Satria, 'kan?” Melani mulai ragu, trauma akan masa lalunya. Saat ia dan Melina adik kembarnya masuk dalam jebakan.


“Apakah kali ini aku harus percaya pada laki-laki? Benarkah Satria dan Erian bisa dipercaya?”


“Lalu, jika bisa dipercaya? Kenapa Nurbaya bisa seperti ini? Apakah Satria melakukan perbuatan buruk padanya?” Mulai berpikir buruk kembali.


**


Melani menyusuri perlahan bengkel-bengkel yang ia search itu dengan berhati-hati. Hingga ia melihat bengkel ke tiga, di sini ada beberapa mobil yang tampak aneh, di jaga dengan beberapa orang bersenjata. Yang jelas ini bukan pangkalan militer, pikirnya.


Ia menelfon Erian, tak ada jawaban. Ia mengirim pesan, menyebutkan alamatnya, kemudian ia menelpon polisi. Ia masih bersembunyi, mengamati, namun ia tak bisa lagi bersembunyi saat melihat seseorang menarik rambut Nurbaya dengan kasar.


Ia langsung keluar memukul orang itu dengan tas yang berisi laptopnya. Terjadi perkelahian Melani dengan dua orang pria. Melawan dua orang itu Melani bisa menang, namun Sayang semua orang keluar dari sarangnya dan kini telah mengepung Melani, Nurbaya dan seorang anak kecil.


“Jangan takut, ada aku.” Melani masih percaya diri, ia menggenggam tangan Nurbaya, mengelus rambut Nurbaya yang sudah kusut di tarik paksa tadi.


Air mata Nurbaya mengalir, Ia takut sekarang, begitu banyak manusia yang menyeramkan dengan senjata, kini mereka berdua perempuan dan seorang anak kecil, apalagi keadaan Melani dengan perut besar. Ia sangat terkejut, ia belum pernah mendengar kabar Melani menikah.


Melani menghapus air mata Nurbaya di pipi. “Jangan menangis, jangan cemas.”

__ADS_1


“What do you want? Why did you hurt her?” ucap Melani menatap pimpinan manusia itu.


“Your life!” sahutnya lantang.


“Why?” tanya Melani lagi.


“Only the dead keep secrets (Hanya orang mati yang menyimpan rahasia)”


“Bracket and tie them! (Kurung dan ikat mereka!)” Perintah pimpinan itu kemudian.


Mereka bertiga ditarik paksa dan diikat, Nurbaya menahan tangisnya sampai gemetar, ia sangat ketakutan.


“Jangan takut, tenanglah, kita akan selamat.” Melani masih menenangkan Nurbaya yang ketakutan, sedangkan anak kecil yang bersama Nurbaya hanya diam.


Kring! Kring! Handphone Melani berbunyi saat anak buah pria itu mengikat mereka.


“Shit! She have this!” Orang itu langsung meraih Handphone di kantong celana Melani dengan paksa. Handphone itu langsung di lempar sampai hancur berkeping-keping.


Cuih! Orang itu meludah ke samping. Lalu, pergi meninggalkan 3 orang yang diikat itu.


Melani malah tersenyum melihat handphonenya hancur.


Tak lama, terdengar ledakan kecil dari ruangan lain. Melani bergegas menggesek rambutnya, “Gigit jepit rambutku, Aya.” pintanya.


Nurbaya melakukannya. Melani dengan cepat mencondongkan bibirnya ke bibir Nurbaya mengambil jepit, menjatuhkan kebahunya, ia sedikit menggerakkan tangannya.


Hap! Jepit itu tepat masuk ke telapak tangannya. Sepertinya dia sudah ahli dengan hal ini.


Ia menekan tombol bunga di jepit itu, muncullah ujung pisau kecil, ia potong tali tebal berwarna coklat itu, kemudian setelah ia lepas, ia juga membuka pengikat Nurbaya dan anak kecil itu.


“Mundur ke sana!”


Setelah Nurbaya mundur, ia menghitung langkah sampai 20 dari pintu ke dinding, kemudian ia ambil permen karet di kantong celananya, ia tempelkan di dinding itu, kemudian ia berlari ke arah Nurbaya.


Menghitung dari 1 sampai 10.


10! Bum! Dinding itu runtuh.


“Ayo!” Melani membawa Nurbaya dan anak kecil itu keluar.


***

__ADS_1


💓Kita main-main mafiaan dulu sebelum tamat, ya Satria Lovers, 😎💓


__ADS_2