Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Pergi ke Rusia


__ADS_3

Semua di tembak. Beberapa pengawal yang selamat terluka ringan dan parah. Sekretaris Dewa dan Asisten pribadi Arnel mendekati Satria dan Arnel yang terluka.


Mereka melakukan pertolongan pertama menghentikan pendarahan, Yuhen dan Satria telah di ikat lengan dan kakinya. Sedangkan Arnel dan Ronald telah memejamkan matanya.


Rido dan Istrinya memeluk histeris putra semata wayangnya. Hari yang penuh duka.


Satria dan Nurbaya Serta lainnya kerumah sakit. Sedangkan Aira dan Rido memakamkan Ronald dan Arnel.


“Karena kalian masih memiliki dendam, aku akan meladeni dendam itu. Akan aku pastikan membalas dendam ini sampai kematian menjemput.” Rido berkata dengan kemarahan yang membara.


Ia sangat marah, ia telah kehilangan menantu, lalu putra semata wayangnya serta sahabat karibnya, Arnel.


“Aku akan membalaskan kematian kalian.”


Aira hanya diam, dulu wanita itu akan marah, meminta suaminya dan sahabatnya itu tidak terlibat hal apapun. Kini, hatinya sangat hancur. ia bahkan membenci orang itu sampai ke urat nadinya.


**


Dua bayi laki-laki yang hanya selisih bulan sedang di gendong Nurbaya dan Bi Mona. Seorang anak laki-laki yang juga ikut menyentuh tangan dan kaki bayi-bayi mungil itu.


Yuhen, Rido, Aira dan Satria duduk di ruang tamu.


“Rawatlah cucu semata wayangku, bawa dia.” Rido berkata sembari menggenggam erat tangan Istrinya, menatap Satria.


“Aku akan menghancurkan dan menghabisi mereka semua. Jadi, aku berharap kau yang paling bisa merawatnya sekarang. Di sisiku, pasti akan bahaya untuk dia.”


Satria mengangguk.


“Pergilah ke Rusia. Kau tak aman untuk sementara ini di Indonesia, Inggris dan Korea. Kelompok mereka telah mengetahui alamat kalian yang di sana. Aku akan menjaga Nenekmu, dia adalah adik kesayanganku. Akan aku jaga dengan nyawaku.” ucap Yuhen.


“Aku akan memerintahkan Ruth dan pengawalnya untuk menjaga kalian di sana.” sambungnya lagi.


“Baiklah.” Satria parah. Hatinya sungguh sedih. Ia masih menyembuhkan hatinya atas kepergian orang-orang yang dekat dengannya, kini kepergian Kakek dan Bibinya Humaira menambahkan luka yang dalam.

__ADS_1


“Bolehkah aku bertanya pada Nenek dan Kakek,”


“Tanyakanlah apa yang ingin kau ketahui.”


“Apa ini semua salahku karena membuka kanai-kanai.” bertanya lirih.


Semua terdiam. Hingga Rido menjawabnya. “Bukan sepenuhnya salahmu, ini semua saling berkaitan. Kau memang melakukan kesalahan dengan membuka kanai-kanai.”


“Mereka sengaja datang saat keadaan terpojok, menjadikan kanai-kanai salah satu masalah. Ini semua hanya karena sebuah dendam.”


“Dendam?”


“Iya. Ini semua dimulai dari kakek buyutmu. Membunuh seorang ayah, lalu anaknya mendendam. Kami selama ini sudah mengalah, memberikan tanah dan uang seperti yang ia minta termasuk kanai-kanai.”


“Dulunya, kanai-kanai adalah tempat eksekusi, dimana ayahnya dihukum mati. Ia meminta menonaktifkan tempat itu, sebagai salah satu syaratnya.”


Satria melemah, artinya ia telah mengaktifkan tempat yang salah. Ini semua sungguh salahnya. “Ini bukan salahmu, ini hanya salah satu alasan bajing*n itu!” Rido menepuk pundak Satria.


“Bersiaplah untuk ke Rusia, katakan pada istrimu.”


***


“Tolong jaga cucu-cucu ku.” Aira memeluk Bi Mona dengan uraian airmata.


“Pasti, itu pasti, Nyonya. Jangan khawatir. Nyonya harus jaga diri dengan baik di sini.” balas Bi Mona.


Sekarang, Satria dan Nurbaya harus kembali pergi dan pindah keluar negri bersama kedua orangtua Nurbaya, dua bayi mungil dan anak kecil berumur 5 tahun. Aira melepas kepergian mereka dengan uraian airmata.


Yuhen memeluk Aira, “Kau ingat janjimu, 'kan? Sampai semuanya berjalan baik, kau harus tinggal di rumahku. Selly pasti bahagia sekali.” Membelai rambut Aira. Wanita tua itu hanya bisa pasrah dan mengangguk.


“Adikku yang cantik dan pintar.”


***

__ADS_1


Di mansion Rido.


Yuhen duduk di atas sofa dengan cerutunya.


“Kenapa kau datang kemari? Ada apa?” tanya Rido ketus.


“Ah, sambutanmu kasar sekali padaku.” sahut Yuhen.


“Sejak kapan aku pernah dekat denganmu?” Menatap Yuhen tajam.


“Dasar tua bangka pendendam.” balasnya terkekeh. Rido tak peduli.


“Aku akan membantumu.”


Rido menatap Yuhen. “Tenang, tak ada maksud lain dariku. Aku hanya ingin hidup Aira aman. Hanya itu saja.” Mengisap cerutu nya, “Jika mereka mati, pasti Aira aman.”


“Baiklah kalau begitu.”


Mereka pun diskusi. Mulai merencanakan pergerakan.


**


Bawahan Yuhen bersama dengan Ridho dan bawahannya membantai semua orang. Pembantaian itu terdengar oleh kedua anak Dimitri. Mereka juga membantu pembantai itu.


“Siapa kau?” Rido menodongkan pistol dikepala seorang gadis cantik berpakaian seksi. Pengawalnya juga mengarahkan pistol ke arah Rido, begitupula bawahan Rido mengarahkan pistol pada mereka.


“Tenang, om. Aku putri sulung Dimitri. Aku hanya membantu orang yang telah menyelamatkan adik bungsuku.”


“Selama ini kami bersembunyi, perkenalkan aku Kheiza Elia Dimitri, Om.”


Rido menurunkan senjatanya.


***

__ADS_1


Hai, hai Satria Lovers 💓💓🌹


Masih main mafia-mafiaan😆 beberapa bab lagi tamat.💓


__ADS_2