Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Kacau


__ADS_3

Matahari menampakkan kegagahannya, beberapa pejalan kaki berjalan bergegas agar sampai ditempat tujuannya, tak ingin terpaan panas menerpa badan, begitupula dengan kendaraan yang hilir mudik yang tak ingin dilanda macet ditengah terik yang panas ini.


Mata Satria menyipit, karena cahaya matahari yang panas menyilaukan mata. Ia sedang duduk di tepi jalan, di sebuah kedai kecil di samping kedai kecil tambal ban. Ia duduk meminum air mineral dingin yang dibelinya pada penjual di kedai itu.


Sedangkan Pak Hamdan bercerita ringan dengan penambal ban. Bagaimana tidak, jarang sekali mobil keren yang ia tambal. Biasanya, Pak Hamdan juga langsung menelfon orang bengkel, atau langsung mengganti ban. Namun kali ini Satria meminta di tambal di sini.


Satria sejak tadi berwajah masam, Pak Hamdan pun tak ingin banyak komentar dan menuruti keinginan Tuan Muda itu. Setelah bannya di tambal, Pak Hamdan duduk di samping Satria, memberitahukan kalau ban sudah ditambal.


Satria masih diam, menatap lurus ke depan, melamun.


“Tuan Muda,” panggil Pak Hamdan sopan.


“Apa Tuan Muda ada masalah?” tanya Pak Hamdan.


Tak ada jawaban, hanya terdengar helaan nafas.


“Sebenarnya hari ini aku akan menyelesaikan semua urusan, karena lusa aku akan pergi ke Sumatra dengan Istriku...” Ia menghela nafasnya. “Gara-gara dia, pikiranku jadi kacau,” katanya, Ia memijat pelipisnya.


Pak Hamdan menepuk pelan pundak Satria. “Tuan Muda sudah dewasa dan hebat, sudah bekerja keras selama ini, jangan hanya karena masalah sepele, apalagi orang lain yang tidak berarti, jangan biarkan itu mengganggu pikiran. Bukankah selama ini yang terpenting adalah Nona Nurbaya, lebih baik Tuan Muda memikirkan rencana ke Sumatra, mau melihat apa saja, beli apa, menginap dimana dan lainnya.” tutur Pak Hamdan sembari menepuk-nepuk pelan pundak Satria.


Satria menoleh pada Pak sopir paruh baya itu, lalu tersenyum. “Makasih, Pak.” ucapnya. Pak Hamdan juga membalasnya dengan tersenyum.


Beberapa saat suasana hening, sedangkan Baron dan Jaka sudah mulai bosan dan kepanasan. Kedai kecil tempat Satria duduk sekarang telah tersinari matahari yang mulai condong menyinari setengah tempat duduk di kedai itu.


“Tuan Muda, kemanakah tujuan kita sekarang?” tanya Pak Hamdan, Ia kasihan melihat Jaka dan Baron seperti cacing kepanasan, menggeliat kesana kemari, berkipas dan minum air dingin.


Mereka bisa saja duduk santai di dalam mobil dan menghidupkan AC, namun Tuan Muda mereka duduk di sebuah kedai di tepi jalan, itu adalah tempat yang berbahaya menurut mereka.


“Aku ingin pulang.” Satria langsung berdiri, berjalan mendekati mobil, bergegas Pak Hamdan mensejajarkan langkah, mendahului untuk membuka pintu.

__ADS_1


Setelah pintu di buka, Satria langsung masuk dan duduk bersandar. Baron dan Jaka pun juga masuk ke dalam mobil mereka, mengiringi mobil Pak Hamdan.


Waktu pun terus berlalu, hingga mereka pun sampai di rumah.


Kepala Pelayan yang sedang makan dengan santai terkesiap, ia segera mencuci tangannya, terburu-buru menyambut Satria yang pulang sangat awal dari biasanya.


Kepala Pelayan membuka sepatu Satria. Sedangkan pemuda itu bersandar di kursi, kepalanya menengadah ke atas dengan tangan bertumpu di kening. Pemandangan yang tak pernah di lihat Kepala Pelayan selama ini.


Setelah melepas baju dan jas, Satria berjalan dengan sandal rumah ke atas, masuk ke dalam kamar. Ia berjalan sambil melepas kemeja, lalu mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar, Nurbaya tengah tertidur lelap, sehingga tak tau jika Satria pulang.


Pemuda itu berendam lama dibathup dengan aromaterapi yang ia suka. Ia pejamkan matanya, berpikir, berpikir dan berpikir.


Entah berapa lama ia berendam hingga suara ketukan pintu dari luar membuyarkan semua yang dia pikirkan.


“Apa kau masih lama? Aku ingin buang air kecil.” Satria tersenyum kecil. Entah kenapa, mendengar suara itu, membuat semua pikiran yang menyakitkan kepalanya hilang.


“Buka saja, tidak aku kunci.” sahut Satria.


Nurbaya membuka pintu kamar mandi. Langsung masuk ke ruangan kecil di belakang Satria, Ia duduk dan melamun sembari buang air kecil.


Entah kenapa, Satria tiba-tiba saja keluar dari bathup, melihat Nurbaya yang buang air kecil.


“Hei, apa yang kau lakukan? Pergi sana!” usirnya malu.


“Kamu malu? Untuk apa malu, aku sudah lihat semuanya juga kok.” senyuman menggoda jelas terpampang di wajahnya sekarang.


Nurbaya segera menekan tombol untuk cebok, ia bergegas memakai celananya kembali. “Gara-gara kamu, pipisku keluar setengah.” ucapnya sewot.

__ADS_1


Satria malah terkekeh, Ia yang hanya memakai celana dal*m itu masih saja menatap Nurbaya. Ia menarik tangan Nurbaya, membawanya masuk ke dalam bathup, sehingga pakaian Nurbaya basah semua.


“Kau!” Nurbaya melotot kesal.


Satria memeluknya erat, meletakkan keningnya di pundak Nurbaya. Diam, tak ada suara. Nurbaya mengelus rambut Satria. “Kamu kenapa? Apa kamu ada masalah? Kenapa pulang cepat?” tanya Nurbaya lembut, masih mengelus rambut Satria.


“Sedikit. Tenang saja, aku akan menyelesaikannya.” jawabnya, Ia masih memeluk erat Nurbaya.


“Apakah lusa kita jadi pergi?”


Satria mengangkat kepalanya, menatap wajah Nurbaya. “Jika ada masalah, selesai kan dulu, tak apa-apa. Kita bisa esoknya lagi bulan madu, aku tak ingin kamu memaksakan diri.” Mengelus wajah Satria.


“Aku tak ingin kamu kenapa-kenapa, apalagi sakit karena kelelahan.” sambung Nurbaya lagi.


Satria tersenyum, “Iya, Sayang. Jangan khawatir, aku baik-baik saja.” Ia mencium kening Nurbaya.


Setelah mencium kening itu, tangannya mulai nakal, Ia mulai meraba paha, tangan satunya lagi ia masukkan ke dalam baju yang sudah basah itu.


Ia lalu menciumi bibir, leher dan memainkan tangannya di tubuh Nurbaya. “Aku butuh obat penenang.” ucapnya. Ia langsung berdiri, mengeluarkan Nurbaya dari bathup.


Kembali menciumi bibir Nurbaya, tangan Satria pun terus menjelajah sampai melepaskan semua pakaian basah yang melekat di tubuh Nurbaya, Kemudian Ia langsung menggendong Nurbaya ke atas ranjang.


“Oh, obatku. Sekarang tenangkanlah aku.” ucapnya berbisik, mengelus wajah dan rambut Nurbaya.


“Obati aku,” katanya berbisik dengan mesra. Gigitan kecil di telinga Nurbaya sangat menggoda.


“Nikmati suntikan semangatku, Sayang.” balas Nurbaya tersenyum menggoda, ia menggelayutkan tangannya di leher Satria yang berada di atas tubuhnya, lalu mengecup bibir Satria.


Adegan panas mereka pun berlangsung dengan posisi Nurbaya yang lebih agresif dan menantang. Satria bahagia luar biasa, pikirannya yang kacau balau tadi sirna sudah.

__ADS_1


__ADS_2