
“Jika om mengizinkan, izinkan kami membantu dan bergabung. Kami juga memiliki dendam yang sama dengan mereka semua. Seluruh keluarga kami dibunuh.” ucap Khezia.
_____
Beberapa bulan pertarungan di Belanda, Korea, dan Inggris terjadi sengit. Pertumpahan darah yang tak bisa dielakkan. Ridho bersama para pengikut menghancurkan semua sarang mereka tanpa ampun, membawa seluruh dendam atas kematian menantu, anak dan sahabat karibnya, Arnel.
Semua ketua kelompok mereka sudah habis, tersisa ketua utama, pria yang sulit di lacak keberadaannya.
Atas bantuan Yuhen melacak, keberadaan pria itu pun di ketahui. Indonesia adalah tempat terakhir Ridho berhenti. Tepatnya di sebuah pulau di daerah Bali. Ia mengepung sebuah rumah. Seorang kakek tua tersenyum santai, menghisap cerutunya walaupun rumahnya telah bersimbah darah, semua pengawalnya sudah habis. Ruslan Buntoro nama lelaki itu.
Di pojok sana, seorang wanita yang masih terlihat muda menutupi tubuhnya yang polos dengan handuk. Ia memeluk dua orang anak berumur 7 tahun dan 2 tahun.
“Apa dia juga istrimu, buaya lapar?” Rido meletakkan pistol di keningnya.”
“Tak ku sangka kalian menemukanku juga.”
“Bos, di sini ada bom.” teriak seseorang.
Ridho menembak kepala Ruslan tanpa ampun. Lalu keluar bersama. Mereka menanti diluar, menunggu rumah itu meledak namun tak kunjung meledak. Kemudian yang mereka dengar adalah suara tangisan pilu. Mungkin saja lelaki tua itu telah tiada.
“Periksa!” perintah Khezia. Mereka kembali masuk dan melihat.
Benar saja, bom itu hanya tipuan, Ruslan di peluk oleh wanita cantik itu, ke dua anaknya menangis histeris. Khezia mendekat.
“Aku tak akan membunuhmu dan putramu. Kami disini semua memiliki keluarga, dia yang telah membunuh orang tuaku, membunuh sanak saudaraku, membunuh menantu, teman dan anak Paman itu.” Menunjuk Rido.
“Kita di sini sama-sama hancur. Pergilah, selamatkan dirimu dan kedua putramu.”
__ADS_1
Putra pertamanya menatap Khezia tajam, penuh kebencian.
***
Semuanya benar-benar telah berakhir setelah kematian Ruslan Buntoro. Tak ada lagi pertumpahan darah.
Aira kembali ke rumahnya, memimpin perusahaan Damrah Groub bersama Asisten pribadi Arnel yang setia. Sekretaris Dewa juga menggantikan Satria menjalankan perusahaan Hardwork Groub bersama teman barunya, Khezia Elia Dimitri sebagai asisten pribadinya. Wanita cantik nan kuat.
***
Hari-hari terus berlalu, Aira dan Rido bersama istrinya mengunjungi Satria dan Nurbaya ke Rusia di waktu luang mereka. Walaupun sudah aman, penjagaan Satria dan Nurbaya masih ketat, begitupula Aira juga di jaga ketat oleh bawahan Yuhen.
Tak terasa Ken sudah berumur 8 tahun, Ethan anak Melani sudah berumur 3 tahun, Valdo Zeno anak Humaira juga hampir berumur 3 tahun.
Pagi ini seperti biasa, Satria akan cemberut, cemburu pada tiga bocah laki-laki itu. Nurbaya akan sibuk memandikan, memberi makan mereka, Satria selalu diabaikan.
Terlebih Ken, bocah laki-laki itu persis seperti dirinya waktu kecil. Jika Nurbaya keluar, anak itu bisa mandiri, contohnya seperti sekarang. Bi Mona dan Nurbaya keluar membeli sayuran. Tinggalah Satria menjaga 3 bocah laki-laki itu.
“Mama, Ken lapar.” Merengek manja. Satria sampai mendengus. Ia sedang menonton dirinya sendiri waktu dulu juga begitu, cari perhatian.
“Tadi kau bisa membuat susu sendiri, kenapa sekarang merengek.” ejek Satria.
“Apa?! Kau biarkan Ken membuat susu sendirian? Papa seperti apa kamu ini!” Marah.
“Sayang, bukan begitu maksudku.” Mencoba membela diri.
“Ayo, Sayang. Mama akan buatkan makanan kesukaanmu.” Nurbaya menggendong Ken. Mengabaikan Satria. Bocah laki-laki itu menatap Satria lalu tersenyum mengejek.
__ADS_1
“Mama Ethan juga mau di gendong.”
“Mama Valdo juga.” Merengek cemburu melihat Ken di gendong.
“Ya udah, sini gendong sama Nenek dan Kakek.” Bi Mona menawarkan diri.
“Gak mau, maunya sama Mama.”
Nurbaya menurunkan Ken. “Kalau Mama menggendong sekali tiga, nanti pinggang mama bisa patah.” Berwajah menghiba.
“Tidak, kami tidak jadi di gendong, Mama buatkan kami nasi goreng keju, ya.” jawab Ken, lalu mengelus kepala dua adiknya.
“Iya, 'kan?” Menatap dua bocah itu tajam. Kedua adik laki-laki nya langsung mengangguk setuju dan patuh.
Satria tersenyum kecil, Ken memang bisa memimpin. Dia bangga sebenarnya.
Setelah selesai memasak, Nurbaya langsung duduk, wajahnya terlihat lelah, pucat. Satria, Ken dan kedua putranya yang kecil itu langsung memeluknya.
“Pa, ayo kita bawa Mama ke rumah sakit.” Ken langsung merengek pada Satria.
“Iya, tapi bahaya kalau kalian ikut. Kamu harus jaga kedua adikmu, ya.” Satria mengelus kepala Ken. “Baik-baik di rumah bersama Nenek dan Kakek,”
“Iya, Pa.” Patuh.
Ruth mengawal Satria dan Nurbaya ke rumah sakit.
“поздравляю, вы беременны (Selamat, Anda hamil)” ucap Dokter tersenyum.
__ADS_1
Bertahun-tahun menunggu dengan sabar, kini harapan mereka pun terwujud. Satria dan Nurbaya saling peluk, menangis haru. Bahagia!
***